Gereja di Lourdes

PERGI ADALAH ZIARAH DAN DOA

PERGI ADALAH ZIARAH DAN DOA

ABADI CINTANYA
(Cipt. Pater Piet Pedo Neo, SVD)

Jiwaku rindu di dekatMu Tuhan – cita-citaku berserah padaMu
Hanya Dikaulah Allah yang hidup
Dikaulah Allkahku benteng penolongku – di tengah dunia penuh liku

Bahagialah orang yang percaya padaMu
Bahagialah orang yang dekat denganMu
Di saat hidup ini tertindih beban yang berat
Dikau menjadi harapanku

Jiwaku bernyanyi memuliakan Tuhan
Bernyanyi bermadah bagi Allah yang hidup
Jiwaku bernyanyi bagi Allah yang setia
Abadi cintaNya

Di saat aku di dalam tantangan
Dikau gembakaku – penuntun langkahku
Dalam ziarahku kepadaMu

Awal Januari 2017 seorang teman meninggal. Beliau seorang pastor katolik sekaligus seorang musisi, composer, dan guru yang baik hati. Beliau menciptakan banyak lagu rohani dengan lirik dan melodi yang menyentuh. Lagu-lagunya dinyanyikan oleh mahasiswa/i STKIP St. Paulus Ruteng tempatnya mengajar musik, kelompok-kelompok paduan suara yang dibimbingnya bahkan oleh sejumlah grup music lokal. Berteman dengan beliau adalah kehormatan; beliau memberikan inspirasi melalui lagu-lagu dalam cara hidup yang rendah hati dan lembut.

Banyak lagunya yang saya sukai. Lagu di awal dan di akhir tulisan ini adalah dua di antaranya yang menjadi favorit saya akhir-akhir ini. Saya menikmatinya saat bekerja pun kala bepergian. Lagu itu menjadi semacam nutrisi yang turut memberi roh pada setiap kerja, upaya untuk hening maupun perjalanan; menyiratkan pesan kelembutan, rasa aman, dan penyerahan diri pada kasih Tuhan.

Bepergian ke mana pun dan untuk alasan apa serta dalam situasi apapun merupakan doa yang khikmad. Mengapa? Entah bagaimana pandanganmu,   bagi saya kegiatan bepergian menciptakan sensasi perasaan tertentu, perasaan manusiawi dan sekaligus perasaan yang terarah pada yang Ilahi. Siap-siap untuk pergi bagi saya sering membuat gugup, takut, huru hara, panik, riang gembira, sakit hati, lelah, tak sabar, dan sibuk. Ketika itu dimulailah doa baik syukur maupun penyerahan dan permohonan. Perjalanan dimulai: ketika menyenangkan, hati berdecak karena rasa kagum akan alam, budaya, dan teknologi pun cara hidup yang beraneka ragam. Ada rasa syukur yang spontan dari hati. Saat perjalanan membuat sakit, bosan, dan penuh dengan rasa tak enak muncul rasa sedih, melow, sesal, kesal, takut. Dalam kelelahan ada kepasrahan. Itu pun doa. Doa dalam perjalanan melibatkan fisik ragawi dan seluruh perasaan hati terdalam. Pergi juga memberi nilai penting tentang enaknya memiliki rumah dan keluarga, sedapnya makanan dan selimut rumah. Juga memicu rasa terima kasih dan rindu akan tetangga yang ramah, nenek yang cerewet, tanaman buncis di halaman belakang rumah dan hal remeh temeh lainnya di kampung halaman.

Saya pernah cerita tentang bepergian karena kuliah, karena sakit, liburan, kerja, dan ziarah. Dalam suka dukanya bepergian memberi hadiah makna yakni kekaguman dan syukur atas keajaiban Tuhan melalui ciptaannNya. Lama jauh dari kampung halaman memberi sudut pandang yang berbeda tentang eksotika alam, selera seni, dan gaya hidup yang dulu dianggap biasa dan kampungan. Juga latihan menghargai dan menikmati perbedaan-perbedaan.

Kali ini saya secara khusus bercerita tentang doa dan ziarah. Apa bedanya dengan bepergian yang lain? Bukankah semua jenis bepergian adalah ziarah dan doa? Benar adanya. Yang saya maksud ziarah adalah jenis bepergian dengan niat awal dan utamanya adalah menjalankan ritual doa khusus dan khas di suatu tempat lain yang dianggap penting menurut tradisi keberagaman yang dianut. Karena saya penganut agama Katolik, ziarah saya adalah pergi ke suatu tempat yang ‘terpisah’ dari rumah dan gereja paroki saya ke tempat ibadah katolik di suatu tempat lain untuk berdoa atau menghayati suatu peristiwa atau sejarah tertentu terkait iman katolik. Saya gemar ke pusat-pusat doa bersama Bunda Maria, ke gereja-gereja, rumah retreat, syukur jika tempatnya terpadu untuk semuanya itu.

Letak yang mudah dijangkau kapan saja memungkinkan saya dan keluarga sering pergi ke bukit doa Bunda Maria Golo Curu dan gereja adorasi biara SSPS AP di Ruteng. Selain itu ada tempat-tempat lain di luar kota Ruteng bahkan di kota-kota dan pulau-pulau lain seperti Bali dan Jawa. Mengunjungi gereja-gereja dan tempat doa khusus bersama Bunda Maria, bertandang ke biara-biara selalu memberikan perasaan tenteram dan bahagia. Mungkin karena sejak kecil kami hidup dalam lingkungan dengan tradisi keberagamaan katolik yang kental. Jika memungkinkan kegiatan doa ini dimodifikasi dengan ibadah lain seperti berkunjung ke panti asuhan atau rumah sakit khusus.

Sendang Sono, gereja katolik Ganjuran, dan Gereja katolik St. Antonius Kota Baru di Yogyakarta. Katedral Denpasar, gereja di kompleks Puja Mandala dan gereja katolik Tuban di Bali. Saya juga terkesan dengan prosesi semana santa di Larantuka. Tempat ziarah gua Maria Cing Coleng dan gereja Lengko Ajang pernah kami kunjungi dan tak kurang harunya.

Dua kali (tahun 2015 dan 2017) saya memberanikan diri pergi sangat jauh di negara lain. Judul bepergian adalah membantu suami saya bekerja, namun sejak awal kami sudah mempersembahkannya sebagai ibadah dan disatukan dengan rencana ziarah di beberapa kota yang memiliki catatan khusus dalam tradisi gereja katolik. Karena tempat-tempat yang saya sebutkan terakhir ini letaknya sangat jauh dengan perjuangan yang lebih berat maka ijinkan saya menceritakan ziarah kami ke sana lebih dahulu (tidak berarti ziarah di negeri dan kampung sendiri lebih rendah kualitasnya).

Tahun 2015. Pertama kali saya mengiyakan ajakan suami pergi ke luar negeri. Cerita panjang lebarnya di artikel lalu :”Pergi Berdua Melintas Benua” , namun satu-satunya sumber keberanian saya untuk pergi karena nanti kami akan ke kota Lourdes, tempat doa bersama Bunda Maria yang sangat terkenal di kalangan gereja katolik.

Sekalipun di kota pertama yang kami kunjungi (Berlin) urusannya adalah bisnis, saya menyempatkan diri mengunjungi beberapa gereja bersejarah, menyalahkan lilin dan berdoa di sana sekalipun tempat itu sudah dijadikan museum. Ada satu hari di Berlin saya ditemani seorang teman dan bayinya berkeliling kota. Saya kagum akan segala hal termasuk gereja tua St. Nicholas di kota lama Berlin, dan beberapa gereja lainnya. Meskipun gereja-gereja itu sudah dijadikan museum namun suasana hening sangat terjaga, bahkan selalu ada lilin-lilin doa dengan sedikit donasi pengganti lilin. Saat menyalahkan lilin tentu saja jiwaku melonjak-lonjak bersyukur dan menyebut nama orang-orang yang kukasihi. Aku mengajak si malaikat pelindung memperkuat doa-doaku.

Di Dresden kami berdoa di Katedral Dresden. Selanjutnya adalah terbang dari Dresden melalui Dusseldorf ke Paris dan Lourdes. Tujuan utama berdoa di Grotto Lourdes.

Dalam gereja Katolik peran Bunda Maria sebagai pendoa utama sangat ditonjolkan. Penghormatan pada Bunda Maria serta berdoa bersama Bunda Maria menjadi tradisi penting. Kisah penampakan Bunda Maria pada sejumlah orang kudus dengan pesan-pesan khususnya melahirkan tradisi ziarah ke tempat-tempat penampakan itu. Salah satunya adalah kisah penampakan Bunda Maria pada St. Bernadette Soubirous di Kota Lourdes Perancis. Bunda Maria memberkati kota yang dalam sejarahnya dulu bukanlah apa-apa selain sebuah desa miskin dengan kawasan gua tempat pembuangan sampah. Pemerintah Perancis kemudian mengemas sejarah peristiwa itu sebagai salah satu produk wisata rohani. Mata air yang diberikan Bunda Maria pada St. Bernadette menjadi kekhasan Grotto (pusat kawasan ziarah di sana di sebut Grotto: Gua). Ekonomi kreatif terkait wisata rohani pun didisain sebaik mungkin. Kebersihan kota, hotel, toko-toko souvenir, restaurant dan sebagainya. Sekalipun bernada komersil dan duniawi tidak berarti kehilangan sisi spiritualnya. Bunda Maria memberkati kota itu.

Sejak kecil kami sudah menyanyikan lagu “di Lourdes di Gua”, berdoa Rosario dan dininabobokan dengan kisah-kisah Bunda Maria. Ziarah ke Lourdes sebenarnya disiapkansejak setahun sebelum pergi. Persiapan batin, doa novena dan penyerahan niat. Saatnya berangkat saya nervous bukan kepalang yang hanya bisa ditandingi dengan perasaan sebelum melahirkan. Kami berdua harus meninggalkan anak-anak (bagaimana jika terjadi sesuatu … ahhh??/). Sekali lagi semangat ziarah menjadi penawar cemas. Saya teringat semangat Saudara-Saudari muslim ku yang berjuang untuk umroh dan naik haji.

Ketika mendarat di Paris hatiku langsung terbang ke kota Lourdes mendahului ragaku yang menyusul keesokan harinya. Pagi-pagi kami terbang selama sejam (kata temanku jika naik kereta bisa delapan jam). Kota Lourdes hening, dan tenang. Tidak banyak orang lalulalang. Katanya karena itu masih akhir musim dingin, aktivitas ziarah belum begitu ramai. Keramaian kota yang diberkati oleh Bunda Maria ini biasanya terjadi April hingga Oktober setiap siang dan malam. Plus minus kami datang di tanggal belasan Maret. Plusnya kami bisa sepuasnya tanpa antri menikmati setiap spot doa: gua, gereja, mandi air suci, jalan salib termasuk berfoto dan shopping di took-toko souvernir. Minusnya kami tidak bisa ikut ziarah lilin malam hari, dan bahkan tak bisa mencium gua karena renovasi persis di depan patung Bunda Maria di gua. Bagaimanapun jiwaku seperti terangkat ke langit .

Rumput-rumput musim semi sebagian mulai nampak. Di beberapa area pertanian yang kebetulan terletak di pinggir jalan, para petani mulai menyiapkan lahan. Matahari juga cerah dengan suhu 8 derajad celcius (lumayan hangat ukntuk ukuran di sana). Sebentar saja di hotel, kami berjalan kaki ke Grotto (tempat penampakan). Tidak sulit menemukan tujuan karena kota di bawah kaki gunung Pyrenee ini kecil dan jalan-jalannya tidak rumit. Lagian belum banyak peziarah yang datang. Kalaupun salah arah, gampang kembali atau malah menikmati ketersesatan itu.

Berdua melangkah masuk ke kawasan gereja dan gua. Air mataku meleleh. Apakah ini mimpi ? aku sedang berada di kisah lagu dalam buku Madah Bakti No. 546 yang selalu kami nyanyikan pada bulan Mei dan Oktober dalam doa-doa Rosario dari rumah ke rumah. Meski tak dapat mencium gua kami langsung berlutut dan berdoa di hadapan Bunda maria. Suamiku turut meneteskan air mata waktu kami menyayikan lagu Maria dalam bahasa ibu kami .

Yo hiang lami tite ga – oo Maria
Ai ite Ende wakar ge – 00 Maria
Hiang le kerubim – naring le seraphim
Tabe lami anak rum.
Tabe – tabe – tabe Maria

Guna meramaikan paduan suara, kami mengajak malaikat pelindung dan para santa/santu pelindung kami untuk turut bernyanyi. Karena membawa pesan banyak oran, di hadapan Bunda Suci kami langsung mengatakan bahwa kami tidak datang berdua, kami datang mebawa jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan pelukan doanya.

Kami juga masuk ke dua gereja yang dibangun bersusun melekat pada gua Maria. Ada basilica (gereja besar) di bawah tanah dekat patung Maria bermahkota emas di halaman depan Grotto. Di dalam basilika ini terdapat lukisan orang-orang kudus. Bersisian dengan basilica terdapat museum. Ritual lainnya adalah jalan salib mengelilingi bukit di samping gereja utama. Pada sisi barat terdapat kapel-kapel termasuk chapel of reconciliation tempatku mengaku dosa.

Suasana sore dan malam hari berbeda lagi. Sangat menikmati apalagi lonceng lagu Ave Maria berdentang setiap 15 menit. Tiap detik adalah keharuan di hatiku. Saat menulis ini pun hatiku masih terharu.

Selain berkeliling Grotto kami juga sempat naik ke sebuah kastil di atas bukit sehingga bisa memotret kota dan Grotto dengan sudut pandang berbeda. Dari sana berbelok ke arah lain yakni menuju sebuah gereja di pusat kota dan berdoa di sana. Semua ditempuh dengan berjalan kaki dan kami sangat menikmatinya.

Terbang kembali di kota Paris, jiwaku rupanya masih tertinggal di Grotto. Saya tidak maksimal menikmati menara Eiffel dan keanggunan kota. Aku rindu kota kecil dengan jalan-jalannya yang sempit. Alunan Ave Maria setiap 15 menit dari Grotto dan tentu saja bayang-bayang kisah Maria. Bagusnya kami berkesempatan pergi ke dua gereja (Notre Damme dan sebuah gereja tua yang namanya aku lupa) yang saat dikunjungi dua-duanya sedang mengadakan misa, jadi suasana hati ikut terbawa. Gereja Notre Damme yang terkenal itu berada di tepi sungai Seine. Sebagaimana bangunan lain di kota Paris Notre Damme ini nampak anggun elegan dari sisi manapun memandang. Karena sedang ziarah, suasana hatiku mengkaitkan semua hal itu dengan doa. Detail-detail ukiran orang kudus di dalam dan luar gereja menggugah perasaan yang hanyut dalam sejarah dan kisah-kisah kitab suci.

Pengalaman ke Lourdes berpengaruh kuat terhadap emosi dan imanku. Aku juga ketagihan berziarah. Seleraku trip-ku selalu kukaitkan dengan kebesaran Tuhan. Aku menikmati rasa percaya akan kekuatan besar yang selalu mengawasiku. Kecenderungan menganalisa yang berlebihan beralih ke kecenderungan diam menikmati hal-hal baik itu.

Aku tidak alergi akan kritik terhadap sisi buruk praktek keberagamaan lembaga agama yang kuanut namun tidak berarti aku menolak ajaran iman dan tradisinya. Jiwaku memandang penciptaNya, kagum takjub meskipun yang nampak oleh indera ku hanyalah pantulan lemah kekuasaanNya.

Maret tahun 2017 sekali lagi saya ikut suami saya ke Eropa. Bekerja dengan niat sebagai ibadah sekaligus berdoa secara khsusus di kota Fatima (Portugal) dan tak terlewatkan Vatican yang menjadi pusat lembaga gereja Katolik sedunia. Sekali lagi doa ziarah ini dimulai setahun sebelum kami tiba di tempat tujuan. Persiapan fisik, finansial, dan khususnya doa-doa khusus sudah dimulai. Secara khusyuk sekali kumohon Tuhan memberi kami perjalanan seperti yang dialami Tobia (putra Tobit) dalam perjalanannya ke Midia bersama seseorang yang ternyata Malaikat Rafael. Perjalanan yang menyenangkan, perlindungan dari marah bahaya, pembebasan dari gangguan iblis, pertemuan dengan orang-orang baik, tercapainya tujuan, kembali dengan selamat serta kesembuhan dan kegembiraan bagi mereka yang kami doakan. (baca kisahnya di kitab Tobit- Perjanjian Lama)

Enam hari di Berlin kami khususkan untuk berbisnis/ bekerja (dengan niat terdalam untuk kebaikan banyak orang di kampung halaman). Kupikir karena aku meminta kepada Dia yang Maha Murah, maka surga mengatur dengan sangat baik. Dengan cara yang tak diduga aku menginjakan kaki di Katedral Berlin. Lilin-lilin yang menyala melanjutkan sembayangku memujaNya sekaligus menggemakan nama-nama para sahabat kerabat dan mereka yang kujanjikan doa.

Kami berdua akan terbang ke Lisboa (Lisbon = Ibu kota Portugal) dengan Ryan Air (sebuah maskapai penerbangan ekonomis). Sahabat kami Pak Lubiger dengan ikhlas memaksa mengantar kami ke Schonefeld International Airport Berlin. Aku agak lesu karena lelah kurang tidur dan semakin tak enak karena guncangan pesawat di sebagian waktu terbang. Rupanya angin kencang sedang melanda sebagian negara di kawasan mediterania itu. Meskipun napas kembali lega setelah kaki menyentuh tanah, syok di pesawat membuatku merasa berada sangat jauh dan merindukan anak-anakku di rumah. Puji Tuhan perasaan itu berakhir ketika masuk kota.

Boutique Hotel di pusat kota menanti kami. Hotelnya kecil ramping (satu lantai satu kamar tidur dan sarapan di lantai atap /rooftop) namun rapi. Setelah beristirahat kami makan malam di restaurant yang bertetangga dengan hotel lalu berjalan-jalan sejenak di plaza terdekat. Suasananya menyenangkan tetapi kami tak mau begadang. Esok kami akan ke kota Fatima.

Naik taksi ke terminal lalu naik bis umum ke Fatima. Tidak hiruk pikuk karena sistem transportasinya rapi dan nyaman. Terminalnya bersih dan tak terlihat preman atau calo macam di terminal-terminal kota kita. Aku tertidur di sebagian perjalanan, itu baik sekali untuk saya yang mengidap kesulitan tidur. Lumayan buat energi nanti di sana.

Kota Fatima adalah salah satu kota di Portugal dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam naik bis umum dari Lisboa dan berjarak kurang lebih 30 mil dari samudera atlantik. Menurut legenda, nama Fatima diambil dari nama seorang putri bangsawan Moor bernama Mahomet, seorang tokoh Islam. Dalam catatan gereja katolik Roma, tiga anak gembala dari sebuah dusun di Fatima yakni Lucia Abobora (10 tahun) bersama dua sepupunya Fransisco Marto (9 tahun) dan Jacinta (7 tahun) beberapa kali didatangi malaikat perdamaian (tahun 1916) yang mengajarkan mereka berdoa dan mempersiapkan mereka bertemu Bunda Maria. Bunda Maria menampakan diri kepada tiga anak gembala selama enam kali sejak Mei hingga Oktober 1917 setiap tanggal 13. Pesan-pesan perdamaian, harapan dan cinta (pada masa itu Eropa termasuk Portugal sedang dilanda perang dunia I). Terkait dengan penyampaian Bunda Maria bahwa perang akan berakhir maka di salah satu bagian tempat ziarah diletakan potongan reruntuhan tembok Berlin.

Kembali ke kisah ziarah kami. Mujizat sering terjadi dengan caranya sendiri. Itulah yang terjadi pada kami. Dengan cara yang tidak terlalu dipersiapkan kami dipertemukan dengan beberapa orang yang kemudian membantu kualitas ziarah kami. Pater Flori, orang Manggarai yang telah 15 tahun berada di Portugal. Beliau bekerja di sana sebagai pastor katolik dan fasih berbahasa Portugasl. Sebetulnya beliau bekerja di tempat yang berlawanan arah dengan kota Fatima, beruntung bagi kamai pada saat kami di sana Beliau sedang ada urusan di kota Fatima. Beliau menjemput kami dan memperkenalkan kami pada Pater Thomas (dari Atambua NTT) yang menjadi pastor paroki di kawasan dengan pusat ziarah Fatima. Karena keberadaan dua pastor inilah kami dengan mudah mengunjungi tempat-tempat lain selain pusat ziarah (sanctuary), mendapatkan informasi kisah-kisah Fatima dan informasi tentang Portugal serta membantu kami berdoa dengan hikmad.

Hari itu tanggal 13 Maret kami tiba siang hari dan langsung ‘melapor diri’ pada Bunda di sanctuary (tempat suci – pusat ziarah Fatima) yang letaknya hanya beberapa meter dari hotel Santa Maria tempat kami menginap.. Rupanya setiap tanggal 13 dalam bulan patung Bunda Maria diarak dalam prosesi untuk mengenang penampakan yang terjadi setiap tanggal 13 dalam kurun waktu enam bulan (Mei-Oktober 1917). Kami tergetar ketika arak-arakan itu lewat. Tentu saja kami langsung berlutut dan menunduk. Perasaan saya sendiri menjadi tak karuan terharu hingga menangis tersedu-sedu. Siang itu kami hanya berdoa sebentar, atas saran Pastor Flori siang itu kami makan siang dan pergi ke beberapa tempat termasuk katedral tua dan gereja-gereja di desa.

Selain sanctuary kami juga pergi ke gereja tua St. Miguel di bagian lain kota, melihat-lihat desa-desa terdekat termasuk rumah-rumah dan ladang zaitun yang luas, tak ketinggalan makan siang dengan menu daging domba muda di kampung. Masyarakat desa yang adalah warga paroki Pater Thomas memberi salam pada kami (serasa orang penting he he). Kami juga pergi ke pantai Nazaree yang berhadapan langsung dengan samudera Atlantik. Di desa pantai Nazaree terdapat gereja desa, plaza tempat masyarakat berpesta, kapela kecil di tepi jurang (dengan kisah pertolongan Bunda Maria), dan pantai yang menjadi incaran peselancar. Aku suka melihat pedagang di desa dengan pakaian tradisional mereka. Rok wanita berlapis tujuh dan took-toko sweater rajutan, asesoris dari keramik-keramik dan souvenir lainnya. Begitulah kami datang mencari Bunda, dan Ia menjadi tuan rumah yang sungguh ramah: menghidangkan berkat yang berlimpah jauh melebihi ekspektasi kami.Sore dan malam hari baru kami kembali ke sanctuary, berdoa Rosario dan doa pribadi serta menikmati suasana malam di sana.

Tanggal 14 Maret : Kami berkesempatan mengikuti ekaristi di gereja besar (basilica) Hati Kudus tempat tiga anak gembala (Lucia, Yacinta dan Francesco) dimakamkan. Meskipun berbahasa Portugal kami bisa mengikuti misa dengan kyusuk. Tertulis di langit-langit gereja : Regina Sacratissimi Rosarii Fatimae Ora Pro Nobis : Ratu Tersuci Rosario Fatima, Doakanlah kami). Selain di kapela penampakan (chapel of apparitions), kami juga berkeliling di beberapa tempat doa dan adorasi seperti gereja Tritunggal Maha Kudus, kapela adorasi (bawah tanah), museum (bawah tanah), dan halaman belakang gereja tempat peziarah yang menggunakan mobil sebagai penginapan.

Peran Bunda maria sebagai pengantara rahmad Tuhan Yesus sangat ditonjolkan dalam gereja Katolik. Namun umat katolik diingatkan bahwa Bunda Maria bukanlah Tuhan yang lain. Kristus lah Tuhan itu. Itu sebabnya rumah tempat patung Bunda Maria (chapel of appararitions) di dekat pohon aginheira / pohon holm oak itu sederhana saja dibandingkan dengan gereja dan monument hati kudus Yesus. Kristus adalah pusat penyembahan.

Kembali ke ziarah kami. Kami berdoa juga di kawasan “jalan salib Hungaria” (dibuat oleh seorang pastor Hungaria); menyusuri setapak di antara ladang zaitun hingga sampai di puncak yang disebut kalvari. Di ‘kalvari’ ini terdapat kapel St. Stephen. Setelah berdoa dan puas memandang kota dari bukit itu, kami lalu pergi ke desa tiga anak gembala yang termasuk dalam kawasan sanctuary. Rumah-rumah dan jalan desa masih dipertahankan dalam bentuk dahulu termasuk rumah tiga anak gembala yang dijaga oleh petugas khusus sanctuary. Pertama-tama kami masuk ke rumah Francesco dan Yacinta : melihat-lihat isi rumah seperti kamar tidur, dapur, dan halaman belakang. Di rumah Lucia pun demikian : ruang tenun, ruang tidur, gudang, dapur bahkan kandang ternak masih dipertahankan sesuai aslinya. Di halaman belakang rumah Lucia ini di dekat sumur lah pertama kali mereka didatangi seseorang yang menyebut dirinya ‘malaikat perdamaian’.

Kami mampir di rumah yang berhadapan dengan rumah orang tua Lucia. Seorang wanita tua sedang berdoa Rosario. Kami masuk. Beliau adalah keponakan Sr. Lucia. Namanya Maria Dos Anjos. Ia tersenyum menyambut kami di tempat duduknya dengan senyum dan pelukan.

Hal lain yang saya sukai dari desa itu adalah : rumah-rumah batu (teringat rumah-rumah batu di Wonosobo Jawa Tengah) termasuk beberapa rumah yang modelnya sangat saya sukai, kios-kios baju rajutan dan souvenir indah. Kami membeli buku Memoir of Lucia (berbahasa Indonesia) di salah satu teras kios di desa itu. Agak lucu karena salah satu editor buku ada di samping saya (he he father Florianus…). Kami lalu makan siang. Sore dan malam hari kami kembali merasakan suasana doa di Sanctuary.

Tanggal 15 Maret : hari ini kami harus balik ke Lisboa. Pagi-pagi sebelum sarapan kami berpamitan dengan Bunda dari Fatima itu. Rasanya berat namun senang. Waktu berlalu dengan perasaan penuh doa. Pater Flori yang juga akan ke Lisboa memberi tumpangan bagi kami dan memperkenalkan jalur yang berbeda. Suasana pedesaan modern terasa di sepanjang jalan membuat saya mengantuk senang. Rejeki memang tak lari ke mana, siang itu kami diajak makan siang di rumah SVD Lisboa sekaligus diperkenalkan pada teman-teman pastor SVD Pater Flori. Ada di antaranya yang berasal dari Manggarai Flores, ada juga dari Timor leste yang pernah bertugas di Manggarai. Senang rasanya bertemu dan menghabiskan dua hari bersama mereka. Mendapatkan mereka bergembira menjadi imam Tuhan membuat kami turut terharu. Terberkatilah kalian semua.

Menghemat waktu kami langsung dibawa jalan-jalan di kota Lisboa dan menikmati kuliner kerang laut yang pernah saya lihat di tayangan traveling you tube. Sore itu juga kami ke tepi sungai Targus dan sempat naik kereta gantung untuk memandang kota dari atas. Esoknya kami berlima (termasuk pater Florid an dua teman pastornya) berkeliling kota Lisboa menggunakan sarana transportasi hop on hop off. Bis berhenti di tepi sungai Targus yang menjadi ikon kota Lisboa. Cerita tentang Vasco da Gama diingatkan di sini.

Doa-doa masih dilanjutkan. Saya gembira sekali bahwa kami akan mengunjungi katedral dan gereja St. Antonius dari Lisboa (tokoh itu sama dengan St. Antonius dari Padua, tetapi orang Portugal tidak suka menyebut ‘dari Padua’ mengingat si Antonius lahir besar di Lisboa, dan bermisionaris di Padua Italia). Gereja yang awalnya merupakan rumah orang tua St. Antonius itu memiliki interior indah khas gereja-gereja tua di Eropa yang bergaya gothic. Lukisan-lukisan nya hidup. Selain di altar, kami juga berdoa di makam St. Antonius di ruang bawah. Sekedar mengingatkan, St. Antonius adalah imam ordo OFM pengkotbah dan pujangga gereja yang pernah berkotbah pada ikan-ikan yang berbaris mendengarnya. Orang tuanya adalah bangsawan tinggi, ibunya keturunan raja dan Bapaknya seorang panglima tinggi. Orang-orang muda Portugis meminta bantuan doa St. Antonius untuk mendapatkan jodoh yang baik. Hari peringatannya di bulan Juni dijadikan hari libur dan warga berdansa di jalan-jalan utama kota. Saya termasuk yang menyukai banyak kisah St. Antonius ini.

Di Lisboa banyak bangunan yang terkait dengan sejarah gereja katolik. Semuanya berarsitek keren dengan interior penuh lukisan indah. Bagaimanapun itu berpengaruh pada penghayatan doa. Suamiku sempat ke katedral dan kastil pada malamnya sementara saya di hotel saja karena lelah.

17 Maret 2017. Saatnya terbang ke Italia. Lain Portugal, lain Roma. Dari airport awalnya biasa-biasa saja sampai masuk ke ‘kota lama’ Roma. Di sana- sini terdapat tiang-tiang megah, bekas-bekas kastil, monument dan gereja. Setelah check in seorang teman datang dan kami pun jalan-jalan sebentar. Hotel kami namanya “Vatican View” letaknya beberapa meter depan gerbang Vatican, persis di depan McDonald baru yang pernah menjadi kontroversi. Kami melihat-lihat halaman Vatican. Senang bukan kepalang. Lalu dimulailah napak tilas itu. Romo Andi menjelaskan empat gereja besar yang menjadi ‘pilar’ (symbol kekuatan) gereja katolik sedunia yakni Katedral Roma (gereja Latheran ), basilica St. Peter Vatican, Gereja St. Paulus Roma, dan Gereja St. Maria Majore.

Oya, saat memasuki setiap gereja dan tempat wisata pengunjung wajib melewati pemeriksaan ketat dari tim keamanan Italia. Tentara nampak berjaga di sana sini lengkap dengan mobil khas mereka. Mungkin karena situasi keamanan di Eropa beberapa tahun terakhir sering terguncang karena aksi terorisme. Saya yang biasanya kurang tertarik dengan atribut berbau militer mendadak merasa nyaman. Bagaimana pun teroris bisa masuk di mana saja bahkan di tempat-tempat yang dianggap aman.

Masuk ke Gereja Latheran atau Katedral Roma yang dibangun dibangun oleh St. Conctantine pada abad ke-4 M (tahun 318). Pertama adalah mencium pintu suci. Gereja ini adalah tempat pembabtisan kaisar Konstantine (putera st. Helena) yang meresmikan agama Kristen sebagai agama resmi di kerjaan Romawi. Saya terkagum-kagum dengan interior gereja yang artistik. Patung rasul-rasul Yesus seperti hidup menatap. Juga detail tiang-tiang, lukisan dan langit-langit yang indah. Perasaan menjadi lebih hidup karena saat kami masuk sedang ada upacara jalan salib. Saya sangat menikmatinya meskipun tidak mengikutinya secara utuh. Kami berdoa di makan St. Constantine. Makam Paus Klemens juga ada di gereja ini. Saya cukup tergetar ketika kami memasuki bilik-bilik di bagian belakang altar utama. Di sana terdapat banyak relikui suci yang dibawa oleh St. Helena (ibunda kaisar Constantine) dari Israel.

Dari katedral Roma kami ke gereja Scala Sancta (tangga suci). Keunikannya bahwa di gereja ini terdapat tangga yang konon merupakan tangga gedung pengadilan Pilatus tempat Yesus didera. Kami berdoa sambil berlutut menaiki tangga itu. Rasanya terberkati sungguh ketika berdoa di sana bahkan sempat mengikuti ekaristi.

Hari semakin senja. Pemandangan kota Roma sungguh mengesankan di sana sini (tidak heran jika pemerintah kota memberlakukan pajak kota yang harus dibayar cash di hotel tempat kita menginap). Kami ke Colloseo (koloseum) dan bersenang-senang di sana. Mendengarkan penjelasan Pater Andi sambil berfoto-foto tentunya. Malamnya kami kami bertiga makan dengan gembira dan sambil bercerita.

18 Maret 2017 : Hari ini kami akan tur keliling kota (city tour) bersama empat orang teman yang sengaja datang berkumpul di Roma; dua orang dari Jerman dan dua orang lagi dari swiss. Tiga yang baru datang adalah fotografer berpengalaman ditambah suami saya. Saya dan seorang teman lagi dari swiss hanya membawa kamera kecil untuk bersenang-senang. Pagi-pagi kami menggunakan jasa mobil tur hop on hop off berkeliling kota Roma bahkan melewati lorong-lorongnya. Lumayan puas dengan tetap mengehmat energi. Kami turun di colloseo dan hari itu masuk menjelajahi sudut-sudut gelanggang olah raga purba, colloseo yang luar biasa itu. Kami juga sempat berjalan kaki ke beberapa bagian kota yang memiliki bangunan tua. Apalagi kalau bukan untuk hunting foto. Siangnya kami menikmati makanan khas italia di restoran dekat colloseum. Sampai sore kami menikmati kota Roma. Kami bahkan sempat membuang koin dan berfoto di Fontana D Trevi yang masyur itu. Malam hari kami makan malam dengan Pater Andi dan seorang pastor lain yang sekampung dengan suami saya.

19 Maret 2017 : Hari Minggu yang cerah dan penuh semangat. Hari khusus menikmati Basilica dengan nama pelindung Paus pertama itu. Hotel kami berada beberapa meter dari tembok batas Vatican. Pagi-pagi kami antri di pos pemeriksaan sebelum masuk. Tentara berjaga-jaga di sana. Mungkin karena trauma atas kasus penyerangan yang terjadi secara beruntun di Eropa bulan-bulan terakhir. Vatican sangat kecil untuk ukuran negara, hanya kurang lebih 400 hektar luasnya. Kami memutuskan mengikuti Misa jam 9 di altar utama. Pertimbangannya adalah pagi-pagi kami bisa berdoa pribadi di setiap altar dan menikmaati suasana Basilica. Saya dan suami sangat menikmati Vatican Minggu pagi itu. Rasanya mudah sekali hati melantunkan doa untuk diri, keluarga, para sahabat kerabat maupun untuk orang-orang yang tak kami kenal. Saya mengkaitkan segala yang nampak di mataku: lukisan-lukisan, makam, patung-patung, dan karya seni lainnya dengan kisah-kisah keagamaan yang aku ketahui. Fantasi spiritualku menjadi lembut dan mudah dicerna. Bagi suamiku, selain untuk doa, St. Peter menjadi tempat yang sangat impresif untuk fotografi.

Misa dimulai. Tak terhindarkan juga air mataku mengalir lagi. Entah jenis perasaan apa lagi yang ada di dadaku. Mungkin akumulasi dari macam-macam keharuan sehingga aku sendiri sulit mendefinisikannya. Aku mulai berpuisi dengan mudah sambil memandang altar:

Di hadapan Engkau
Engkau yang tak mungkin bingung….
Engkau yang pasti tak galau
Engkau Maha sempurna
……………………….

Kelompok paduan suara yang sengaja datang dari Amerika sangat memeriahkan ekaristi saat itu.

Usai Misa kami kembali menikmati St. Peter. Sayang jika tidak berfoto-foto di sini. Lalu menuju ruang bawah tanah tempat makam-makam para Paus. Setelah membeli karcis sebesar 8 Euro, kami antri naik menuju bubungan. Saran saya, kalau lagi tak fit atau tidak terbiasa jalan kaki naik turun mending tidak memaksakan diri lho he he . Bukannya menakut-nakuti, saya tidak tau persis berapa jumlahnya tetapi tangga menuju ‘bubungan’ itu banyak sekali. Jalannya sempit sehingga tak bisa seenaknya berhenti beristirahat mengingat banyak orang yang berbaris. Rasa lelah terbayar karena pemandangan Vatican dari ‘atas’ keren sekali. Vatican, kota berbentuk lubang kunci. Halaman belakannya juga bisa dilihat dari atas. Senang dan gembira.

Masih di hari Minggu : Pukul 12.00 waktu Roma, Paus akan memberkati kota Roma dan seluruh dunia dan kami juga horeeee. Kami turun dan mencari tempat yang pas. Banyak orang dari berbagai negara dengan tujuan yang sama: menanti Paus. Tentara swiss dengan kostum yang semarak khas berdiri bak patung. Tepat mukul 12.00 paus Fransiskus muncul di jendela yang jauh di atas sana disambut seruan : Papaaaa … Papaaaa (papa=paus) dari umat yang menanti. Saya meminjam kamera tele suamiku untuk melihat wajah Paus lebih jelas. Sebetulnya ada layar-layar besar di sana, tetapi konsentrasi fisik mata tetap mengarah ke jendela di atas. Paus Fransisku memimpin Doa angelus dan berkotbah dalam Bahasa Italia. Isi pesannya (setelah mendapat terjemahan dari Pater Andi) kurang lebih ucapan selamat hari ayah untuk semua ayah yang berkumpul saat itu dan para ayah seluruh dunia. Juga pesan-pesan tentang kesederhanaan hidup, cinta dan damai. Paus juga mengucapkan selamat makan siang. Terakhir Paus memberkati kami semua dan kota Roma.

Sepeninggal Paus para pengunjung tidak bergegas keluar dari Vatican. Di dekat saya sejumlah rombongan berpenampilan khas afrika membuat lingkaran, menyanyi dan menari. Orang-orang ber-selfi ria di sana sini. Anak-anak bermain-main bersama burung-burung. Rasanya senang sekali.

Masih mau berlama-lama di Vatican tetapi kami harus berpacu dengan waktu. Kami akan ke Gereja St. Paulus yang memiliki batas waktu berkunjung. Berjalan kaki – naik bis – jalan kaki – naik bis. Melewati pos pemeriksaan lagi. Taka pa, toh demi keselamatan diri juga. Beranda gereja namapak seperti teras panjang dengan ratusan tiang-tiang besar dari porselin. Teknik pengerjaan ornament-ornamen itu adalah menumpuk keramik keramik dengan perekat zaman dulu sehingga kadang-kadang dikuatirkan akan bermasalah jika gempa. Bagian dalam gereja indah sekali dan berderet lukisan para paus yang terdahulu sampai paus Fransiskus. Rasanya tak percaya bahwa kami berdiri dan berdoa di makam Saulus (yang sangat membenci murid-murid Yesus) yang berubah menjadi Paulus salah satu tokoh penyebar ajaran Yesus. Akan ada misa di sana, tetapi kami hanya berdoa di makam St Paulus, di altar dan ruang adorasi. Oya, biar lengkap, mumpung ada pastor yang melayani, saya sempatkan diri menjalankan pengakuan dosa di gereja itu.

Senja menjelang. Sekali lagi naik turun bis. Asyik juga merasakan sensasi naik bis umum di kota Roma. Berkeliling kota dan malam itu berakhir dengan makan malam bertiga.

20 Maret 2017: kami akan berkunjung ke kota Asisi (provinsi Perugia) bersama Pater Andi. Pagi-pagi kami naik kereta dalam kota ke stasiun kereta luar kota. Kami bertiga, orang dari Cibal (kampung suami saya) berbicara bahasa Manggarai logat cabal. Rasanya seperti naik bemo ‘Cinta Indah’ (nama angkutan desa yang sangat popular di kampung suami saya.

Tiba di Asisi suasananya berbeda dengan Roma yang ramai. Kesan tenang mulai terasa sejak tiba di stasiun. Singkat cerita saya dan suami jatuh cinta pada kota St. Fransiskus si pencinta Alam itu. Suasana kota yang khas juga membuat kami menyesal tidak bisa menginap.

Kami berjalan kaki dari terminal ke Gereja St. Maria Degli Anjeli. Di dekat pintu gereja terdapat semacam prasasti di mana Paus mengkampanyekan kerukunan dengan umat beragama lain. Di dalam gereja ini Fransiskus (yang kemudian dikenal sebagai St. Fransiskus dari Asisi) memulai hidup dengan penghayatan injil secara radikal. Fransiskus adalah anak seorang bangsawan kaya di kota Asisi. Ia menolak melanjutkan kebangsawan orang tuanya dan hidup sebagai ‘saudara dina’. Kekayaannya dipakai untuk menolong orang miskin sehingga orang tuanya marah dan pernah memenjarakannya. Fransiskus kemudian dikenal sebagai seorang pecinta alam. Ia berbicara dengan binatang-binatang dan menjinakan serigala buas yang kerap mengancam orang desa. Rumput-rumput memberi salam padanya dan burung-burung mengerti perkatannya. Fransiskus menulis kisah-kisah alam dan memanggil matahari sebagai saudara. Rumah tempat ia memulai komunitas dengan cara hidup miskin itu sampai sekarang masih ada di depan altar gereja Maria Degli Anjeli. Di rumah itulah beliau meninggal. Beberapa sisa jubahnya masih tersimpan di sana.

Dengan tembok yang menyatu dengan Gereja Maria Degli Angeli terdapat bangunan yang merupakan biara OFM (Fratrum Minorum) merupakan komunitas biarawan dengan cara hidup seperti Fransiskus. Hidup sederhana dan akrab dengan alam menjadi semangatnya. Terdapat patung Fransiskus sedang berbicara dengan belalang, Fransiskus yang tangannya dihinggapi burung-burung dengan serigala berjalan dekat kakinya. Ada juga mawar tak berduri yang sedang bertunas kembali setelah musim dingin. Konon mawar itu dulunya adalah semak berlukar berduri. Fransiskus ingin menjalankan semacam mati raga dengan berguling di semak itu. Tuhan lalu menyuruh malaikat mengubah semak itu menjadi mawar tak berduri.

Dari gereja Maria Degli Anjeli kami naik bis ke kota lama Asisi yang terletak di atas bukit. Kota lama itu cantik sekali. Bangunan-bangunan tua yang didominasi warna coklat sangat terjaga keasliannya, terawat dan digunakan sebagai rumah tinggal, toko, penginapan, dan restaurant. Bersih sekali. Balkon-balkon dengan bunga-bunga dalam pot membuat bangunan tua tampak manis. Saya juga mendapat inspirasi dari toko-toko souvenir dan toko- toko pakaian yang berjejer di sana. Nongkrong di sana kayaknya asyik.

Kami langsung ke Gereja St. Klara. Klara adalah putri bangsawan yang elok rupanya. Ia adalah salah satu pengikut Fransiskus dan kemudian mendirikan biara Claris (untuk perempuan). Kami berdoa kusyuk di hadapan salib yang tergantung di depan altar gereja. Salib itu dikisahkan pernah berbicara dengan St. Fransiskus. Setelah itu kami turun ke ruang bawah tanah ke tempat jenazah St. Klara yang masih utuh dibaringkan.

Sekali lagi sangat inspiratif. Di halaman gereja St. Klara dua ibu separuh baya menjadi pengamen. Tidak main-main mereka berdua memainkan harpa dan celo dengan melodi yang indah. Kami nonton konser gratis. Merasa tak enak dengan suguhan luar biasa, kami tidak hanya memberikan kepingan 2 euro tetapi juga membeli cd nya seharaga 10 euro (kurang lebih 150 ribu rupiah). Saat mengetik ini saya masih mendengarkan melodi indah dari music yang dimainkan dua perempuan hebat itu. Sayang sekali kami harus menginap waktu mengingat karcis kereta pulang menetapkan pukul 14.00 kembali ke Roma di provinsi Lazio. Makanya kami buru-buru menuju gereja bekas rumah orang tua fransiskus. Namanya Gereja Baru atau Chiesa Nuova. Lantai atas adalah gereja, merupakan bangunan baru, sedangkan lantai bawah adalah bekas rumah orang tua Fransiskus. Rumah orang tua Fransiskus besar dan mewah pada masanya. Terdapat ruang di mana Fransiskus dilahirkan dan juga ruang tempat ia pernah dipenjara karena tidak menuruti kemauan orang tuanya. Terakhir kami ke basilica (gereja besar) sekaligus biara OFM yang kontemplatif tempat S. Fransiskus dimakamkan. Saat kami datang sedang ada ekaristi di sana sehingga kami turut berdoa bersama sejumlah biarawan dan umat lain yang hadir. Ada biarawan dari suku Batak Indonesia lho. Kami ngobrol tidak lama dengan pater muda itu lalu berdoa di makam St. Fransiskus bersama biarawan dan umat lain. Di dalam ruangan itu terdapat peninggalan St. Fransiskus berupa pakaian dan jubah yang sederhana termasuk hadiah dari sahabatnya yang muslim.

Waktu makin mepet. Kami tergesa-gesa menuju perhentian bis. Sebelumnya kami sempat ke toko tempat dijual segala macam daging dan aneka bumbu. Kami membeli roti daging asap, diberi persenan sepotong karena pemilik toko pernah berlibur di Bali ha ha ha ha. Bis tiba kembali di kota dan langsung kami berlari menuju stasiun kereta. Kami memang atlit yang baik. Masih ada waktu 15 menit untuk ngopi. Kereta datang kami pulang. Sampai jumpa Asisi yang cantik.

Biarpun capek kami tidak mau menyia-nyiakankan waktu. Sebanyak mungkin bagian kota Roma harus kami jelajahi. Turun naik kereta dan bis kami ke Pantheon (kuil besar) yang telah beralih fungsi menjadi gereja. Kami hanya menengok dari luar tak masuk karena misa sedang berlangsung. Kami tak siap untuk doa karena masih terengah-engah. Di halaman pantheon banyak orang. Ada yang berfoto, nongkrong di air mancur, duduk makan di restoran dan bahkan ada yang berdemo. Semua berjalan tertib. Berhubung Pater Andi seorang camelian (anggota biara camelian) yang rumah pusatnya berada di kawasan itu maka dengan lincah kami menyusuri jalan-jalan dan lorong-lorong di sana mengikuti panduannya. Kami juga singgah ke gereja dan biara St. Camelus, rumah pater Andi dkk. Pastor pemimpin rumah bahkan menyalami kami sebagai tamu kerabat Pater Andi. Lukisan di langit-langit gereja itu sangat impresif. Indah sekali. Kami berdoa di sana termasuk di makam st. kamelus yang ada di dalam gereja.

Yang menurut pater Andi tak boleh dilewatkan adalah nongkrong di toko gelato (es krim). Katanya toko dekat gereja St. Camelus adalah yang terenak. Okeee siapa tak mau yang enak-enak….. Tinggal dipilih es krim rasa apa… jilaaattt.

Semakin sore. Kami sungguh giat berjalan ke sana kemari naik turun bis menuju gereja st. Maria Maria Majore yang merupakan basilica St. Maria terbesar di dunia. Sayang jika itu dilewatkan. Ada misa sore itu dan kami ikut di dalamnya. Seperti gereja lainnya di Roma, gereja ini sangat artistic bergaya gothic. Langitnya dihiasi ornament bunga mawar yang terbuat dari emas murni yang banyak jumlahnya.

Di halaman gereja ada penjual souvernir. Saya amati harga gantungan kunci, dll sama antara pedagang kaki lima dan toko sedang dan besar. Saya membeli sejumlah souvenir. Dari sana kami berkeliling dan kembali ke hotel. Malam itu kami makan bersama dengan hati bahagia. Berjanji untuk bertemu esok pagi sebelum kami ke airport.

21 maret 2017 : Bagaimanapun burung harus kembali ke sarang. Kami menikmati waktu kami Eropa tetapi kami juga merindukan kedua anak kami. Sambil berdoa agar keduanya cepat besar dan bisa traveling bersama Terima kasih teman-teman, terima kasih Tuhan.

Semua indah, semua berkesan, namu yang paling romangtis adalah ketika kami berlutut mempersembahkan hidup kami kepadaNya.

PERSEMBAHAN HIDUP
Cipt. P. Piet Pedo Neo, SVD

Kupersembahkan hidupku – segala buah karyaku
Bersama roti dan anggur – Kristus kurban sejati

Trimalah Tuhan sembahanku – Jiwa dan raga milikMu
Niat dan bakti suka dukaku
Segalanya kuserahkan kepadaMu
Segalanya kuserahkan kepadaMu

Bukan harta yang termewah
Bukan kata yang terindah
Namun kehendak hatiku – Kristus kurban sejati

Trimalah Tuhan sembahanku – Jiwa dan raga milikMu
Niat dan bakti suka dukaku
Segalanya kuserahkan kepadaMu
Segalanya kuserahkan kepadaMu

Segala cita-citaku – segala perjuanganku
Demi k’rajaan surgaMu kuserahkan padaMu

Trimalah Tuhan sembahanku – Jiwa dan raga milikMu
Niat dan bakti suka dukaku
Segalanya kuserahkan kepadaMu
Segalanya kuserahkan kepadaMu

2 thoughts on “PERGI ADALAH ZIARAH DAN DOA

  1. Praise the Lord…
    Tuhan itu baik..
    Makasih untuk sharingnya k lil..
    jadi ingat dulu sering ke Kota Baru sendiri, bawa setangkai mawar utk Sang Ibu, berdoa dan curhat byk seorang diri di gereja, sudah lega, baru pulang, persoalan mgkn tidak serta meeta selesai, tapi hati sdh jauh lebih ringan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *