TIDAK APA-APA, DIA SEMPURNA

Tidak ada manusia yang sungguh-sungguh sempurna seperti halnya tidak ada manusia yang sungguh-sungguh tidak sempurna. Pada Cinta tulus sempurna dan tidak sempurna berubah menjadi sebuah kesempurnaan.

Pagi Senin, semua terburu-buru.
Berusaha sehening mungkin aku bangun menyiapkan diriku sendiri dengan harapan saat Si Sulung bangun aku sudah siap. Gosok gigi, mandi sekedarnya, berbedak dan mengenakan pakaian kantor. O, ya, minum empat gelas air. Wajib itu, biar tetap awet muda. Dua puluh menit kemudian menuntun Si Sulung yang masih setengah tertidur ke kamar mandi. Pipis, cuci tangan, minum air, itulah rumus penting ala Mama.
“Kenapa setiap pagi harus pipis, cuci tangan dan minum air ? Anak-anak lain tidak harus melakukannya!” Protesnya sekali waktu.
Penjelasanku singkat : “ Karena mereka bukan anaknya Mama Lila !”
“Ooooo !” untung hanya itu reaksinya. Menghemat waktu

Masih mengawasi Si Sulung dengan was was karena dia sempat mengelamun (atau berhayal atau apalah namanya…) saat menggosok gigi dan mencuci muka, saat Si Bungsu bersuara dari tempat tidur. Aku tahu apa artinya. Buru-buru mengisi dot dengan air hangat dan susu, kocok-kocok dan memasukan ke mulut pria kecil yang mencuap-cuap persis anak burung, sambil tentu saja sambil tangan yang lain memluknya. Sementara itu pidato jalan terus. :
“Kaka, cepat gosok gigi, air minum di atas meja. Habiskan ya… !”
“Kaka, ayo dong cepat, hari ini kan upacara bendera… seragam di tempat tidur! Buku sudah dimasukan ? Binder tak usah dibawa… e, iya nanti bawa bekal roti dan teh…!” Bla..bla bla

Berharap si jagoan bungsuku kembali bobo selepas menghabiskan 120 ml susu, saya tak berdaya saat mata bagusnya terbuka memandangku, tersenyum dan mengucap salam “gut moning Mama Lila !”

Perdebatan dan kadang pertengkaran pagi berlanjut. Si Noma Sulung protes kenapa selalu membawa bekal dari rumah, kenapa tidak uang jajan saja. Mama Lila protes kenapa dia terlalu lambat atau sering melamun saat makan, kenapa tidak berhenti bercerita tentang mencari kerang di pantai atau menundanya sampai pulang sekolah. Haaahhh akhirnya selesai, ritual pagi rampung dengan kecepatan agak tinggi.

“Doa dulu !” aku mengingatkan (tepatnya memerintah) sambil jalan. Anakku membuat tanda salib. “Sudah!” lapornya. Kami naik sepeda motor. Si bungsu yang digendong Tantenya berteriak ingin ikut.
“Nanti ya sayang, Mama antar kakak dulu…!

Di tengah jalan si sulung membuat kesal.
“Maaa, topiku ketinggalan !” Malas berbalik, aku memberi reaksi membujuk,”Enu …biar hari ini tak usah pake topi ee..!”. Thanks God dia berkompromi. Entah bagaimana menghadapi gurunya nanti.

“Daaaa Mamaaa.. !” dia turun dari motor.
“Daa sayaanngg! Jangan lupa minum air !”
Sesudahnya aku terdiam. Berbalik dari keadaan sebelumnya aku tiba-tiba ingin menenangkan waktu, sejenak tak mau terburu-buru. Tak berkedip memandang punggung anakku melangkah riang menenteng tasnya yang cukup berat untuk anak berusia enam tahun tujuh bulan. Rambut keritingnya mengembang melambai-lambai.

“Dia sudah besar!” hatiku bergumam kagum.
Aku masih tak beranjak, berniat melihatnya berbelok ke arah kelas.
“Dia sudah pakai seragam… bahkan sudah setahun lalu si nona kecilku sudah pandai membaca. Rambutnya menari-nari, roknya berayun-ayun. Terus memandanginya.

Enam tahun dan tujuh bulan yang lalu, dia lahir. Beratnya hanya 2,4 kg. Aku sendiri maklum, selama hamil aku kekurangan nutrisi karena mabuk. Hyperemesis, kata Bidan. Apa yang masuk ke mulutku akan keluar lagi. Aku bahkan sempat dirawat di rumah sakit karena nyaris dehidrasi. Kupeluk anakku yang lahir dini hari pukul 0.45 itu. Dia yang lahir dengan bibir sedikit sumbing, sama seperti aku ibunya. Suamiku tiba dari luar kota (anakku lahir dua minggu lebih awal dari hitungan matematis), masuk memelukku yang agak marah karena dia tak ada di sisiku saat aku bertarung antara hidup dan mati. Bayi itu dipangkunya sepanjang malam dan berulang memeluk, menciumnya dan berkata,”Dia sempurna..!”

Hari-hari berlalu. Kami bahagia tetapi ada bagian perasaanku yang kacau. Aku bersyukur air susuku melimpah dan bagus sehingga anakku tumbuh pesat dan sehat. Di sisi kecil hatiku aku merasa bersalah memandang wajah anakku. Ini semua salahku, keadaaanku terwaris padanya ditambah aku tidak berjuang sangat keras melawan mabuk hamilku. Aku tidak mau bertahan mengkonsumsi makanan bergizi saat aku muntah-muntah tanpa henti. Aku menyesal telah menyerah pada mual muntah itu. Aku kerap merasa sesak, terbangun malam dan selalu ingin menangis. Aku tidak bisa mendefinisikan arti perasaanku. Mungkin itu tangis karena merasa bersalah. Mungkin juga ada unsur sakit hati kalau ada satu dua kerabat berkunjung dan berkomentar soal bibir anakku (mungkin mereka tidak bermaksud menyakiti tetapi rasanya tetap tak enak). Pada saat itu suami dan ibu mertuaku menjadi orang yang terpenting dalam memulihkan perasaanku.
“Dia tidak apa-apa, lihat dia cantik dan sehat. Dia sempurna !” Berulang-ulang suamiku mengatakan itu dan selalu dengan tulus. Dia tak merasa ada yang salah. Suamiku bangga pada puteri kami. Suamiku berterima kasih padaku karena melahirkannya dan lalu mengurus kami berdua, aku dan bayi kami itu dengan sangat baik. Persis suamiku, almarhumah ibu mertuaku juga demikian. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu sama : “Wua tuka…” . Selebihnya adalah mencium, memeluk, menunjukkan air muka bangga dan bahagia. Suami dan ibu mertuaku mengantarkan si kecil imunisasi dan mengajak si bayi berbicara. Ibu dan anak itu kompak lahir dan batin bereaksi bahwa bayiku tidak apa-apa, dia sempurna.

Bayiku bertambah besar dan sangat sehat berkat asi yang berlimpah dan berkualitas. Dia montok, lucu dan benar-benar lucu. Dia mendapat banyak hadiah dan kasih sayang. Namun perasaanku belum sungguh-sungguh pulih. Aku menangis saat kesayangku yang masih 4 bulan itu menjalani operasi bibir.
“Berat badannya bagus, dan ia sehat !” demikian dokter berkata.
“Tidak apa-apa, ini hanya operasi kecil, seperti menjahit luka!” berulang-ulang aku mendengar kalimat itu. Saat bayiku harus berpuasa aku stres. Sepanjang malam aku tak bisa tidur, aku mual dan muntah-muntah. Air mata mengalir deras di pipi saat pagi hari si kecil mencari-cari sumber makanannya di dadaku. Menjelang siang buah hatiku masuk ruang operasi. Air mataku tak bisa berhenti. Suamiku yang memang selalu tenang terus berkata: “tidak apa-apa…!”
Tiga puluh menit kemudian si cantik manisku keluar dugendong perawat, memeluk boneka kecil. Dia benar-benar baik adanya, tidak apa-apa

Seminggu berlalu. Oca pulih. Dia seperti puteri berbaju biru di dalam kereta tidurnya yang cantik. Tumbuh sehat dan selalu nyaman dalam sarung neneknya, dibuai-buai oleh paman bibinya. Oca bertumbuh menjadi anak yang sangat pintar. Usia dua puluh bulan dia akrab dengan alphabet. Aku bangga padanya tetapi tak pernah berhenti mencemaskannya.

Tiga tahun kemudian Oca harus dioperasi lagi kedua kalinya (operasi harus bertahap karena mengikuti perkembangan anak). Kali ini puasa menjadi lebih sulit karena dia sudah pandai berbicara. Saat berjalan-jalan di halaman rumah sakit yang dipenuhi tanaman jambu, anakku berkomentar terus tentang enaknya buah jambu itu. Saat itu perasaanku benar-benar tak enak. Untungnya badai selalu berlalu. Perawat membuatku the hangat dan Oca tidak lama di ruang operasi.
“Tidak apa-apa, minumlah !” wajah ramah perawat bak malaikat.
Oca keluar dari kamar operasi dengan memeluk boneka. Anakku hebat

Tahun berlalu cepat. Peristiwa operasi itu dalam banyak hal telah mengubah hidup kami. Kami sekeluarga menjadi sangat peduli dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Kami menjadi bagian keluarga besar rumah sakit tempat Oca dioperasi. Rumah sakit itu memang dikhususkan untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan fisik khusus termasuk rehabilitasi mantan penderita kusta. Rumah sakit rehabilitasi itu dilengkapi dengan bengkel kerja bagi orang dewasa berkeadaan khusus sehingga mereka bisa menghidupi dirinya sendiri. Rumah sakit rehabilitasi penyandang cacad St. Damian menjadi tempat penting dan instimewa bagi keluarga kami. Berkunjung rutin dan merayakan ulang tahun bersama penghuni rumah sakit. Oca mengajak sepupu-sepupu ke sana bahkan Ia tidak keberatan makan satu piring dengan anak yang kulit wajah dan tangannya rusak karena kebakaran. Berbagi permen dengan gadis lain yang bertangan buntung, berbicara layaknya teman dengan seorang nona yang tak punya tangan dan kaki. Beberapa kali Oca menyerahkan celengan untuk teman-temanya di sana.

Oca tumbuh sempurna. Sehat, nakal dan manja seperti anak-anak pada umumnya. Anakku telah menjadi manusia yang pintar, menggemaskan dan sangat murah hati. Dia tidak apa-apa dan dia sungguh sempurna.

Punggung Oca anak sulungku yang cerdas dan baik hati itu sudah tak nampak. Dia telah bergabung bersama teman-temannya menyanyikan Indonesia Raya. Lamunanku buyar. Aku membalikan sepeda motorku. Si nomor dua yang tampan dan pintar berdiri dekat gerbang, menanti giliran berputar keliling kompleks tempat tinggal kami sebelum aku berangkat kerja.

Langit pagi itu agak mendung, tetapi matahari bersinar di hatiku. Sungguh aku penuh berkat menjadi ibu anak-anak yang sempurna.

(Saat menyalin kembali tulisan ini anakku telah berusia 11 tahun, 
berprestasi di sekolah, dan pandai bermain musik. 
Mendadak aku kangen dengan ibu mertuaku almarhumah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *