Welakaweng

Entah apa nama Bahasa Indonesianya, nama latinnya pun tak bisa saya pastikan, namun tanaman ini sepertinya termasuk dalam keluarga lantana camara. Di beberapa daerah ada yang menyebutnya bunga centeda ada yang menyebutnya bunga tembelek.WelaKaweng adalah nama lokal, bahasa Manggarai di Pulau Flores tempat aku berasal. Wela berarti bunga, kaweng ya nama si bunga. Bagi saya welakaweng terdengar ear catching, merdu di telingaku. Subyektif mungkin, karena aku punya cerita, inspirasi atau semacam filosofi tersendiri tentang si kaweng.

Bunga cantik yang tumbuh liar ini menjadi keindahan di masa kecil kami tahun 1980-an. Kaweng si cantik dengan kumpulan bunga-bunga kecil berwarna-warni membentuk lingkaran atau setengah lingkaran. Jarang sekali (hingga sekarang) yang menjadikan tanaman ini tanaman hias di rumah. Lebih sering bunga tropis ini tumbuh liar. Kami sering mengambilnya dan meronce untuk mahkota saat bermain putri-putrian, juga menjadi kalung atau gelang. Bijinya bisa dimakan saat sudah berwarna kehitaman. Demikianlah kaweng sama seperti si bunga pa’it, daun parasite, rumput-rumput liar menjadi bagian yang melekat di hidup masa kecil kami.

Bertahun-tahun tak berinteraksi dengan si welakaweng saya mendadak rindu ketika melihat tanaman ini menjadi hiasan di salah satu hotel besar (saya tidak ingat di mana). Si kaweng tampak cantik dan naik kelas. Ketika mama saya lumpuh seorang kerabat di kampung menganjurkan teh daun kaweng untuk mengurangi nyeri, saya berikan itu. Konon tanaman ini juga bisa dibuatkan lotion anti nyamuk, obat asma, dan kecantikan kulit.

Lepas dari kasiat bagi kesehatan fisik, bagi saya si welakaweng adalah keindahan meski tak terlalu popular. Ia tumbuh sendiri, tetap cantik meski tak dirawat khusus, ia sangat cantik terutama jika kita berhenti dan menikmati…..

Begitulah. Ada banyak keindahan di sekitar kita. Sebagian besar baru disadari jika kita berjalan-lan pergi ke alam atau ketempat biasa namun kita berhenti dan menyimak. Bisa juga menjadi sesuatu yang berarti ketika kita pergi ke komunitas lain dan melihat sesuatu yang biasa diperlakukan sebagai sesuatu yang sangat istimewa….

Mari berjalan-jalan, berhenti sejenak dan menyimak. Si welakaweng dan hal sederhana lain akan menjadi sangat berarti. Keluarga kami

Keluarga Ngencung

Fransiska Jehaun
(Mama Lila)

Leonardus Nyoman
(Papa Leo)

Rosmaria Bintang Leonardus
(Kaka Oca)

Yehezkiel Awang Paska
(Adik Iel)

Tanta Nita

Tanta Yulin