Riung, Di puncak pulau Rutong

TAK MEMBUAL: RIUNG MEMANG SPEKTA

Kata beberapa teman, saya punya bakat storytelling. Mungkin iya karena nyatanya saya memang suka dan sangat sering bercerita; lepas dari cerita itu enak didengar atau tidak. Saya baca buku dan menceritakannya kembali. Pergi ke mana pasti saya umumkan melalui cerita-cerita saya. Kadang-kadang saya mengarang cerita sendiri, atau membuat rumusan baru untuk cerita dari buku atau kisah pengalaman suami saya. Cerita macam itu suka saya bumbui, saya lebih-lebihkan dan atau saya kurangi sesuai kepentingan saya.

Anak saya menilai bahwa Mama Lila- nya tukang pamer. Pergi ke mana, makan apa, ketemu siapa, pake baju apa semuanya di-upload ke ef be. Beberapa teman dekat bilang saya agak sombong meskipun kata ‘sombong’ ini ada ekornya yakni ‘tapi sombongnya asyik’ (tak jadi tersinggung he he he). Makan puji. Tak usah risih. Makin bertambah usia, puji Tuhan saya makin menerima diri koq. Bagian diri yang ‘kurang asyik’ juga saya akui bahkan sesekali mentertawakannya. Salah satunya adalah kecenderungan ‘joak’ (Joak: bahasa Manggarai Flores yang kira-kira berarti omong besar dan banyak, membual, melebih-lebihkan, membumbui. Kadang bernada negatif, kadang bermakna lucu-lucuan) dan suka pamer. Yang saya maksud suka ‘joak’ (ini kata yang lebih jujur dari ‘storyteller’) adalah kadang-kadang saya tak tahu persis suatu kejadian atau tentang suatu tempat. Saya tertarik dengan cerita itu dan mulai mengisahkannya kembali seolah-olah saya adalah pelaku atau saksi matanya. Contoh jelasnya begini : Waktu itu saya belum pernah ke Riung. Suami saya sering cerita tentang Riung, mata air So’a, tentang rumah tradisional Ngada dan sekitarnya. Meskipun cara bercerita suami saya datar dan kaku seperti diktat tapi nyatanya informasi itu sangat menarik. Saya melanjutkan cerita itu secara lisan ke atau pakai medsos. Cerita nampak valid karena saya meminjam foto-foto yang dibuat suami saya. Untuk cerita lisan meskipun saya tidak harafiah bilang ‘saya ke sana’ tapi cara saya bercerita memang sengaja saya racik sedemikian rupa agar terdengar valid. Kecenderungan jaga gengsi juga bagian dari kelemahan saya terutama berkaitan dengan pengetahuan tentang keindahan Flores.

Meskipun tak ada yang langsung komplein, lama-lama saya malu dengan diri sendiri. Saya sudah publikasikan Riung sedemikian rupa dengan lampiran data dan foto akurat tetapi saya belum pernah mencium hawanya atau menghirup aroma lautnya. Sebelum terlambat saya mulai pasang agenda untuk ikut ke Riung. Hasilnya : saya melupakan gengsi dan rasa bersalah yang menjadi motivasi awal. Yang saya rasakan di hati, pikiran, panca indera , dan perasaan adalah : RIUNG SANGAT FANTASTIS. Kali ini saya tidak membual. Sebagai barang bukti jangan lupa liat foto-foto Riung yang ada saya – nya ya ha ha ha.

Akhir pekan waktu itu (tahun 2016) jadi panjang karena liburan Idhul Adha jatuh pada jumad dan sabtu. Sebetulnya mau di rumah saja, tetapi tergoda oleh rencana suamiku yang akan mengadakan semacam inspeksi rutin destinasi. Boleh saya ikut ? Boleh ? Boleh Ngajak teman ? Boleh. Beberapa teman saya ajak tetapi yang berhasil ikut hanya Ibu Mercy. Kami bertiga pun jalan. Hanya bertiga tapi rame-nya macam berenam.

Ruteng – Aimere : nyaris batal karena angin kencang sejak dua hari sebelumnya belum reda. Anak saya Oca juga agak tak enak badan. Dasar anak-anak baik seluruh penghuni rumah memastikan bahwa mereka akan baik-baik saja. Mama Lila boleh ikut pergi menemani Papa Leo. Mungkin mereka juga senang sesekali lepas dari banyaknya aturan hidup dari Mama (mama di seluruh dunia banyak aturan kan ?). Bersyukur sampai di Manggarai Timur angin kencang reda. Diinfo dari Ruteng juga demikian. Trims Tuhan, minimal perasaan bersalah meninggalkan anak juga mereda.

Karena berangkat siang an, etape awal agak ngebut. Kami baru berhenti di pantai Aimere (masuk wilayah Ngada). Kami bertiga menyantap dengan nikmat makanan yang disiapkan teman Mercy (thanks ya). Nasi pulen, ayam dan mi goreng, buncis hijau segar dan sambal . Setelahnya kami mulai sering berhenti karena banyak hal yang menarik. Tebing, urat-urat pegunungan, gunung berapi, bunga-bunga liar (saya suka bunga pa’it yang mirip bunga matahari), penjual manga, rumah penduduk. Sempat membeli banyak mangga.

Saya pernah ke kota Bajawa sebelumnya tapi tak terlalu menikmati karena mabuk. Kali ini sungguh nikmat jalannya. Aku jatuh cinta pada kebersihan kota Bajawa dan sekitarnya. Kami membicarakan koperasi masyarakat di sekitar pasir di desa Naru, kebiasaan pesta orang Ngada, upacara adat dan semua-muanya.

So’a : apalagi kalau bukan pemandian di sumber air panas. Ada beberapa kolam. Kolam pertama airnya paling panas karena langsung di sumbernya. Kolam kedua menyerupai sungai kecil, air yang dialirkan dari kolam pertama. Ketiga adalah pertemuan antara air panas dan air dari sungai berair dingin. Hangat dan macam urut-urut di badan. Mandilah kami sepuasnya. Tubuh terasa lebih relaks, natural spa. Sayang ada beberapa orang yang mandi pake sabun wangi dan nyuci pake deterjen yang mencemari air. Nyuci dan mandi sabun kan bisa di rumah atau di air tawar he he.

Saya suka So’a. Selain hot spring, juga sore harinya. Traktor-traktor riuh di jalanan seperti halnya mobil atau becak. Di belakangnya dibuat semacam boks tempat penumpang (istri dan anak). Sopirnya si bapak tani. Mereka pulang dari lading. So sweet. Rupanya para petani ini memiliki traktor masing-masing (bukan milik kelompok) yang dapat berfungsi ganda dan mereka jaga baik sebagai milik pribadi. Tak jauh dari hot spring, terdapat bandara (kependekan dari Bandar Udara) So’a yang melayani penerbangan ke Kupang (ibu kota provinsi NTT). Dari jauh landasan pacu –nya nampak bergelombang. Saya salah mata tidak ya ?

Riung kami datang! Malam tiba dan akhirnya aku menginjakan kaki di kecamatan Riung. Setelah menurunkan barang di Hotel SVD, kami ke resto untuk makan malam. Kami bertiga kalap melahap banyak makanan enak: ikan kuah dan salad, ikan panggang, tumis kangkung dan sambal. Ikannya jenis kakap segar. Saya dan teman Mercy sampai enggan berdiri karena perut yang penuh. Suami saya berkesempatan bertemu banyak rekan seprofesi termasuk merekam keadaan resto sebagai bagian dari pekerjaan survey destinasi. Nampak kelompok-kelompok wisatawan baik domestic maupun bule (jumlahnya lebih banyak) makan di resto itu.

Pagi menjelang dan saatnya ke pulau (persisnya ke Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung). Sebagai informasi, penamaan 17 Pulau untuk TWA yang dikelola KSDA ini dikaitkan dengan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia . Nyatanya pulau yang ada di TWA ini berjumlah lebih dari dua puluh tiga.

Hari itu Idhul Adha. Kami ke dermaga. Naik mobil dan sesekali turun untuk menikmati situasi dan berfoto. Sebagian warga Riung menuju lapangan untuk solad Idhul Adha. Senang melihat mereka: berpakaian khas hari raya dan nampak ceria. Anak-anak juga tampak sehat segar. Nyiur melambai-lambai dan udara laut terasa sedap. Ahhhhh aku mulai merasakan Riung.

Kami naik ke perahu motor. Selain kami bertiga, di perahu ada kapten dan remaja tanggung asistennya serta Pak Yanto , tour organizer kami. Mereka membawa serta beberapa kelapa muda, ikan-ikan segar besar, aneka makanan, buah-buahan dan kantong sampah. Kami akan berpiknik dan piknik tidak boleh merusak lingkungan TWA. Tujuan pertama adalah Pulau Kalong. Ada ribuan kalong di sana sehingga disebut Pulau Kalong. Kalong-kalong itu tidur tergantung di pohon pada siang hari sehingga nampak seperti daun advokad yang kering berwarna coklat. Ketika ada orang berteriak, kalong-kalong itu terbang. Mereka terkejud karena mereka sedang tidur. Ada beberapa perahu lainnya berisi wisatawan. Kami saling memotret satu sama lain.

Dari Pulau Kalong ke Pulau Tiga. Indah bukan main. Pasir putih bersih, gradasi air laut yang menawan, taman laut yang indah dan mudah dilihat, ikan-ikan kecil di antara karang, dan burung-burung di hutan tepi pantai. Di sini kami menghabiskan waktu bersantai-santai. Mandi, nengok taman laut yang indah (terlalu hebat jika dibilang snorkeling), main kerang dan pasir, foto-foto, baring-baring dan tentu saja makan siang. Makan siang sangat sedap. Ikan panggang, tempe tahu, sayuran, ikan kuah, sambal segar dan buah-buahan. Pak yanto sang organizer tur sangat profesional. Ia mengatur semuanya dengan baik termasuk membimbing kami bertemu nemo dan kawan-kawan, memastikan makanan tersedia dan menjelaskan beberapa hal jika dibutuhkan. Satu hal lagi : tidak ada sampah yang berserakan. Beliau membawa kantung sampah dan sampah akan dibawa pulang ke kampung. Waktu terasa cepat berlalu.

Lewat tengah hari kami pindah ke Pulau sebelah. Namanya Pulau Rutong. Sama dengan pulau-pulau lain pasir putih dan perpaduan warna laut. Kelebihannya di Pulau Rutong terdapat bukit. Kami pun trekking (berjalan kaki rute singkat) naik ke bukit dan memandang pulau-pulau sekitar. Bagi penyuka fotografi atau yang doyan jadi model foto ini tempat yang sungguh-sungguh pas. Pemandangan ke arah mana saja sungguh memanjakan mata. Maka ratusan foto pun kami ciptakan. Catatannya : matahari pantai pasti menyengat. Jangan lupa bawa topi, kaca mata matahari jika perlu dan juga sun block. Sampai matahari hampir tenggelam kami bersenang-senang di pulau Rutong.

Masih banyak pulau, sayang waktu terbatas dan pulau-pulau lain hanya bisa terpantau mata dari jauh. Pulau Tembang (disebutkan seperti menyebutkan nama ikan, bukan tembang yang bersinonim dengan lagu) di hadapan Pulau Rutong tertangkap mata sangat cantik. Juga pulau-pulau yang lebih kecil di kejauhan. Matahari yang pulang ke peraduan menciptakan romantisme tersendiri sekalgus perasaan melou di hati. Sungguh Tuhan Maha pencipta.

Dalam doa malam itu kami beristirahat. Esok hari pagi-pagi sekali kami masih bersarung (orang Flores selalu memakai sarung di rumah dan saat tidur) berlari ke dermaga untuk melihat matahari terbit. Dari dermaga Riung aku memandang salah satu sunrise terindah dalam hidupku. Detailnya terbaca pada foto-foto. Speechless. Kami juga pesiar ke pasar mingguan dan berbelanja beras merah, talas dan beberapa jenis buah (ibu ibu shopping everywhere).

Terima kasih Riung, akhirnya bukan hanya rasa malu pada diriku yang hilang. Aku juga mendapatkan lebih dari sekadar untuk modal gengsi. Di Riung aku menikmati kemewahan hidup di dunia dan menghaluskan sisi spiritualku. Kabar baik penghuni rumah di Ruteng membuat perasaan nyaman menikmati Riung. Terima kasih ya Tuhan. Lengkap rasa cinta pada Riung : si Om Yanto dan keluarganya memberikan saya sarung Riung yang cantik. Makasih ya.

Kami harus kembali ke Ruteng. Kali ini memilih jalur utara meskipun kami mendapat info tentang kerusakan jalan di beberapa ruas. Kami kan sedang berpetualang dan dalam petualangan kejutan tak terduga akan memberi sensasi tersendiri. Dan memang demikian adanya. Dari Riung hingga kurang lebih 7 km ke luar jalan raya bagus. Pohon-pohon kapuk berjejer rapi di tepi jalan. Setelahnya jalan mulai berbatu-batu dan agak menyulitkan suamiku yang menyetir. Biar begitu kami senang. Tak henti-hentinya bercerita dan berkomentar. Selain keindahan alam kami juga membahas situasi hidup masyarakat di pedalaman yang kami lihat. Ada desa yang rumah penduduknya bagus-bagus, anak-anaknya bersih, masjid nya lumayan bagus dan ada sekolah. Banyak kampung yang rumah-rumah penduduknya banyak yang kurang dan tidak layak dan jauh dari fasilitas kesehatan dan pendidikan. Sampailah kami di perbatasan kamupaten Ngada dan Manggarai Timur. Di sebuah desa penduduk berkumpul di tenda yang dibuat di tepi jalan. Bapak-bapak duduk ngobrol dan sejumlah ibu-ibu memasak di luar kemah. Anak-anak berpakaian bagus bermain di jalan. Rupanya mereka sedang merayakan Idhul Adha. Kami berhenti sejenak karena serombongan kuda akan menyeberang jalan. Kesempatan itu kami pakai untuk say hello dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang. Mereka ramah. Nice. Selamat Idhul Fitri ya.

Desa sebelah tidak terlalu jauh jika naik kendaraan namun sangat jauh jika jalan kaki mengingat medan jalan dan matahari yang menyengat. Kami berjumpa serombongan orang berbahasa Manggarai berjalan kaki. Kami bertanya akan ke mana mereka. Jawaban mereka membuat terharu. Mereka akan ke kampung sebelah (yang kami singgahi sebelumnya) untuk turut merayakan lebaran bersama saudara/i mereka. Rupanya mereka adalah warga Buntal yang beragama Katolik yang terbiasa berbagi suka duka dengan warga desa tetangga (kabupaten sebelah). Perjumpaan dengan mereka memberikan permenungan tersendiri untuk kami. Mereka orang kampung, tidak sekolah tinggi, tidak pernah baca buku filsafat agama dan teori-teori toleransi. Nyatanya hari gini saat di pusat-pusat pemerintahan dan kota orang beramai-ramai saling membenci karena perbedaan agama dan suku, mereka justru menunjukan teladan mulia, praktek tentang cinta tulus antar manusia sekalipun memiliki keyakinan berbeda. Terharu…

Itu soal masyarakat dan budaya. Tentang alam pantai utara sekali lagi tanpa capek hatiku mengagungkan Tuhan. Kawasan yang selama ini tak terkenal alias terpencil menyimpan pesona yang sangat menakjubkan. Yang menjadi favorit saya adalah teluk tanjung berair ‘nampak’ tenang dengan barisan gunung batu di sisinya. Padang savannah dengan beberapa pohon di antaranya, kuda-kuda warga desa (kuda-kuda besar berwarna putih dan ) merumput di sana. Yes we are in the place of no where else. Rasanya ingin mendirikan kemah. Aku juga suka desa-desa di bukit di tepi sawah. Ada mushola di atas bukit, rumah-rumah nelayan khas pesisir dan hutan bakau.

Kami belum makan siang begitu memasuki kawasan kampung Nazaret dan Pantai Batu Pajung. Tidak ada jajanan di mobil, dan tidak ada warung makan. Yang banyak adalah kebun-kebun yang isinya pohon lamtoro (kayunya dijual ke kota untuk bahan bakar). Meski lapar tenaga untuk berdecak tetap ada karena yang kami lihat sepanjang jalan sungguh spektakuler. Pantai-pantai indah mulai dari Batu Pajung, Pota, Dampek hingga Reok. God is beautiful. Di Pota kami sempat mampir di danau teratai raksasa Rana Tonjong, berlanjut ke kota Reo dan belok kembali ke Ruteng.

Itulah kisahku ke Riung. Kali ini saya tidak membual. Riung indah. Jalan ke sana dan pulangnya pun penuh pesona. Wonderful Indonesia; wonderful Flores. – Foto Gallery

“Traveling - it leaves you speechless,then turns you into a storyteller.”Ibn Battuta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *