Kampung Adat bena

NGADA & NGAD(H)A  : ..perfectly hommy…

NGADA & NGAD(H)A  : ..perfectly hommy…

Kata pengantar : Ngada (tanpa h) itu nama salah satu kabupaten di Pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur. Ngadha (pake h) adalah salah satu komunitas budaya atau suku yang ada di Kabupaten Ngada (selain suku Riung, suku Nagekeo, suku Maung dan suku Rongga). Suku Ngadha berdiam di Bajawa dan sekitarnya.  Sinergitas antara Ngada dan Ngadha membuat Ngada maupun Ngadha mendapat julukan kehormatan kami : Ngad(h)a : perfectly hommy .

           Sebagai orang Flores, sejak bertahun-tahun lalu saya mengenal Ngad(h)a namun hanya sambil lalu dan ikut-ikutan memasang pendapat sesuai sudut pandang  kebanyakan orang (bukan berdasarkan kenyataan yang saya lihat)  Di masa-masa lalu itu, beberapa kali saya naik oto di jalan negara yang melintas di Kabupaten Ngad(h)a;  biasanya dalam kondisi mabuk berat sehingga otak dan fisik agak miring-miring. Pulangnya saya mengumumkan cerita  seolah-olah saya baru saja melakukan penelitian tentang  Ngad(h)a. Tentu saja cerita saya rumuskan sebagaimana  pembicaraan orang-orang yang tertangkap kuping saya (kebanyakan dari orang-orang yang juga sama sok tahu nya dengan saya – belakangan saya mengerti ini …).

Begini contoh rumusan gosip  itu : “Nga(h) a itu kampungan, lebih kuno dan terbelakang dari Ruteng ! Jalan-jalannya kelak-kelok, tanah-tanahnya tandus, orang-orang nya keras dan kurang gizi, suka pesta, kalau pesta menu nya dipastikan pucuk daun labu. Orang Ngada jorok, penjual pisang goreng tidak cuci tangan apalagi pakai sarung tangan atau penjepit jika pegang gorenga), …. bla la and bla”

Itu hanya antara lain dari ‘fitnah’ yang bermula dari  ‘konon kabarnya’ tentang  Ngad(h)a. Masih banyak ujaran lain yang ‘kurang luhur’ ditujukan pada Ngad(ha). Kesimpulan waktu itu tentang Ngad(h)a : Ngad(h)a adalah tempat untuk orang-orang yang nasibnya  kurang beruntung.

Tahun 2012 saya sudah mulai ‘bertualang’ dengan intensitas mabuk darat yang berkurang signifikan. Indera bisa menangkap dan menikmati lebih valid. Saya juga terbawa cara suami saya menikmati  perjalanan, alam dan budaya dengan sudut pandang  yang berbeda. Tahun-tahun setelahnya, perjalanan termasuk ke Ngad(h)a mulai kerap dilakukan bahkan sengaja dilakukan just to visit, just to enjoy Ngad(h)a. Semakin (benar) dikenal, semakin tumbuh rasa sayang. Sudut pandang tentang Ngad(h)a mulai lari dari stereotype bahkan kemudian tiga enam puluh derajat berbalik dari kesan yang dulu-dulu.

Tahun dua ribuan diam-diam hatiku tertuju pada Ngadha. Aku mulai melirik foto-foto, cerita-cerita suami saya dan mulai tahun 2012 dan seterusnya diam-diam aku jatuh hati, fall in love more and more. Berulang-ulang saya memperbincangkan Ngadha : tenun dan rumah tenun, pohon-pohon bambu dan jambu mete, traktor di So’a, kota Bajawa yang sedehana  namun bersih, mata air panas, sumber pasir di kampung Naru. Ngadha juga terpandang indah karena gunung Inerie dan Ebulobo yang masih berasap, kios-kios mangga, terong isap, dan jagung giling lokal. Ngada dengan kepulauan Riung, kampung Bena, Gurusina, Tololela, Langa, Aimere dan kampung-kampung lain. Cara mereka mengikat sarung ke tubuhnya, mengunyah sirih, dan gelas bambu.  Aku menyukai cara orang-orang Ngadha menari, dan juga  umah-rumah adatnya.  Paling mengesankan dan paling berlawanan dengan ‘konon kabarnya’ adalah ternyata Ngadha itu sangat bersih.

Ngada dan Ngad(h)a : you are extra ordinary, you are exotic, you are a perfectly home. Rupanya kata ‘kualat’ memang berlaku untuk kasus ku ini. Sebagai imbalan rasa bersalah pernah turut memfitnah ‘ngadha’ maka kudedikasikan tulisan ini sebagai siaran pengumuman bahwa Ngad(h)a adalah rumah orang-orang yang terberkati.

Secara vulgar dan super eksplisit  perasaan jatuh cinta ini menjadi pembahasan terbuka  saat aku menghabiskan akhir pekan dua hari  di Ngad(h)a bersama anak lelakiku Iel, sahabatku Ibu @JosephineSu, dua orang putra lucunya, ibu mertuanya dan pak supir sekaligus guide kami Om Rifin. Itu adalah perjalanan pertamaku dengan  Iel, tanpa suami dan putri sulungku Oca. Kami berdua akan main ke Nga(h)a hari sabtu dan pulang minggu sore. Bersamaan dengan rencana itu temanku yang adalah seorang dosen akan pergi ke Nga(h)a mendampingi segerombol mahasiswa nya untuk fieldtrip- tourism class. Berhubung  bayinya masih menyusui (dan tidak doyan susu formula) maka tidak ada pilihan si bayi harus ikut. Semesta mendukung: Mama mertua yang sehari-hari mengurus si bayi kala ibunya bekerja kepingin ikut. Rombongan bertambah karena si Naka pria kecil kakak si bayi juga mau ikut. Rame lah kami. Si Ibu dosen dapat menjalankan tugasnya dengan perasaan aman, saya dan Iel mendapatkan teman perjalanan yang seru.

Rombongan kami : dua orang ibu,  tiga pria muda (termasuk seorang batita), seorang nenek, dan seorang sopir sekaligus pemandu yang ramah (asal Ngad(h)a . Tak henti-henti : ngobrol, menyanyi, tertawa, makan, mual, muntah, jalan, bercanda begitu seterusnya. Kami berhenti di pantai Aimere untuk makan siang. Ayam kampung goreng kelapa (buatan ibu Josephine)  dan nasi (masakan saya). Anggota rombongan yang mabuk mulai segar dan mengomentari alam yang indah dan hal-hal baru atau lama namun menarik  yang kami jumpai.  Masuk kota Bajawa, kami lanjut ke Bena, kurang lebih 18 km lagi. Bukannya capek, kami senang dengan kampung-kampung yang kami lewati. Bersih, rumah-rumah campuran tradisional modern yang tertata rapi, jalan yang bagus, semangat khas orang-orang dan sensasi perbandingan kesan kami sebelum mengenal Nga(h)a. Om Rifin ikut-ikutan tertawa ngakak  mengenang  perasaan bagaimana orang-orang bukan Ngad(h)a termasuk Manggarai yang menganggap rendah orang-orang Ngad(h)a.

Nampaklah beberapa kelompok rumah adat dan perkampungan. Decak dan ucap kagum mulai terdengar spontan.  Masuk ke tujuan : kampung Bena. Kami melonjak kegirangan termasuk Iel dan Naka, pria 8 dan 3 tahun kami. Kami bertemu para mahasiswa dan saling berpelukan riang (ini juga lucu: mereka mahasiswa –nya Ibu Veni tetapi saya juga ikut-ikutan dipeluk : berbagi anak itu menyenangkan).

Kampung Bena sangat indah, eksotik, tradisional namun tidak miskin dan sangat bersih. Terkelola rapi. Orang-orannya pun terkesan diedukasi dengan baik. Tidak ada yang mengemis, warga kampung beraktivitas biasa: menenun, bekerja. Tidak ada yang agresif atau memaksa pengunjung untuk membeli.

Dari Bena kami mengunjungi kampung Gurusina yang letaknya tak berjauhan. Seperti Bena, kampung ini juga sangat cantik : perpaduan antara arsitektur dan lingkungan alam yang sama-sama eksotis.

Baik Bena maupun Gurusina (dan sepintas tertangkap kesan dari beberapa kampung lain di sekitarnya) membenarkan pernyataan bahwa tradisional tidak identik dengan  miskin dan terbelakang. Nyatanya tidak ada rasa iba dan jijik ketika menikmati kampung-kampung ini. Orang-orang kampung terlihat nyaman, sejahtera dan terdidik. Tidak ada pengemis atau masyarakat yang agresif memaksa pengunjung membeli dagangannya.

Kampung tradisional bukan dibangun untuk turis. Kampung ini ada untuk kehidupan mereka, integritas, identitas dan harga diri warga kampung. Ketika ada orang luar yang tertarik berkunjung itu adalah bonus yang dikelola tanpa merusak  nilai-nilai otentik mereka. Tepuk tangan!!!!!

Baiklah saya akan berbagi sedikit pengetahuan dari hasil kunjungan kami ke beberapa kampung adat suku Ngadha terutama Kampung Bena dan Kampung Gurusina yang bertetangga.

Rumah adat suku Ngadha disebut sa’o merupakan sumber pemersatu klan, simbol rahim ibu asal mereka (leluhur). Sa’o adalah unsur utama kampung selain bangunan adat lainnya dalam kampung. Sa’o beserta unsur bangunan adat lainnya didirikan menghadap ke halaman (loka) dan mewakili masing-masing klan yang ada di kampung tersebut. Halaman tengah kampung disebut kisa loka merupakan tempat bersama untuk menjalankan upacara adat, menjemur hasil pertanian dan kegiatan bersama lainnya.  Karena menganut sistem matrilineal, kepemilikan sa’o diwariskan kepada anak perempuan.

Di halaman kampung  terdapat beberapa bangunan adat  sebagai media untuk menghormati nenek moyang dan juga sebagai persatuan / perwakilan klan-klan penghuni kampung. Ada  bagha, bangunan menyerupai rumah adat namun dengan ukuran lebih kecil.  Di depan bagha terdapat  meja batu (dolmen) atau nabe dalam bahasa setempat untuk menempatkan persembahan bagi leluhur. Bangunan adat lainnya adalah ngadhu digambarkan menyerupai payung alang-alang, dengan sebuah tiang utama dan dasar dari susunan batu. Ngadhu juga dimanfaatkan sebagai altar persembahan saat upacara pembanguan rumah dan upacara kematian. Elemen lain yang menyatu dengan sa’o adalah peo (batu megalitik untuk mengikat hewan kurban, ture: susunan batu yang mengelilingi halaman rumah dan watu meze  yakni menhir yang disusun dari batu-batu megalit sebagai symbol kehadiran nenek moyang serta  meja batu (dolmen) untuk meja persembahan.

Kami berkeliling memperhatikan secermat kami sanggup perihal fisik kampung dan orang-orangnya. Ada dua gadis muda desa dan seorang pria  yang menjadi pemandu para mahasiswa. Mereka memakai kain adat dan menjelaskan perihal desa. Saya sendiri mengagumi lingkungan kampung yang sangat bersih dan harmonis termasuk sungai, dapur,  rumpun bambu. Anak lelakiku mengagumi penggunaan hydrant alat pemadam api yang diletakan di antara bangunan. Iel juga menyukai alat  bantu mengurai benang untuk menenun.

Beberapa ibu tua dan muda duduk menenun di beranda sambil melayani pengunjung yang membeli atau sekedar bertanya tentang tenunan. Perempuan suku Ngadha adalah penenun yang baik.  Menenun kain adat bukan sekedar memnuhi kebutuhan sandang tetapi juga sebagai ekspresi hormat pada leluhur. Suku Ngadha yakin menenun akan membuat leluhur gembira karena budayanya dilestarikan.

Tenun ikat karya para perempuan Ngadha  sangat indah di mata saya. Si ibu yang rumahnya kami pakai untuk berteduh (sambil minum) di kampung Bena memberi tahu beberapa hal tentang motif tenunan yang terinspirasi dari unsur-unsur alam yang terkait dengan cara hidup nenek moyang mereka. Motif, warna dan bentuk kain disesuaikan dengan keperluan yang dibedakan antara perempuan dan laki-laki.  Tenunan selalu menggunakan warna gelap sebagai dasar (hitam, merah hati, biru, coklat dan coklat kekuningan).  Di setiap beranda rumah kami melihat alat tenun manual dari kayu yang mereka sebut ngani tenu.

Sekali lagi soal kebersihan.

Kampung adat  Bena dan Gurusina yang kami kunjungi sangat bersih dan asri. Kami bahkan sempat curiga kalau-kalau sampah disembunyikan di sudut-sudut belakang rumah di antara tanaman. Kami lalu mengadakan penyelidikan kecil. Di kampung Bena kami berkeliling hingga ke sudut, menengok ke kolong rumah dan permisi masuk ke salah satu rumah untuk memesan kopi teh. Di kampung Gurusina kami mencari toilet dan menengok ke dapur, kandang babi dan kebun kopi. Hasil mencengangkan. Hal ikhwal persampahan ini rupanya mendapat perhatian yang baik, masyarakat kampung benar-benar well educated. Tidak ada plastik atau kotoran yang mengganggu apalagi menjijikan di kolong, dan sudut kampung. Dapur tradisional bersih dan setiap halaman depan dan samping terdapat tempat sampah  berupa keranjang anyaman atau wadah dari kayu.  Toilet permanen ada di belakang dapur kampung. Kandang babi dibuat dari batu bata permanen dan bersih. Wowww….

Kampung ditata sedemikian hingga nampak dipagari pepohonan pelindung yang asri. Dijelaskan pemandu bahwa pembentukan kampung tidak hanya berhubungan dengan rumah tempat tinggal dan bangunan adat di sekitarnya, tetapi juga harus dihubungkan dengan lingkungannya (tanah sebagai symbol kesuburan dan keberadaan nenek moyang / leluhur yang dihormati dalam berbagai ritual dan symbol-simbol. Selain itu sekitar kampung harus ditanami tanaman pelindung seperti bamboo dan beberapa jenis tanaman lainnya untuk menghindari terpaan angina, sebagai benteng pertahanan dan sumber bahan baku bangunan serta peralatan adat.

Perjalanan kami masih berlanjut. Setelah beristirahat sejenak di  sebuah villa di kaki Gunung Inerie,  saya dan teman saya kembali berkeliling menuju Kota Bajawa. Ibu mertua dan anak-anak menikmati suasana vila. Kami ke kota Bajawa dan beberapa kampung lain. Kami main ke pasar dan sangat menikmati suasana pasar tradisional yang sangat bersih untuk ukuran Flores itu. Ikan dan daging diletakan dalam container transparan sehingga bebas lalat dan serangga. Lorong-lorong tidak jorok karena sampah tidak ada yang berserakan. Toiletnya pun bersih. Naluri belanja pun keluar. Kami memborong manga dan alpukat, jambu air, telur ayam kampung, jagung giling lokal, terung belanda kesukaanku dan banyak lagi. Belanja dengan sangat suka cita lalu kami kembali ke hotel.

Villa Manulalu itu terletak berhadapan (jika tidak mau dibilang ada di kaki Inerie yang agung). Kami bisa menunduk dan memandang kampung bena dan Gurusina di bawah sana. Suasana villa cozy, hommy dan, bersih. Kami menyukai pendiangan  yang diletakan di restoran (seperti cerita rumah-rumah di Eropa dan Amerika) . Udara dingin di luar namun kami merasa hangat duduk depan perapian di kursi empuk dan bergoyang-goyang. Naka dan Iel sesekali membuka buku-buku bergambar yang disediakan di samping perapian. Ada juga beberapa mainan edukatif yang boleh dipinjam anak-anak. Seperti di rumah sendiri. Kami makan malam sup ayam, kentang, ayam goreng, sayuran segar (pucuk daun labu dan bunga papaya) dan bubur bayi tentunya untuk Baby Ilan. Malam itu kami tidur dalam perasaan senang.

Pagi menyingsing. Kamar kami berada tepat berhadapan dengan spot yang paling tepat untuk memandang Inerie dan sekitarnya. Disediakan kursi dan meja kayu  panjang di sana. Benar saja. Semua penghuni hotel datang berfoto di halaman kamar kami pagi itu. Kami saling berkenalan (orang Indonesia keren kan ?) dan sama-sama menikmati pagi. Matahari selalu jadi milik bersama yang jika dibagi akan semakin indah.  Indah sekali. Kami sarapan buah segar, nasi goreng dan minum kopi di kaki Inerie sambil memandang cahaya yang menerpa gunung berapi nan menjulang itu. Kami berfoto sepuas-puasnya.

Hari itu minggu  pagi. Orang-orang terlihat pergi dan pulang gereja, jadilah hati ini rindu, maka kami memutuskan mampir ke gereja. Meskipun tidak ikut misa setidaknya kami mau duduk dan berdoa sejenak. Perjalanan keluarga sahabat ini menyenangkan. Kami masuk ke sebuah gereja di kota Bajawa, tidak jauh dari masjid kota. Hanya ada seorang perempuan yang sedang berdoa di depan arca Bunda Maria. Aku merasa sangat bahagia, menikmati suasana hening dalam  rumah Tuhan itu. Memandang Ia yang menganugerahkan segala kebaikan.

Kami jalan lagi, ke mana  gampangnya karena kami menyukai semua hal. Om sopir membawa kami ke hot spring So’a. Saya sendiri sudah pernah ke sana. Penumpang mobil memilih sendiri obyek pandang kesukaannya. Saya suka bamboo-bambu yang sangat rapid an cantik di sepanjang jalan. Ibu veni juga. Oma (mertuanya Ibu veni) tak henti-hentinya mengagumi kawasan pasir di kampung Naru. Gunung Ebulobo tertutup awan sehingga saya dan om Rifin hanya melukikan dan menunjuk letaknya. Anak-anak menyukai banyak hal.  Mereka tak sabar mencelupkan tubuh ke sumber air dan pemandian air panas di So’a.

Kawasan pemandian lumayan bersih (untuk ukuran orang Indonesia). Ada kolam pertama, di mana airnya menggelembung panas. Di situ ada mata air panas. Menarik bahwa di sumber air itu tumbuh pohon besar berdaun hijau. Dari sini air dialirkan ke luar kolam. Kita bisa memilih atau bergantian mandi di kolam atau di sungai kecil. Ada juga bagian lain yang hangat (kurang panas) karena ada aliran sungai yang dingin bertemu dengan aliran air pana. Puteraku menyukai bagian ini karena bisa berenang. Sebenarnya ada kolam renang besar di kawasan itu tetapi tujuan kami kan air panas, kolam renang bisa di lain tempat.

Semakin siang menuju sore. Anak-anak harus dipaksa keluar dari air. Berendam itu mengasyikan sampai-sampai kami tidak lagi sempat ke Mataloko. Anak-anak lapar, mengantuk. Kami kembali ke kota Bajawa untuk makan siang. Kami makan ayam kampung goreng di sebuah warung kecil (katanya itu warung favoritnya Om Rifin he he he). Kata dua pemuda kecil kami : “kekurangan kota Bajawa adalah ayam gorengnya kuru-kurus!” he he he.

Sebelum pulang, saya wajib menceritakan Riung di pantai utara Ngadha. Di sana terdapat  Taman Wisata Air 17 Pulau Riung. Namanya saja yang 17 pulau (untuk mengenang tanggal kemerdekaan RI) karena pulau-pulau di sana berjumlah lebih dari dua puluh. Kampung Riung sangat indah khas pesisir. Pantainya berpasir putih dan sangat indah. Kita bisa mengunjungi pulau yang dipenuhi kalong dan bakau, lalu ke Pulau Tembang, Pulau Tiga dan pulau-pulau kecil lain yang super indah. Keindahan ini bisa dibaca dalam tulisan saya yang lalu Riung Memang Spekta.  Masyarakat Riung umumnya beragama Katolik dan Islam. Mereka bersaudara dan memberikan gambaran hidup rukun yang alamiah. Pernah saya berada di sana saat Idhul Adha dan suasananya menghibur hati saya.

Seperti Riung, Aimere yang juga berada di tepi pantai memang agak kotor. Taman Wisata Air yang dikelola KSDA (dengan tiket masuk yang lumayan mahal) kerap dipenuhi sampah plastik. Beberapa kali kami memberikan masukan (sebagai travel agency) namun belum ada respon yang cukup signifikan dari KSDA. Mudah-mudahan saat ini keadaannya sudah lebih baik.  Sampah-sampah plastik juga terlihat di pinggir-pinggir jalan dan lapangan umum Aimere. Agak kontras dengan kampung-kampung lain dan kota Bajawa.

Bagaimanapun kesimpulanku masih bertahan. Ngada dan Ngad(ha) itu sejauh ini beberapa langkah lebih maju dalam hal sistem pengolahan sampah dibandingkan Manggarai. Mudah-mudahan tetap seperti itu dan kalau bisa lebih baik lagi.

 Ngad(h)a is a perfect home. Welcome

………….*******…………….

2 thoughts on “NGADA & NGAD(H)A  : ..perfectly hommy…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *