MEMETIK INSPIRASI DI GREEN SCHOOL, ‘PETIK MADU’ DAN KEBUN APEL

MEMETIK INSPIRASI DI GREEN SCHOOL, ‘PETIK MADU’ DAN KEBUN APEL

Kami sekeluarga percaya bahwa mendekati alam dan merawatnya bukan hanya sekedar kata-kata bagus untuk status facebook. Hidup di alam hijau terjaga secara fakta adalah sebuah kemewahan. Di jaman sekarang menikmati oksigen murni merupakan sesuatu yang mahal. Mata air yang masih terpelihara pasti terletak di medan yang berat. Hutan dan sungai di tepi jalan umum, wajahnya banyak dihiasi timbunan sampah plastik. Sungai-sungai di sekitar kota menjadi tempat cuci motor dan mobil, bahkan menjadi baskom besar penampungan pampers, pembalut dan sekarung bungkus permen. Pantai yang diharapkan menjadi ruang rekreasi public murah meriah untuk negara maritim Indonesia memendam banyak persoalan social dan lingkungan. Banyak tanah-tanah tepi laut sudah dikapling-kalpling yang menutup akses warga ekitar. Problem sampah yang tak habis-habisnya di pantai-pantai terbuka juga menjadi sumber jeritan pemerhati pantai.

Dengan keadaan demikian, warga kita enggan berpiknik di bawah pohon atau nongkrong berselfi ria di tepi sungai. Hendak ke pantai-pantai bagus-bersih, transportasinya mahal dan akomodasinya relatif sulit. Plus unsur malas mendaki bukit atau berjalan kaki di hutan dan danau di hutan, takut lintah dan sebagainya membuat kisah asyik tentang alam hanya milik remaja pencinta alam dan bapak ibu tani yang karena tak punya pilihan lain selain berumah di ladang kemiri. Lebih santai dan mudah berwisata ke pusat perbelanjaan, pasar dan pusat-pusat hiburan di modern.

Berpikir dan berdiskusi soal situasi tersebut, saya dan suami mulai merancang siasat bagaimana caranya anak-anak kami memiliki memori tak terlupakan tentang ‘mendengarkan nyanyian burung’ di hutan, pergi ke kebun kopi dan ‘kembak-kembak’ di air laut selama masa kecil dan remajanya. Sebenarnya itu bukan hal lasing karena kami tinggal di kota kecil dan kampung halaman suamiku juga tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami. Pantai juga ada yang cuma satu setengah jam berkendara. Kami sekeluarga bisa bolak-balik ke kampung, ke sawah, ke hutan dan pedesaan. Yang kami maksudkan adalah selain kesempatan menikmati, juga bagaimana membentuk pendapat anak bahwa nyanyian burung, menyentuh anggrek hutan, main lumpur di sawah, menanam pohon atau memetik kopi adalah hidup kami. Bahwa jenis kehidupan macam itu tidak selalu bertahan. Suatu waktu semua itu mungkin berubah, bahkan pada masa sekarang menikmati kayu manis langsung dari pohonnya adalah dongeng bagi sebagian orang. Anak-anak harus bangga meskipun kehidupan macam itu tidak terdengar gaul di lingkungannya. Di banyak tempat di belahan dunia lain, orang-orang menghayalkan caramu bermain di hujan, menangkap belut dan katak dan berendam di pantai sepanjang hari.

Mumpung masih ada cara murah yang bisa diupayakan. Langkah pertama adalah membawa anak sesering mungkin ke kampung dan ini cukup ampuh. Mereka ketagihan dan secara mandiri kerap mudik. Meskipun demikian sudut pandang yang didapat masih sangat datar: bahwa saudara-saudaranya di kampung menganggap mereka yang di kota lebih beruntung dan lebih berkualitas hidupnya dibanding dengan di kampung. Masih sulit mendapatkan pernyataan bahwa makan sayuran dan sambal jahe itu lebih enak dari mi instan atau makanan kaleng. Hampir tidak pernah ada nasehat bahwa pohon dan kebun itu mengasyikan, dan bertani itu sangat bermartabat. Cerita-cerita hidup susah menjadi petani di Manggarai memang tidak bisa diabaikan. Tidak apa-apa, kita pelan-pelan saja. Membentuk sebuah nilai dasar memang tidak mudah, apalagi dalam situasi umum yang memang serba sulit secara ekonomis.

Cara berikutnya adalah membawa dan mendampingi mereka berpiknik di pantai, berjalan di keliling danau Rana Mese, menunggu sunset di bukit, foto-foto di persawahan sekitar kota atau di sawah kerabat sambil bercerita satu dua hal penting tentang lingkungan. Ada hasilnya, tetapi anak-anak butuh lebih banyak penyataan eksplisit dari ‘orang-orang’ (selain ortunya) bahwa alam yang mereka nikmati adalah sumber hidup, sangat mewah dan kita yang secara berlimpah menikmatinya adalah orang-orang yang beruntung. Mereka masih menganggap pergi ke pancuran, air terjun dan danau adalah sesuatu yang biasa, tidak lebih istimewa daripada berbelanja di toko, pasar, perpustakaan atau berlibur di kota besar. Mereka suka kea lam tetapi masih ragu bahwa menikmati pemandangan indah persawahan di dekat bandara atau di Mano adalah sesuatu yang amat spesial. Mereka juga masih agak sinis ketika kukatakan pohon ‘kencing’ merah dan pohon ara yang mulai langka adalah sampel pohon-pohon terindah di dunia. Juga tak percaya bahwa gula merah yang baru matang di Kolang jauh lebih enak dari permen manapun. Madu dari Pota jauh lebih sehat dan enak dari vitamin dari apotik pun ditertawakannya.

Upaya mencari strategi yang asyik berlanjut; (maunya) halus tanpa menggurui tetapi hasilnya lebih maksimal. Pada tulisan bertajuk ‘meloncat dari Pulau ke Pulau’ kali lalu saya sempat menuliskan kisah petualangan kami sekeluarga naik mobil dari Ruteng – Flores ke sepanjang Pulau Sumbawa, Lombok dan Bali, diteruskan ke Batu Malang. Kami memang merencanakan sebuah perjalanan yang memungkinkan anak-anak melihat kehidupan sehari-hari di tempat lain, tidak langsung terbang dan masuk hotel. Anak-anak perlu melihat langsung sebagian kehidupan masyarakat, alam, pertanian, ternak, anak-anak sekolah di belahan lain Indonesia selain kampungnya sendiri. Selain itu anak-anak kami ajak ke eco-community yang mengangkat tema alam sebagai sesuatu yang sangat bermartabat, penting dan berharga.

Melihat kota, pedesaan, ladang, jalan-jalan, pasar, ternak, tambak garam, sekolah, puskesmas di Sumbawa dan Lombok adalah pengalaman yang penting. Ladang bawang daun, perkebunan kelapa, kawanan kambing di jalan, tambak ikan, mesin pengolah jagung, terminal, dan pasar kaget di bulan puasa. Bagaimana orang-orang bersemangat menanami lading luas dengan jagung dan bawang. Sambil kami katakan bahwa sup jagung dan daun bawang di hotel-hotel yang pernah kami kungungi mungkin berasal dari sini. Petani-petani itu tidak hanya mencari nafkah untuk keluarganya semata. Mereka memberi kehidupan kepada kita yang tidak dikenalnya. Juga bahwa petani, nelayan, tukang bunga, pedagang pasar tradisional sama pentingnya dengan dokter, pegawai kantor, polisi, dan pembuat es lilin sehat. Tak bosan-bosan secara halus kami bangkitkan motivasi menyukai alam dan tanah air Indonesia termasuk bagaimana alam mempunyai peran penting dalam memberi kehidupan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Juga tentang banyaknya jenis pekerjaan dan perannya yang sama-sama penting untuk hidup.

Jauh-jauh hari sebelumnya kami telah mendaftarakan diri menjadi peserta one day tour di sebuah sekolah alam di Bali. Pendaftaran dilakukan melalui website resminya. Pagi-pagi kami berangkat dari Sanur tempat kami menginap menuju Banjar Saren Abiansemal Bali. Jumlah anggota rombongan delapan orang terdiri dari Papa Leo, mama Lila, Oca, Lala, Iel, Tanta Nita dan dua orang kerabat yang kebetulan bekerja di Bali. Mama Lila mempunyai tujuan sendiri yakni mempelajari pola belajar di sekolah alam untuk inspirasi profesinya. Kami membayar tiket yang rata-rata Rp 100.000,- per orang di loket masuk. Murid-murid sekolah alam Green School Bali bervariasi mulai dari anak-anak kecil batita hingga remaja (Kelas 1 sampai kelas 10). Setiap ada tur di hari sekolah, murid-murid itu belajar seperti biasa dan peserta tur tidak boleh mengganggu. Kami mengikuti rute dan diberi masing-masing dipinjamkan sebuah perangkat audio untuk mendengarkan penjelasan pemandu.

Green School atau sekolah hijau yang terletak di jalan raya Sibang Kaja Banjar Saren – Abiansemal Bali ini menganut konsep pembelajaran dari dan di tengah alam yang sangat kental. Ruang belajar dan bangunan-bangunan di kawasan sekolah menggunakan bamboo sebagai bahan baku utama. Memasuki gerbang sekolah, suasana kampung sangat terasa. Gerbang sekolah terbuat dari bambu dengan kesan alami. Seorang anak saya malah berkomentar : “Mama ini seperti kita punya kampung di Ruteng, banyak bambu!”

Ruang pertama yang menarik perhatian saya adalah ruang sampah; isinya sampah yang sudah dipilah-pilah menurut jenis dan juga ruang pameran (toko kerajinan) hasil daur ulang. Kami diberi gelang benang yang berhias buah cemara kering, macam yang pernah dibuat Oca waktu TK. Rute tur melewati jalan tanah atau setapak-setapak batu. Pemandu menjelaskan hal ikhwal sekolah mulai dari sejarah dan filosofi hingga visi misinya. Kepada kami juga diinformasikan segala sesuatu yang ada di setiap spot yang dilewati dalam tur sekolah ini dirintis oleh seorang pengusaha perhiasan asal Canada bernama John Hardy ( tahun 1970-an) ini.

Kami sekeluarga doyan jalan kaki, makanya setapak naik turun tidak berat bagi kami dan anak-anak kami. Pertama kolam lumpur (kubangan). Jangan salah, ini adalah salah satu tempat belajar. Anak-anak bermain lumpur untuk kreatifitas seni dan kemampuan motorik anak. Anak saya yang lelaki nampak tertarik : kesan pertama, asyik betul bersekolah di sini. Tentu saja, main lumpur adalah kesenangan semua anak termasuk anakku. Ada juga penangkaran burung, kebun, kandang-kandang ayam. Dua yang terakhir adalah tempat dan buah kerja anak-anak. Mereka menanam sayur sekaligus mempelajari sistem pengairannya.

Perlu diketahui, kawasan sekolah dilewati sungai Ayung yang memberikan air yang cukup untuk kebutuhan sekolah, sumber energy listrik 9ada kincir pembangkit tenaga listrik) dan juga sekaligus tempat belajar dan bermain anak. Anak-anak mandi dan bermain di sungai. Jembatan yang melintang di atas sungai terbuat dari bambu dengan bentuk dan struktur yang keren. Dari jarak beberpa meter bentuk jembatan ini mengingatkan saya pada atap rumah Padang. Jembatan ini menghubungkan sekolah dengan bamboo village, kampung tempat anak-anak sekolah tinggal.

Kembali ke kandang ayam, setiap anak memiliki ayam peliharaan masing-masing. Mereka bukan hanya memberi makan tetapi mempelajari semua konsep tentang hidup si ayam. Wahhhh

Ruang-ruang kelasnya terbuat dari bambu,umumnya tidak berdinding. Bersih dan sangat sejuk. Ada juga ruang drama dan teater, ruang yoga, kantin dan dapur dan beberapa ruang lain yang juga dari bambu. Kami tak masuk ke kelas karena sedang ada kegiatan persekolahan. Namun bisa ditengok dari kejauhan dan dilihat di beberapa ruangan yang yang kami datangi bahwa meja kursi di kampus ini terbuat dari bamboo dan kayu. Perhatian besarku adalah pada disain bangunan yang memadukan semua unsur: natural, estetika, kenyamanan, keamanan dan kekuatan alam. Sempurna.

Green school menyiapkan air minum sendiri untuk mengurangi penggunaan botol plastic air mineral. Kami mengisi botol air isi ulang dengan air yang dimurnikan dengan mesin yang berada di samping rumpun bamboo.

Anak-anakku mendiskusikan kincir air untuk memproduksi listrik, keran air yang diselimuti bambu dan yang paling lama dibahas adalah toilet yang disiram pakai serbuk kayu. Anak-anakku meringis tersenyum geli, entah apa yang ada di pikiran mereka. Bagaimanapun mereka menikmati tur ini.

Green school sangat inspiratif. Saya pernah berhayal anak-anak saya bisa bersekolah di sini. Tampilan sekolah yang seperti kampung namun kualitas persekolahan yang berstandar internasional ini menciptakan banyak hayalan untuk pendidikan anak-anak saya. Sayang disayang, setelah dicek biaya sekolahnya sangat amat mahal untuk kantong kebanyakan kita orang Indonesia. (barangkali ini ada kaitan dengan banyaknya murid-murid bule yang lewat dari tadi). Berapa banyak uang sekolah, tak sanggup saya sebutkan. (Silahkan lihat lagi di web nya). Walaupun harus menghentikan hayalan menyekolahkan anak di sini, kami cukup bersyukur bisa berkunjung di kampung ini dan mendapatkan sejumlah inspirasi penting. (Diam-diam saya berdoa semoga di masa depan muncul sekolah alam lainnya yang terjangkau he he he).

Lompat ke Pulau Jawa.

Di Batu Malang kami menikmati agrowisata ‘petik madu’. Mama Lila mendapatkan inspirasi dari sebuah tayangan perjalanan wisata di TV. Tempatnya tidak terlalu luas. Kami masuk di semacam restoran yang asesorisnya dibuat dari sampah daur ulang termasuk tulisan PETIK MADU yang dirangkai dari botol plastik bekas air mineral. Kami mendapat penjelasan dari Mas Budi (he he maaf nama sebenarnya aku lupa) yang bekerja membudidayakan lebah madu. Beliau menjelaskan banyak hal tentang lebah dan produk-produknya. Kami malah sempat menggenggam lebah di telapak tangan, memegang papan sarang dan bahkan membiarkan lebah menghiasi wajah. Tentu saja mengikuti panduan dari Mas Budi. Kami membeli setoples sedang Bee Polen, produk dari madu dan mencicipi madu beserta sarangnya. Rasanya memang tak seenak sarang madu hutan yang sering Mama Lila makan waktu kecil tetapi lumayanlah untuk pengetahuan anak-anak. Dari situ anak-anak sadar bahwa madu itu sangat berharga dan mahal juga secara harafiah. Sepotong kecil (kira-kita 1×1 cm potongan sarang) harganya Rp 10 ribu. Bayangkan jika kami tujuh orang masing-masing makan sepotong ? Rasa pun jauh dari ekspektasi saya. Maklum saya membayangkan rasa rumah madu hutan yang sering saya makan waktu kecil. Enak banget. Berarti kami dulu kaya banget ya ? Di film india, madu dan sarangnya adalah makanan dewa/i dan para raja . hmmmm

Yang tak boleh dilewatkan di daerah Batu Malang adalah memetik apel dan memakannya di bawah pohon. Ini pengalaman manis, semanis buah apel yang dipetik Iel. Dipersilahkan masuk ke kebun oleh pemiliknya, sepuasnya kami memetik dan memakan apel. Iel mengisi kantong buah, katanya untuk oleh-oleh buat Oma di kampung. Anak-anak membuat kesimpulan sendiri. Katanya: enak benar punya kebun apel begini, selain bisa makan apel sesukanya, bisa juga menyuruh wisatawan memetik apel dan mereka harus membayarnya ! (nah, tanpa sadar mereka belajar tentang strategi pemasaran produk pertanian). Selain apel segar kami juga menikmati camilan keripik apel dan keripik biuah lainnya yang dijajakan di sekitar kebun.

Lebih dari niat bersenang-senang di hari liburan, berkunjung ke green school, Petik Madu dan kebun apel memberi bingkai pada penilaian betapa berharganya pemberian alam yang selama ini dianggap biasa-biasa saja. Bahwa alam adalah hidup, alam memberi ruang untuk menciptakan lapangan kerja dan kegembiraan bagi orang lain jika kita mengolahnya. Mengolah tentu membutuhkan keahlian, kecerdasan, semangat dan komitmen. Semakin mudah bagi kami mengatakan bahwa itulah pentingnya sekolah. Knowledge to elevate.

Di Green School anak-anak dan kami yang dewasa mendapatkan inspirasimelihat bagaimana orang-orang pintar itu memperlakukan bambu seperti halnya berlian bagi pengusaha perhiasan. Bambu dipelihara, dipelajari segala sesuatunya dan dijadikan bahan baku bangunan sekolah yang keren, aman, canggih. Jembatan, saluran air, kincir air dan segala bangunan yang kehadirannya tidak harus merusak alam sekitar malah sebaliknya mendorong pelestariannya. Kubangan lumpur sebagai kelas bermain, toilet hemat air, anak-anak yang belajar banyak dari alam dan menikmatinya.   Di kampung kami banyak bambu tetapi tidak banyak yang memujanya sebagai suatu yang luar biasa. Bahwa ternyata kebiasaan main di lumpur dan tanah itu penting, mengasyikan dan menyehatkan. Bahwa air perlu dihemat tanpa harus dehidrasi. Selalu ada cara.

Komunitas peti madu memberi inspirasi tentang pelestarian bunga dan lebah. Juga tentang hidup sehat dengan produk dari alam.

Di agrowisata petik apel : Si pemilik kebun menyilahkan pelanggan untuk memetik apel, menimbang dan membayar he he. Hemat buat dia karena tak harus menyewa pekerja untuk memetik. Di sisi lain pengunjung menikmati acara memetik apel seolah-olah di kebunnya sendiri. Ini namanya pelajaran wirausaha.

Alam lingkungan sekitar kita adalah kelas yang baik untuk belajar. Nilai-nilai istimewa tentang lingkungan sendiri kadang baru kita dapatkan setelah kita pergi melihat cara komunitas lain memperlakukan situasi yang sama.

“Time in nature is not leisure time; it’s an essential investment 
in our chidlren’s health”―Richard Louv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *