SOLO – AMBARAWA – SOLO – KEDIRI – BALI

SOLO – AMBARAWA – KEDIRI – BALI

SOLO – AMBARAWA – KEDIRI – BALI

Ada saatnya seorang ibu ingin pergi tanpa suami dan anak-anak. Kucari-cari alasan dan waktu yang memungkinkan. Baiklah saya berencana akupuntur lagi di Jawa lalu berziarah di taman doa Ambarawa dan Pohsarang Kediri. Ada juga janji kecil mengunjungi panti asuhan sebagai bagian dari ziarah serta makan makanan Jawa di rumah asalnya. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri karena seorang teman yang tengah menantikan jadwal ujian thesisnya di UNS berjanji menunggu saya. Berkat dia, saya mendapatkan layanan akupuntur, hipnoterapi dan latihan self healing dari ahlinya di solo.

Meskipun selama saya di sana, langit Solo tak terlalu biru, semangat jalan-jalan saya tetap meriah. Berkeliling berdua atau sendiri naik transportasi online atau bus Trans Solo murah meriah (kadang-kadang tak perlu pakai tujuan). Kalau kepepet sendirian saya memilih naik taxi berhubung saya gaptek , tidak melek peta dan malas repot.

Adalah restoran dengan arsitektur bergaya Jawa; namanya Omah Sinten. Menu makanannya sebenarnya tidak jauh beda dengan resto atau rumah makan lainnya. Ayam goreng lalapan, tempe tahu, tumis kangkung dan kawan-kawannya. Namun, berhubung di era sekarang ada teori seni kuliner (cie cie…) bahwa makan itu bukan hanya soal menu dan kenyang tidak-nya, tetapi juga situasi di seputar piring hidangan, nah resto ini perlu dibahas khusus. Kursi meja, musik, orang-orangnya, pelayannya, senyum kasirnya termasuk jenis piring gelas sendoknya ternyata berpengaruh pada selera makan lho. Tetek bengek ini juga menjadi penting apalagi di era foto-foto sekarang; sebelum makan si makanan difoto dan dipamer dulu di medsos. (ck…ck..ck…). Nah resto Oma Sinten ini disain bangunan dan furniturnya sangat Jawa Solo baik bentuk, warna, taman, hingga wadah makanannya. Tempat duduknya nyaman baik yang di ruang tertutup maupun di bangunan tanpa dinding. Saya dan teman saya tentu saja memilih di ruang semi terbuka karena lebih segar dan bisa tengak tengok ke jalan (NB : tetangga Omah Sinten lumayan enak dilihat: beberapa situs bersejarah dan bangunan kuno). Sambil menunggu makanannya kami berfoto-foto ria. Kan era-nya no day without photo he he he.

Nah makanan datang: nasi lauk pauk yang diwadahi daun pisang, ayam bakar, bebek goreng, tempe tahu pencet, es cendol, es dawet dan dua yang terakhir : singkong kompeni plus wedhang sembrawut. Singkong kompeni namanya, dibuat dari singkong parut lalu diolah (entah diapain) berbentuk segitiga dengan isian gula aren (mungkin dicampur bahan lain). Rasanya legit dan enak. Kenapa diberi nama singkong kompeni ? Waktu itu Mas-nya (tepatnya si Bapak muda) pelayan menjelaskan detail, tetapi saya teringatnya bahwa warna si Singkong Kompeni terang seperti warna kulit orang Belanda dan pada zaman penjajahan jajanan ini lumayan popular. Oooo….!!!! (maaf penjelasan lain saya lupa). Mengenai si wedhang sembrawut mudah ditebak: isi gelasnya sembrawut. Air berwarna merah dengan separuh gelas dihuni oleh rautan kulit kayu sechang tak beraturan. Biar sembrawut tetapi kaya anti oksidan yang bikin awet muda.

Menjelang malam (usai foto-foto di pasar barang antik), kami berdua menikmati suasana di pusat angkringan yang didisain menyerupai kafe. Segala macam makanan khas angkringan ada di situ : ceker ayam goreng, saren, tempe tahu mendoan, sate telur puyuh, jajanan pasar, wedhang jahe, kopi, teh komplit dengan harga terjangkau. Tempat duduknya luas dan bervariasi. Ada meja di taman dengan payung plastik, ada juga di tenda lesehan dan juga bangku-bangku ala warung pinggir jalan. Bersih nyaman meskipun sebagian ornamen dibuat dari bahan hasil daur ulang. Angkringan menjadi romantis dengan lampu-lampu temaram. Pengunjung macam-macam gaya dan kalangan. Banyak juga orang-orang asing dari negara lain (kayaknya mahasiswa/i) makan di situ. Mulai pukul 19.00 wita, muncul serombongan musisi yang tampil di panggung yang sudah disediakan. Top markotop banget kan. Dengan ongkos ekonomis mendapat layanan klasik dan modern.

Namanya juga dari kampung, ke kota ya mesti ke tempat yang suasananya modern. Saya ke mall untuk cuci mata, beli anting-anting dan makan di foodcourt. Awalnya tugas saya ke mall adalah mencari sandal akupuntur tetapi (seperti biasa) saya mulai terbawa suasana, berbelok ke bagian barang seni, baju, makeup dan tak ambil pusing lagi dengan si sandal. Hasil akhir saya tidak membawa sandal (dapatnya malah di took online setelah pulang ke kampung….) malah menenteng tas plastik berisi dua pasang anting-anting.

Interupsi : ada kisah yang sayang dilewatkan.Tentang persaudaraan saudara sebangsa. Keluar dari mall saya langsung nyebrang dan duduk di halte menunggu bus Trans Solo. Sudah hampir satu jam bus belum datang. Jadilah saya ngobrol berlanjut menjadi akrab bak kawan lama dengan si mbak yang duduk sebelah saya. Semakin gelap, busnya tak datang-datang; yang muncul malah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Dengan tampilan sangat pedesaan, mereka bertanya-tanya tentang jadwal dan biaya transport dari daerah itu ke jalan depan UNS karena mereka harus berganti bis pulang ke Ngawi (jauh..). Saya dan si Mbak termangu. Bagaimana mungkin pasangan lansia yang tidak bisa berbahasa Indonesia ini travelling tanpa didampingi anak ? Kami mulai bertanya jawab. Si Mbak menjadi translator. Rupanya pasangan ini baru saja menjual tanah lima hektar (wow) dan bolak-balik mengurus administrasi ke kantor pengacara di seberang jalan. Kami menjadi empat sekawan yang akrab, naik angkutan online gokar bersama. Ibarat keluarga yang pulang piknik kami saling bercerita sepanjang jalan lalu dan dengan haru dan saling berterima kasih berpisah di depan UNS. “Mathur nuwun sanget ….! Seru dan Indonesia banget kan ?

Lanjut soal belanja: Salah satu kewajiban ke kota dan kota besar adalah mengunjungi toko buku Gramedia. Sudah bisa diprediksi, aku akan kalap dan dompet akan terkuras di sana. Di sisi lain prinsip keadilan dan keseimbangan harus ditegakan. Adil karena seisi rumah kami gemar membaca. Buku adalah makanan sedap dan toko buku sepenting pasar. Harus ada buku baru yang dibawa pulang untuk setiap kami. Keseimbangan karena buku membuat otak tetap padat dan tidak keseleo akibat sudut pandang dan gaya hidup instan zaman sekarang. Saya membeli banyak buku (bahkan harus membeli tas tenteng tambahan). Bacaan rohani untuk ibu saya (ibu saya sangat gemar membaca hingga usia tuanya), beberapa buku cerita untuk anak-anak saya, dan paling banyak buku untuk diriku sendiri (ini tidak melanggar prinsip keadilan, ada penjelasannya koq!). Tidak ada buku untuk suami karena minggu sebelumnya beliau membeli banyak majalah fotografi dan buku-buku tebal tentang bisnis dan perjalanan (prinsip balas dendam). Tidak lupa miniatur menara eifel untuk adik saya yang menyukai Paris (miniatur yang saya oleh-olehkan dari Paris kali lalu pecah tanpa sengaja).

Selain mall dan Gramedia kami berdua sangat menikmati berjalan kaki di trotoar bersih berkanopi tumbuhan di sekitar lapangan Sriwedhari Solo. Ngobrol, foto, melihat orang-orang, tukang becak dan pedagang. Saya tidak mau naik becak; sejak kuliah di Yogya saya agak sulit menikmati ‘naik becak’ karena selalu merasa bersalah (soal perasaan aja). Yang tidak boleh dilewatkan adalah ke pasar Triwindu barang antik dan Pasar Klewer tentunya. Pasar barang antik ini tidak luas tetapi bagus untuk difoto. (Waktu saya pamer ke suami saya, beliau langsung mencatat pasar ini di daftar tunggu place to visit).

Ke pasar Klewer (belanja lagi yuk he he anchhorrr). Terakhir saya ke pasar ini kurang lebih Sembilan tahun lalu dan waktu itu kurang betah karena tidak nyaman oleh berbagai alasan). Kali ini saya benar-benar terharu. Usaha ekonomis masyarakat benar-benar diwadahi selayaknya. Pasar diatur rapih bersih nyaman baik untuk pembeli maupun untuk pedagang. Batik yang menjadi dagangan khas ditempatkan pada status yang seharusnya : karya anak bangsa berkualitas, mudah didapat dan terjangkau untuk masyarakat Indonesia. Tentu saja saya membeli beberapa untuk oleh-oleh. Kualitasnya bagus dan harganya berkisar Rp. 20.000 hingga Rp. 100.000,- (paling mahal). Belanja sambil ngobrol dengan ibu-ibu (lebih banyak Ibu-Ibu dari Bapak-Bapak) pedagang: lagi-lagi sangat Indonesia kan? Diam-diam saya berterima kasih pada pemerintah daerah Solo ini yang menjadikan Solo senyaman ini sambil berdoa semoga di Flores ada pemimpin seperti itu di masa depan, Amin.

City tour sudah, belanja sudah, foto-foto sudah, wisata kuliner (kecuali makan selat solo masih ngutang). Apa yang kurang? Mesti dicek di rencana perjalanan . Ahhh iya, Spa Keraton Solo.

Jujur, saya bukan orang yang telaten dalam hal perawatan tubuh. Namun tahun-tahun terakhir saya terbawa pengaruh suami saya untuk mempelajari lebih banyak lagi jenis usaha wisata dan ekonomi kreatif seperti usaha seni dan kerajinan, pemasaran termasuk layanan spa (sanitary per aqua) atau gampangnya paket layanan kecantikan dan kebugaran (salon, pijat, dan aneka relaksasi). Di Bali kami sangat sering pergi ke pusat penjualan produk lokal kecantikan seperti sabun, lotion, aneka aroma theraphy serta menikmati layanan traditional massage yang dikemas kental dengan tradisi lokal, pijat refleksi, kepang rambut hingga seni mengecat kuku. Jika melihat kuku-kuku saya bergambar bunga jepun dan rambut anak saya dikepang kecil-kecil dipastikan kami baru kembali dari Bali.

Saya berulang googling mencari lokasi Spa khas Solo. Tidak sebanyak di Bali dan kebanyakan di daerah sekitar saya menginap (UNS Inn) yang ada hanya salon kecantikan biasa. Saya dapat satu dan saya tertarik. Taman Sari Royal Spa. Namanya terdengar klasik dan Jawa. Oke, saya ke sana. Sebetulnya tubuh saya tidak sedang dalam kondisi membutuhkan layanan spa tetapi saya harus tahu seperti apa produk Spa di kota Solo. Waktu saya bilang ke sopir taxi, yang bersangkutan menimpali : Oo, ke tukang pijat ya ?” Kesimpulan sementara : spa belum menjadi bisnis sangat popular di bidang wisata Solo (semoga saya salah). Tempatnya tidak terlalu dekat. Sambil jalan, kami berdua, aku dan Pak sopir ngobrol (orang Indonesia memang sodaraan di mana-mana). Topiknya yang pertama tentu saja bertema Pak Jokowi. Ya ialaaa, pria yang patut dihormati itu kebanggaan orang Solo dan masyarakat Indonesia tentunya). Keluarganya gimana, rumahnya di mana? dan sebagainya: pertanyaan macam itu sangat antusias diladeni Pak Sopir. Tak ragu-ragu Pak Sopir juga membahas tentang keluarganya sendiri, menanyakan siapa penumpangnya ini (he he he adoohhh), pendapat saya tentang transportasi online dan sebagainya. Ada yang saya jawab jujur, ada yang saya karang-karang aja untuk mengamankan situasi (misalnya tentang transportasi online) Ha ha ha ha namanya juga wisatawan gak mau cari ribut.

Gedung Taman Sari Royal Spa itu terlihat seperti rumah bertingkat orang kaya. Mungkin dulunya itu rumah tinggal. Disain interiornya juga kayak rumah tinggal. Saya disambut resepsionis sekaligus kasir dan ia menawarkan menu spa. Saya memilih layanan pijat tradisional Solo. Sebelumnya saya diminta mengisi formulir yang berisi riwayat kesehatan (nah ini pelajaran awal yang bagus). Saya dipersilahkan masuk ke sebuah kamar ditemani si nona muda yang memakai seragam bernuansa batik. Ruangan itu diisi dengan tempat tidur, meja, cermin dan tempat mandi yang semuanya beraksen jawa tradisional. Si Nona memperkenalkan diri dengan sopan dan memandu saya. Musik tradisional diperdengarkan dan saya menjadi relaks, lupa jika saya tidak sedang di rumah. Pada tahap-tahap akhir saya ajak si nona ngobrol perihal spa dan keterampilan yang dimilikinya. Menyenangkan sekali mengetahui sisi lain dari para pekerja industri pariwisata dan ekonomi kreatif seperti si Nur ini (bukan nama sebenarnya). Mereka adalah tulang punggung ekonomi keluarga sama seperti ibu Putu (bukan nama sebenarnya) tukang kuteks di Sanur, atau si Maya (bukan nama sebenarnya), tukang kepang rambut di Kuta. Ahhh jadi sentimental begini. Aku tersadar lagi bahwa aku sedang di Solo. NB : diam-diam aku mencatat di buku kecilku: Wela kaweng Royal Spa. Paham kan?

Setelah tiga kali dua puluh empat jam di Solo, saatnya ke kota Ambarawa di kabupaten Semarang. Sehari sebelumnya kami memenuhi janji mengunjungi panti asuhan di Kota Solo. Bertemu dan berbicara dengan beberapa biarawati pengasuh dan juga beberapa anak sangat menyenangkan. Terima kasih bahwa banyak orang baik di dunia ini.

Bareng enu Occe teman saya kami naik bus ekonomi dari terminal Tirtonadi Solo. Rasanya seperti bernostalgia, teringat masa-masa kuliah di Yogyakarta dulu. Yang membuat saya kagum adalah situasi terminal yang jauh lebih bersih dan nyaman dibanding pengalaman saya dulu. Tidak ada yang menarik-narik tangan ke sana kemari, melangkah lenggang tanpa terlalu kuatir copet. Pedagang asongan pun tidak terlalu banyak dan cukup santun. Nah ada mendoan dan kacang rebus, silahkan dicoba. Kami berdua ngobrol seru dari terminal Tirtonadi Solo menuju terminal Bawen Ambarawa. Di terminal tujuan dijemput ojek dari penginapan.

Ambarawa di Kabupaten Semarang bukan kota yang sangat kami kenal. Kalau bukan didorong oleh ziarah mungkin kota ini belum jadi prioritas saya untuk berkunjung. Namun ternyata dua hari di sana memberikan keasyikan sendiri untuk kami berdua. Suasana kota dan lingkungan Kerep tempat kami menginap, orang-orangnya dan beberapa hal lain. Berada di kawasan doa memberi kesejukan lahir batin. Taman doa yang dipenuhi pohon serta taman bunga yang dirancang seperti halaman hotel memungkinkan kami menghayati Tuhan dengan kyusuk. Lebih dari ibadat doa, saya menyukai dinamika di sekitar gua. Pedagang Rosario yang berjilbab, suara adzan bersamaan dengan doa anjelus, warga desa muslim yang bermain di kawasan gua, dan tempat makan yang ditongkrongi pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Saya mencicipi kue lecker (dieja seperti kata lecker dalam bahasa Jerman yang berarti enak!) yang renyah. Teringat suami saya (beliau menyukai snacking dengan rasa seperti kue lecker ini). Jambu merah, talas kecil, pecel, dan jeruk peras, semuanya dicoba. Makanan yang dijajakan hampir sama di kios-kios : tempe tahu gorengan, saren, pecel, sate kelinci, sate ayam dan soto. Ada juga yang menjual daging babi dan anjing (he he he yang terakhir aku tak tega hiks).

Karena sudah menginjak Ambarawa, maka selain Gua Kerep, kami mencari tahu tempat lain untuk ngeceng. Nah ternyata ada danau besar, namanya Rawa Pening dan juga kampung pelangi (yang terakhir pernah saya baca di inflight magazine salah satu maskapai penerbangan). Pergilah kami bersama dua mas-mas ojek yang juga kami ajak turut berperau keliling Rawa Pening. Perahu disewa dengan tarif Rp 100 ribu per perahu dilengkapi kapten perahunya untuk berkeliling danau besar itu. Sebagian badan danau ditutupi tanaman eceng gondok. Pemandangan sekitar danau sebenarnya datar saja tetapi selalu ada kesenangan kecil : rombongan itik, pusat-pusat pemeliaharaan ikan dan juga perahu- perahu lain yang juga membawa wisatawan. Turis menonton turis ceritanya.

Kami mengunjungi museum kereta api Ambarawa setelah berperahu di Rawa Pening. Tanpa si mas-mas ojek kami berdua berjalan-jalan sekitar museum. Oya sempat juga dimintai petugas Dinas Pariwisata setempat untuk mengisi lembaran survei pariwisata jawa tengah. Setelah bosan jalan kaki keliling-keliling, kami naik angkot bertarif Rp. 5000,- kembali ke penginapan. Sore sampai malam kami kembali ke Taman Doa Kerep dan asyik menghayati Sang Ilahi.

Hari kami kembali ke Solo didahului dengan kunjungan ke kampung pelangi tak jauh dari Kerep. Kami tak sempat ke kampung pelangi yang di bukit (yang konon cukup terkenal) karena membutuhkan waktu satu jam berkendara, sementara waktu kami tak cukup. Kami harus kembali ke Solo karena teman saya harus mengurus beberapa hal terkait ujian thesisnya. Kampung pelangi yang kami kunjungi nampak sederhana. Kami bermotor melewati lorong-lorong depan rumah-rumah penduduk. Istimewanya, pemukiman padat ini ditata kembali dan didandani sehingga lebih menarik. Jembatan, rumah-rumah dan fasilitas umum dicat dan diberi ornamen warna warni. Karena Minggu, hari itu banyak orang datang berfoto. Bagi saya ide ini sederhana namun cukup cemerlang untuk mendorong kampung-kampung kota yang kumuh dan padat penduduk memperbaiki urusan sanitasinya. Mendandani kampung adalah hal yang disukai masyarakat. Nah, tak mungkin kampung didandani tanpa bersih-bersih. Iya kan ? Mudah-mudahan kampung-kampung di Ruteng yang kumuh bisa meniru ini.

Menjelang sore tiba di Solo dan esoknya menghabiskan sehari lagi di kota itu. Berkeliling kota sebentar dan beristirahat. Enu Oce membereskan urusan ujiannya yang tinggal beberapa hari lagi. Saya menikmati suara sekitar UNS Inn. Duduk di jendela, menelpon suami dan anak-anak, dan menulis sesuatu.

Pagi baru. Saatnya naik kereta api. Di era saya kuliah dulu, saya beberapa kali mengalami pengalaman tak nyaman naik kereta api ekonomi dan bisnis. Terminal penuh sesak, sandal hilang, abang-abang yang pura-pura menyapu lorong tempat duduk, cemas memeluk ransel saat tidur, dorong-dorongan di gerbong, dan tawar menawar dengan pedagang. Apa yang kulihat kini. Masuk stasiun seperti masuk bandar udara. Tiket kereta dipesan online. Pass masuk juga pakai sistem komputerisasi. Tidak ada pedagang lalulalang di ruang tunggu. Gerbong kereta juga sangat bersih dan nyaman sampai-sampai para bule juga ikut-ikutan naik kereta api. Gerbong yang kami tumpangi plus dua gerbong tetangganya didominasi oleh orang-orang asing, kelihatan dan kedengarannya seperti orang-orang Eropa. Wow. Suasananya juga nyaman. Toitetnya dilengkapi tisu. Saya memesan coklat panas segelas besar dengan harga Rp. 11.000,-. Oce membeli sebungkus jajanan toko dan kami ngobrol seru. Dua jam perjalanan ke Kediri tidak melelahkan. Untuk saya barangkali karena faktor kegirangan pertama kali naik kereta api lagi setelah puluhan tahun. Tiba di kota Kediri, dari terminal kami terpaksa menggeret koper (karena saya akan langsung pulang) keluar terminal. Kami akan naik gokar, angkutan online yang dimusuhi supir taxi dan ojek terminal/ stasiun. Apa daya, kami perlu mencari angkutan murah. Kami akan langsung ke Pohsarang dan menginap di hotel Pohsarang yang letaknya berdampingan dengan gereja dan hutan lindung tempat gua Maria yang akan kami kunjungi.

Saya pribadi langsung jatuh cinta dengan suasana tempat doa itu. Hutan lindung yang sejuk, gereja katolik berarsitektur unik (seperti candi Jawa kuno), gua Maria yang meniru Grotto Massabielle Lourdes, warung makan dan kios-kios souvernir yang bersih tertib di kawasan tempat doa. Setelah berdoa sebentar kami langsung mencari makan. Makan lahap kami berdua siang itu. Sup daging kacang merah, sate ayam dan sate kelinci, tempe tahu, es kelapa dan beberapa camilan membuat perut semakin berkantung. Tidak apa-apa, pulang rumah baru diet lagi. Waktu-waktu berikutnya kami habiskan berdoa di Gua Maria, adorasi di beranda Gereja, dan menikmati suasana hutan lindung. Kami juga berjalan-jalan di kios-kios souvenir membeli beberapa Rosario untuk oleh-oleh. Malam hari suasana doa juga sangat tenang meskipun banyak pengunjung. Keluarga-keluarga berdoa bersama, beberapa anak muda juga nampak duduk-duduk di sekitar gua. Bukan hanya orang katolik, ada banyak kawan-kawan berhijab mondar-mandir. Ada yang hanya duduk ngobrol dengan temannya, ada juga rombongan yang terdengar seperti mahasiswa jurusan arsitektur yang bolak-balik mengamati bangunan gereja dan rumah-rumah perhentian jalan salib. Malam hari kami makan sate lontong dari warung setempat.

Keesokannya, pagi-pagi sekali kami kembali ke Gua Maria sebab jam 8 nanti mobil sewaan akan menjemput dan mengantar kami ke Bandara Juanda Sidoarjo. Rasanya berat meninggalkan tempat yang damai ini. Kami berdoa kusyuk bersama dan secara pribadi. Memandang Bunda Maria hati terasa sejuk. Diam-diam saya berharap bisa datang bersama suami dan anak-anakku. Kami kembali dengan hati damai dan penuh rasa syukur.

Menuju bandara, kami mengingatkan pak sopir yang mengemudi ngebut. Argumennya adalah agar segera melewati ruas jalan yang selalu macet pada pukul 8-9 pagi. Meskipun jantung dag dig dug kami masih bisa bercanda. Si Bapak sopir bercerita tentang istri dan anak-anak yang disayanginya. Hati saya selalu berterima kasih jika tanpa sengaja mendengar cerita keluarga-keluarga sederhana dan bahagia macam si Bapak.

Cukup lelah dan lapar tiba di bandara. Karena waktu terbang masih lama kami mulai lagi dengan ritual makan. Sop buntut es buahhhhh….. (fit lagi dan tentu semakin gempal berisi). Sejam terbang kami tiba di Bali. Berdua kami mendapatrkan mendapatkan kesenangan yang lain lagi. Menginap di sebuah hotel di Jl. Kartika Plaza yang sudah dipesan oleh suami saya. Tak ingin kehilangan kesempatan kami menikmati semuanya. Kamar, live music di resto, suasana kawasan yang penuh wisatawan itu, pakai kuteks, window shopping di toko kerajinan, foto-foto, berenang, tak lupa menikmati sunset di Kuta (tentang pantai Kuta rupanya Oce tak terlalu menikmatinya, maklum pantai-pantai di Sumba tempat asalnya jauh lebih menarik. Maaf ini alasan jujurnya). Satu lagi, demi seporsi babi guling (bali guling Chandra yang terkenal itu ha aha ha) kami rela sudi bermacet Ria ke Denpasar. Bersamaan dengan itu, ada hal yang tak boleh terlewatkan. Mencari gereja dan merasa terberkati karena ada gereja di dekat hotel. Jalan kaki saja dan kami sudah menikmati hadirat Tuhan yang agung. Niat baik disambut berlimpat ganda kebaikan oleh Pemilik semua yang baik itu. Perasaan penuh, berlimpah dan damai usai kami menyerahkan hidup di altar gereja Katolik Tuban siang itu.

Mama sudah bepergian sendiri (tanpa suami dan anak-anak maksudnya!) dan mulai didera rindu seisi rumah. Sekarang waktunya pulang. Temanku Oce juga harus kembali ke Solo dan siap menghadapi ujian thesis. Sama-sama ke bandara dan kami berpelukan ketika harus masuk ke terminal masing-masing. “Oya, masih ada utang Bu Oce: saya belum sempat makan selat Solo !” Dia melambaikan tangan dan bilang : “ Itu alasan yang baik untuk kembali ke Solo “

………….*******…………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *