St.DAMIAN, BEAUTY OF IMPERFECTIONS

St.Damian: BEAUTY OF IMPERFECTIONS

….karena tidak ada di antara kita yang tidak cacad …

Saya sedang berpikir menulis suatu yang lain ketika temanku Mama Josephine mengirim sms dan berkomentar tentang website www.welakaweng.com ku : “Mama Lila jangan lupa menulis tentang St. Damian“. Ide brilian. Mengapa tidak terpikir tentang itu, padahal kisah St. Damian termasuk satu yang spesial dari edukasi cinta untuk keluarga kami.

Suatu hari aku mengajak anak babtisku Naka yang berusia dua tahun beserta ibunya berkunjung ke Pusat Rehabilitasi Kusta-Cacad St. Damian (selanjutnya kusebut saja St. Damian) di Cancar (kurang lebih 10 km dari Ruteng). Rencananya kami akan menyaksikan latihan kesenian persiapan konser musik merayakan seabad lembaga itu. Apa yang terjadi : mamanya Naka, Ibu Veni temanku tak berhenti mengusap air matanya sepanjang latihan, bahkan sampai sesenggukan. Saya sendiri tak merasa kaget, begitupun Bapak Felix Edon dan keluarganya yang menjadi pelatih konser tersebut. Seperti Mama veni, pertama kali mengenal kehidupan St. Damian, saya (saya kira juga bagi Bpk. Felix sek) juga tak berhenti menangis bahkan ketika sampai di rumah. Kami lalu memilih waktu yang baik dan saya mulai menceritakan kisah cinta dengan St. damian ini.

Karena suatu kondisi, suatu hari belasan tahun lalu: saya, suami, anak dan beberapa anggota keluarga berada di barisan itu. Kumpulan orang-orang dengan keadaan khusus, sakit yang membutuhkan pembedahan dan terapi. Ada yang bermasalah dengan tulang, otot, macam-macam tumor, tubuh dan wajah yang terbakar, cleft (bibir sumbing), dan macam-macam kelainan fisik lainnya. Parahnya kebanyakan di antara kerumunan itu berasal dari keluarga miskin dan sangat miskin. Pertanda untuk itu sangat jelas terbaca. Kami memang bukan keluarga berada tetapi entalah keadaan kami yang juga sedehana pada saat itu masih tergolong mewah di antara mereka. St. Damian bersama sejumlah relawan (tim medis dan psikolog) dari Australia akan mengadakan aneka pembedahan dan terapi untuk berbagai masalah itu. Tarifnya murah dan bahkan ada yang tidak perlu membayar. Mereka melayani dengan sangat rapi, ramah dan bersahabat. Ada yang bertugas bermain bersama anak untuk mengurangi stres saat mengantri. Kami juga mendapatkan bagian dari layanan tulus itu. Karena bisa berbahasa Inggris dan memiliki informasi tentang beberapa hal yang dibutuhkan oleh St. Damian dan tim medis itu, kami menjadi semacam ‘teman baru’ dengan komunikasi yang lebih intens. Singkat cerita kami menjadi akrab dengan St. Damian : para biarawati yang menjadi ibu, karyawan dan orang-orang dengan keadaan khusus yang berumah di sini.

Sejak saat itu, entah karena ada kepentingan maupun tidak, kami rutin berkunjung ke St. Damian. Kami membawa anak-anak dan merayakan beberapa hari special di tempat ini. Kami sungguh jatuh cinta. Ada apa di sana ?

Nama resminya adalah Pusat Rehabilitasi Kusta-Cacad St. Damian, namun sepanjang kami bergaul dengan mereka kami tidak melihat aktivitas perawatan kusta. Kami hanya melihat aneka terapi untuk para penyandang disabilitas: kebanyakan cacad fisik. Ada juga yang mengalami masalah mental (tidak banyak) dan umunya yang mengalami masalah mental ini juga memiliki kekurangan fisik. Dalam pandangan orang awam seperti kami, St. Damian nampak seperti rumah sakit. Ada ruang perawatan (bangsal rumah sakit untuk rawat inap dan ruang rawat jalan), ada laboratorium, ada ruang terapi, dan semacam asrama untuk pasien-pasien tetap yang tinggal di sana. Terapi di St Damian bersifat holistik meliputi terapi medis fisik (fisioterapi), terapi social, terapi mental dan terapi pendidikan.

Bergaul dengan St. Damian adalah salah satu yang terbaik dari perjalanan hidup keluarga kami. Tanpa banyak teori, kami mendapatkan pelajaran hidup terutama mengenai semangat bersyukur, latihan untuk bahagia, tentang berbagi, menerima hidup, tentang menerima orang lain, produktivitas kerja dan penyerahan diri pada kehendak ilahi. Tanpa banyak kata, anak-anak kami menerima bahwa semua manusia, semua anak di dunia ini sama berartinya.

St. Damian sama dengan rumah keluarga kita. Bedanya anggotanya lebih banyak. Ada orang tua yakni beberapa biarawati dari konggregasi SSPS dan beberapa orang tua yang sejak lama berada di sana (dulunya pasien) dan mengabdikan diri membantu merawat anak-anak cacad. Ada karyawan kantor yang menangani urusan manajemen dan keuangan, ada petugas medis, karyawan bengkel, kebun yang kebanyakan punya cerita tinggal dan dirawat di St. Damian. Sebagian dari mereka berhasil menamatkan studi hingga perguruan tinggi dan bekerja di sana. Mungkin salah satu pertimbangannya bahwa adalah bahwa yang sanggup berkomitmen melayani adalah mereka yang pernah hidup di St. damian. Mereka tahu persis sistuasi, kondisi, dan kebutuhan dan rasanya menjadi anak-anak St. Damian. Anggota keluargan St. Damian bervariasi mulai dari bayi, anak-anak, remaja orang dewasa hingga orang-orang lanjut usia. Mereka tinggal di sana karena berbagai alasan dan yang paling umum adalah bahwa mereka harus menjalani berbagai terapi secara rutin (ada yang sepanjang hidupnya) yang sulit diakses jika tinggal di kampung/ keluarganya sendiri.

Apa yang mereka lakukan di sana. Sebagiannya sama dengan kita. Bayi-bayi dirawat sesuai keperluan, anak-anak dan remaja bersekolah (ada yang di sekolah umum ada yang mengikuti pendidikan non formal kesetaraan yanga da dalam kompleks) sambil diterapi, yang dewasa bekerja. Ia bekerja sambil menjalani terapi medis fisik. Sebagian besar orang dewasa telah mengikuti sejumlah pelatihan keterampilan hidup untuk produktif. Ada yang bekerja di bengkel kayu (St. Damian memiliki bengkel kayu yang besar), bengkel fasilitas terapi (ada yang bekerja membuat kaki palsu dan alat bantu berjalan), ada yang membuat sepatu, ada yang membuat aneka kerajinan dari rotan, bambu, dan kayu. Beberapa di antara mereka yang merenda, membuat kue. Karyawan (yang juga anak dari st. Damian) ada yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, menjadi perawat, analis kesehatan dan terapis. Beberapa yang berkeadaan sangat khusus memang menjalani hidup dengan bantuan saudara-saudaranya. Semua mereka berarti. Itulah hakekat dari terapi. Orang –orang dengan aneka kecacadan dirawat secara berkala, dipulihkan mentalnya dan harga dirinya, diperlakukan selayaknya anak-anak di luar sana dan diberi peran sesuai kesanggupannya.

Meskipun secara garis besar St. Damian tergambar mulia, bagaimana pun ia hanyalah lembaga sosial yang ada di dunia. Dalam kesehariannya kadang terjadi konflik layaknya sebuah rumah tangga, ada banyak masalah dan kekurangan namun dalam separuh abad usianya toh dia bertahan dan menjadi rumah bagi mereka-mereka yang karena berbagai alasan tidak dapat tinggal bersama keluarga asalnya.

Aku menangis diam-diam pada hari itu. Seorang anak pra remaja tanpa tangan dan tanpa kaki menyambut dan menyapa kami dengan ramah. Pada saat bersamaan seorang anak kecil yang sakit merengek menangis di gendongan seorang biarawati tua. “Mungkin ia rindu ibunya !” batinku. Dari atas kursi roda seorang pemuda dengan semangat bercerita tentang mimpi-mimpinya. Mereka memiliki keterbatasan: ada yang tak punya tangan, ada yang tak punya kaki (beruntung yang bisa memakai kaki palsu), ada yang pinggangnya dipapah aneka besi dan skrup, ada yang lengannya bunting, ad yang hanya bisa di kursi roda dan segala macam cacad lainnya. Di St. Damian mereka merasa diterima, diperlakukan sesuai haknya sebagai manusia. Mereka hidup : berdoa, belajar, bekerja, bermain, berpesta, berdoa, bekerja. Sesekali mereka bertengkar, jatuh cinta, lari dan pulang lagi. Perputaran hidup yang sangat manusiawi.

Pernah anakku marah dan memutuskan tak mau datang lagi St. Damian. “Tuhan jahat sekali !” katanya hampir menangis. “mengapa Dia membuat mereka menderita seperti itu, tak punya tangan, tak punya kaki !”. Sebagai orang tua kami tak mempunyai persediaan narasi yang tepat untuk menjelaskan dengan benar. “Mungkin kita akan menemukan jawaban jika kita lebih sering ke sana !” bujukku pada suatu kesempatan. Betapa bangga dan terharunya aku, si gadis kecilku bersedia makan sepiring dengan gadis sebaya yang wajahnya terbakar hampir seluruhnya.

Begitulah. Dari St. Damian kami menerima banyak berkat. Persahabatan, penerimaan dan pelajaran hidup. Ketika saya sedih, frustrasi karena suatu sebab dan mengadu ke sana, seorang teman biarawati menghibur saya dengan cara yang khas : Pergi sana, bacakan dongeng untuk Viany (gadis di kursi roda) atau suapin Andri (anak tanpa lengan) makan !”. Biasanya sedih itu mereda.

Saat anakku berulang tahun dan merayakan komuni pertamanya, kami berpesta bersama keluarga St. Damian. Seru sekali, usai misa yang hikmad, kami makan dan berjoged, tanpa kecuali yang menggunakan kruk kayu sebagai alat bantu jalan. Mereka menikmati hidupnya, mereka bersyukur.

Pada tahun 2012 hingga dua tahun setelahnya, saya mengalami kelelahan psikis dan depresi karena kehilangan tidur tanpa saya ketahui apa sebabnya. Saya menangis, sakit, sedih dan depresi. Meskipun mendapat bantuan medis dan psikiater, pemulihan harus diperjuangkan dari dalam. Selain suami dan anak-anak yang menjadi terapis utamaku, St. damian sekali lagi menunjukkan kekuatannya yang dasyat dalam membangkitkan semangat bersyukurku. Saya diijinkan menginap di rumah mereka. Makan bersama mereka, didoakan mereka (yang keadaan fisiknya jauh lebih payah dariku), dihibur dengan kata-kata penuh pengharapan. Mereka menemaniku jalan-jalan ke kebun mereka, makan es krim kelapa muda, dan berenang di kolam terapi mereka. Di balik keterbatasannya ada kekuatan super untuk menyembuhkan orang lain yang nampaknya ‘normal’ namun rapuh.

Tahun 2016 St. Damian berulang tahun ke 50. Pesta besar bukan hanya untuk keluarga besar St. damian tetapi juga untuk masyarakat Manggarai umumnya. Sebuah perayaan kasih sayang yang mengingatkan kita akan hak-hak dasar manusia termasuk penyandang disabilitas. Dibantu masyarakat sekitar, simpatisan, sejumlah relawan dari komunitas-komunitas kerohanian dan kelompok lainnya, keluarga Bapak Felix Edon beserta tim musiknya, keluarga besar St. Damian mempersiapkan diri untuk berpesta. Upacara adat, ibadah meriah, seminar, bedah buku dan regulasi dan konser musik.

Kami sekeluarga termasuk Naka dan orang tuanya turut menikmati pesta itu. Bagian favorit kami dari pesta itu adalah konser musik. Konser pertama diadakan selama dua malam di kota Ruteng pada bulan Mei tahun 2016. Berjalan meriah dan mengagumkan. Konser berikutnya diadakan di kota Labuan bajo pada awal Desember 2016. Konsernya tentu saja meriah dan mendadak St. Damian menjadi buah bibir. Itu penting sebagai bagian dari terapi mental sosial dan pendidikan bagi mereka dan juga bagi masyarakat umumnya.

Bagi kami ada cerita yang lebih dalam tentang konser itu. Selama berbulan-bulan kami menjadi pengunjung tetap St. Damian. Bapak Felix Edon bersama tim musik dan keluarganya menjadi pelatih. Kami (saya dan keluarga, Mama veni dan keluarga, Mama Reyna dan keluarga) membantu beberapa hal tetapi peran kami lyang menonjol adalah sebagai supporter, teman dan sesekali sebagai mama, papa, kakak dan adik bagi mereka. Penambah jumlah orang tua lah. Kami menikmati saat-saat itu. Memberi semangat, mengeritik, makan bersama, bergosip, memberi ide, ngobrol, curhat. Kami sering mendapat kesempatan berdoa dan bernyanyi bersama mereka,, berjalan-jalan di kebun mereka, bahkan beristirahat di kamar tidur mereka. Kami diperbolehkan mengetahui kisah cinta beberapa orang di antara mereka, juga tentang persoalan pribadi, perbedaan pendapat, dan hayalan mereka. Kami diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Terberkatilah kami.

Menjelang dan saat konser relasi pribadi terbentuk semakin erat, dalam komunikasi sebagai orang tua dan anak. Adikku menitikan air mata usai mendandani mereka. Sebagai gadis dan pemuda remaja, mereka juga sangat menikmati aktivitas dirias, berselfi, bergosip dan menunjukan ketertatikan pada lawan jenis. Mereka manusia biasa, mereka membutuhkan ruang. Meskipun sering melihat mereka latihan, namun taka da di antara kami yang tidak menitikan air mata saat memandang mereka tampil di hadapan banyak pasang mata. Mereka tampil di panggung: menyanyi, berpuisi, menari, bermain teater dan melawak dengan sangat bagus. Menyaksikan mereka seperti menyaksikan anak-anak sendiri.

Viani dari kursi rodanya menyanyikan bait lagu Lilin-Lilin Kecil. Ketika mereka mengumandangkan Mars Damian telinga seperti dibisiki semangat dan optimisme bahwa dalam kekurangan fisiknya bisa berkarya, bisa produktif, dan bisa memberi cahaya bagi orang lain. … reflecting the spirit of being thankful over our imperfection especially for Sint Damian Kids. Puisi dibawakan dengan bagus oleh Andri dan Tessa tentang kasih ibu…. Ibu yang membawa Cahaya bagi anak-anaknya. Mengingatkan kita akan kasih para suster yang telah menjadi ibu bagi putra-putri Damian mulai dari yang Bayi hingga yang dewasa. Andri adalah anak lelaki kelas 4 SD, ia tidak memiliki tangan. Ia menulis dengan kaki. Andri termasuk anak berprestasi di sekolahnya). Tesa kecil berwajah sangat tenang, menggunakan lat bantu berjalan. Seorang biarawati mewakili reman-temannya menyampaikan narasi terima kasih dan pesan yang intinyah…no matter what, we should not stop loving” . Ada banyak lagu megah dan sangat merdu, juga puisi, tari dan teater. Semuanya memuat pesan tentang rasa syukur, tentang berbagi, tentang keagungan ilahi.

I have no feet but.. .look..I have two perfect hands, I have no Hands but my feet are perfect. I may not perfect but I never stop being thankful.

Inilah gambaran keindahan dalam keterbatasan. Ketika kita menerima hidup kita dan bersyukur. Ketika kita menerima hidup orang lain dan bersyukur. Menerima bahwa kita semua seharkat dan semartabat sebagai citra Allah. Ketidaksempurnaan itu sungguh menjadi sebuah keindahan di mata manusia dan di mata Tuhan. Beauty of Imperfections

Terima kasih St. Damian

“Disability is a matter of perception. If you can do just one thing well, 
you’re needed by someone.” 
-Martina Navratilova

One thought on “St.Damian: BEAUTY OF IMPERFECTIONS

  1. K lil…
    Indah sekali
    Jd malu dgn sy yg selalu merasa kurang..
    Kurang mengucap syukur,kurang peduli
    Thx 4 sharing..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *