dari Pulau ke pulau

MELOMPAT DARI PULAU KE PULAU (Aku Cinta Indonesia)

MELOMPAT DARI PULAU KE PULAU (Aku Cinta Indonesia)

Direncanakan setahun sebelumnya dan tibalah hari besar itu. Liburan kenaikan kelas yang bersamaan dengan libur hari raya Idhul Fitri. Itu berarti Mama dan anak bisa holidei bareng. Papa sih bisa kerja kapan dan di mana saja dan urusannya seputar mengurus liburan orang, so lebih fleksibel. Kami sekeluarga akan melompat dari pulau ke pulau, numpang mobil sendiri. Rute melompatnya : Pulau Flores (Ruteng, Labuan Bajo) – Pulau Sumbawa (Sape, Bima, Hu’u, Pantai Kencana) – Pulau Lombok – Pulau Bali – Pulau Jawa (Surabaya, Malang). Rombongan menurut usia : Papa leo, Mama Lila, Tante Nita, Oca, Lala (sepupu Oca), dan Iel.

Cerita Ruteng-Labuan Bajo biasa : sampai di kelokan hutan Nteer pasti ada yang mengeluh pusing dan mual. Sembuhnya di warung Lembor, lanjut ke Labuan Bajo. Tahap satu selesai. Esok pagi harus ke dermaga pukul 07.00 karena di jadwalnya feri penyeberangan akan beranagkat pukul 8.00. semangat empat lima eeeh ternyata feri baru bergerak pukul 11 siang. Nah ini juga bagian dari cerita petualangan di Indonesia. Jadwal yang diubah seenaknya tanpa pemberitahuan dan tak bisa dikomplein. Meskipun waktu diisi dengan mewarnai , buku cerita, ngemil, jalan-jalan seantero kapal tetap aja keterlambatan bikin mati gaya. Mau tak mau nyewa kasur untuk baring-baring.

Namanya penyeberangan antar pulau di Indonesia ceritanya pasti gitu deh. Selain soal jam karet suasananya juga khas. Meskipun jauh lebih bersih dari bertahun-tahun lalu (saat saya masih kuliah) tetapi masih tetap ‘harus diperbaiki’. Masih ada ayam-ayam jago duduk di lantai bersama penumpang, penumpang berbaring dan duduk di lorong (padahal di dalam masih luas), dan bau-bau tak sedap. Kami makan siang dengan bekal yang kami bawa (antisipasi taka da pedagang karena saat itu masih puasa). Menjelang sore kapal merapat di pelabuhan Sape. Kami akan menginap di hotel Mutmainah. Di beberapa ruas jalan agak macet ada pasar kaget buka puasa. Jam buka puasa kami tiba di hotel. Bersama sejumlah tamu domestic kami disuguhkan hidangan prasmanan: sayur bening, sop, daging, kerupuk. Enak. Hotelnya berupa rumah panggung berdampingan dengan toko souvenir yang juga besar. Sebelum meninggalkan hotel keesokan harinya kami semua sempat melihat dan berbicara dengan ibu-ibu penenun masih di kawasan hotel.

Bima –Dompu- Hu’u. Hu’u termasuk kabupaten Dompu, di pesisir selatan Pulau Sumbawa. Karena menghadap samudera Hindia, ombak di sana tinggi dan ganas sehingga sering dijadikan tempat olah raga selancar professional. Karena jalan-jalan tidak melulu soal tujuan, maka on the way to Hu’u juga harus dinikmati. Anak-anak tertarik dengan cidomo dan kambing-kambing kecil yang turut menjadi pengguna jalan, tambak-tambak ikan dan kebun bawang.

Aman Gati Hotel tempat kami menginap letaknya persis di Pantai Lakey Peak. Tidak banyak wisatawan domestik yang kelihatan. Sebaliknya bule-bule dengan perangkat selancar mondar mandir di sana. Mungkin karena itu menu di resto nya pun kebanyakan makanan orang bule (selain nasi goreng, nasi campur dang ado-gado). Keponakan saya memilih makanan Italia nachos, dan ternyata rasanya enak he he

Kami bermain-main di pantai. Papa Leo sibuk dengan fotografinya, beliau bahkan menyewa speed boat supaya bisa memotret para pseselancar dengan hasil yang bagus. Oya, pegawai hotel ini mulai dari FO hingga bellboy nya kebanyakan orang Manggarai – Flores (dari daerah Kolang). Jadilah acara sapa menyapa, ganda (ngobrol) dan cecop (tiping ala Manggarai he he). Mereka umumnya sudah menetap lama di daerah itu.

Hu’u – Dompu – Pantai Kencana : Pantai Kencana letaknya di bagian barat pulau Sumbawa, kira-kira 70 km dari pantai Lakey Peak atau 10 km dari kota Sumbawa Besar. Kami tidak menghitung jam, perjalanan memakan waktu seharian. Kami selalu berhenti di mana kami suka, sekedar duduk, foto atau menyaksikan rombongan kambing lewat. Lapar tetapi tidak menemukan warung makan, maklum masih bulan puasa. Di Dompu kami berhenti dengan masjid berkubah emas di tengah kota. Kesempatan saya menerangkan tentang tradisi agama-agama di Indonesia pada anak-anak. Di luar kota di antara tambak-tambak bandeng ada restoran yang buka. Pemiliknya muslim yang berpuasa tetapi mereka menyediakan makan untuk orang-orang yang tidak berpuasa terutama para sopir antar kota dan pulau. Tempatnya bersih da nada tenda-tenda untuk duduk. Menunya pun segar : ikan segar, bening bayam segar, kepiting segar, cumi bakar. Pestaaaa. Hari itu 11 Juni, anakku berulang tahun ke 12. Mama juga merayakan ulang tahun melahirkan anak pertama. Makanya saya tak keberatan makan hari ini agak mewah.

Om Ardi Agus menyambut kami di hotel Kencana Beach. Saat itu sudah magrib. Karena sudah diberitahu sebelumnya kami langsung pada acara potong kue ultah kaka Oca. Tamu-tamu dan resepsionis di situ ikut memberikan salam. Sayang malam ulang tahun itu adalah awal situasi sulit untuk Oca. Dipicu terlambat makan dan kebanyakan makan pedas di jalan , Oca kesakitan. Asam lambungnya naik dan malangnya saya tidak berpikir soal obat lambung. Penderitaan itu berlanjut keesokannya. Kasian sekali dan di jalan Oca diare, sakit perut. Kalau mau ke rumah sakit harus balik ke kota. Pilihannya adalah lanjut bertahan dengan obat penahan sakit. Saya mesti menceritakan ini bahwa perjalanan tidak selalu berkaitan dengan cerita-cerita indah. Ada pengalaman tidak enak seperti sakit, bosan, kehabisan uang, macet, salah komunikasi dan lain-lain. Apalagi membawa anak-anak seperti saya. Itu akan menjadi pelajaran untuk semua di kemudian hari.

Pantai Kencana SumbawaPulau Lombok : Perjalanan terasa lebih lama. Di feri penyeberangan Oca berbaring saja. Beruntung Oca dan Lala sehat-sehat saja. Berlabuh di Lombok Timur kami mulai mencari-cari rumah sakit, tetapi sampai di kota Lombok Oca bisa ditolong. Kami ada di UGD RSUD Lombok. Ini juga bagian dari trip, ya diterima saja. Rupanya sudah lama Oca kena radang lambung (mama kecolongan, Oca makan makanan pedis terlalu banyak melebihi kekuatan lambungnya). Keadaan ini membatalkan agenda tertentu, tetapi positifnya kita dapat pengalaman lain yang tak terduga. Teman kuliah saya yang tinggal di Lombok datang berkunjung sebentar. Meski tak jadi selfie bareng tapi saya senang bertemu seorang setelah belasan tahun.

Lombok tempat yang indah. Meskipun kesenangan berkurang karena Oca sakit dan hari hujan tapi kami berusaha menjaga situasi. Bagaimanapun ini liburan. Kadang-kadang situasi tak selalu sesuai harapan tetapi itulah petualangan. Hotel Puri saron ini keren dan managernya orang dari Manggarai pula. Hari pertama kami di hotel saja. Oca masih bisa main-main meskipun hanya di kamar. Anak-anak lebih pintar menikmati situasi. Main air di kamar mandi, coba kursi kamar sana kamar sini. Lihat ikan di kolam, tes keran air dan macam-macam. Saya sendiri jatuh cinta pada tempat tidur kamar kami di Puri saron ini. Tempat tidur klasik berkelambu. Biasanya hotel hanya untuk nginap, hari ini kami berlibur di hotel. Hari berikutnya di Lombok: Papa, mama dan Iel sempat ke suku Sasak di kampung Shade dan pantai Kuta Lombok. Tanta Nita dan Lala bertamasya di hotel aja.

Lombok-Bali : keputusannya adalah Mama dan oca naik pesawat, sedangkan Papa Leo tetap menyupiri Tanta Nita dan Iel ke Bali. Oca harus ke rumah sakit lagi. Tak enak tapi tak bagus Oca berlama-lama di mobil. Puji Tuhan oca aman di pesawat dan sampai Bali langsung ke UGD sebuah Rumah Sakit dan lanjut beristirahat di hotel. Hotel Puri Kelapa Sanur adalah rumah kami setiap kali ke Bali. Para pegawai hotel sebagian besar mengenal kami sehingga agak mudah memesan makanan sehat untuk Oca. Oca harus dirawat dan beristirahat. Dia enggan berenang dan jalan-jalan karena badan tak enak. Betapa bahagianya saya ketika Oca menikmati bersepeda di tepi pantai Sanur dengan Lala.  Sesuai janji anak-anak diijinkan bermain di time zone sepuasnya (menggunakan tabungan masing-masing) dan membeli buku di Gramedia.

Selain berekreasi kami berharap family hoping kali ini memberi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada anak-anak. Kami menyeimbangkan porsi sedtinasi popular dengan destinasi khusus eco community dan kelompok edukasi lainnya yang penting untuk membentuk sudut pandang anak. Salah satunya adalah tour ke Green School Bali. Tentang ini akan saya ceritakan khusus.

Bali Batu Malang. Mobil ditinggal di Bali. Tanta Nita juga memilih di Bali karena ada adiknya kuliah di Singaraja. Kali ini kami terbang, naik pesawat ke Surabaya dan bermobil ke Batu. Batu kota yang sejuk dan indah. Makanannya enak. Sepupu Oca yang kuliah di Malang datang bergabung bersama seorang temannya sehingga rombongan masih rame meski tidak ada Tanta Nita. Kami menginal di Hotel Orchid Garden. Makanan di restonya kebanyakan makanan Indonesia dengan rasa super enak. Ini makanan Indonesia terenak yang pernah kami cicipi selama berlibur.

Target utama ke malang adalah museum angkut. Horeeeeee. Singkat kata museum ini keren banget. Ada apa di angkut? Museum angkut memiliki konsep spektakulet tentang sejarah transportasi (pengangkutan) di Indonesia dan dunia. Dibuka 9 Maret 2014 nama museum angkut menjadi kian terkenal karena karena atraksi wisata yang menggabungkan antara pengetahuan, sejarah dan hiburan yang menarik. Museum angkut ini berisikan kendaraan-kendaraan yang ada dari zaman dahulu yang sering digunakan orang untuk bepergian dari beragam tempat di dunia dan ditempatkan pada konteks sesuai cerita tempat aslinya. Museum yang luasnya kurang lebih 3 hektar ini berisi sejumlah zona yakni zona hall utama, zona edukasi, zona Sunda kelapa dan Batavia, zona gangster Town & Bradway Street, Zona Jepang, Zona Eropa, zona Istana Buckingham, zonal as vegas, zona Hollywood dan pasar apung (zona nusantara/Indonesia). Semua zona ditata sangat menarik. Dipastikan baik anak-anak maupun orang dewasa akan melupakan lelahnya mengelilingi museum ini.

Selain Museum Angkut kami juga pergi memetik apel di agrowisata Apel, membeli kripik apel, ke taman bunga Selekta, candi Ngadisari dan rumah hantu di alun-alun kota Batu. Karena hari Minggu kami berusaha ke gereja meskipun hanya berdoa sebentar. Turun ke kota Malang, berdoa di gereja dan makan es krim dan sop buntut di restaurant kondang Oen. Sop buntut dan es krim nya sih biasa saja (lebih enak yang di hotel) namun berhubung resto ini sering ada di acara perjalanan TV dan terkenal dengan gaya layanan khas belandanya, maka kami relakan makan dengan bill agak mahal di situ. Pengalaman itu mahal bo….

Biarpun hujan kami masih punya satu aktivitas keren lagi : wisata petik madu. Tempatnya di tepi jalan batu – Malang, disatukan dengan warung makan. Di situ ada peternak lebah yang menjelaskan segala hal mengenai bangsa lebah dan bunga termasuk kasiat madu dan produk turunannya. Yang menarik kami boleh menyediakan telapak tangan dan wajah untuk disinggahi serombongan lebah. Berani? Iel aja berani.

MalangBali Flores : Saatnya pulang. Kali ini kami melompat lewat udara.

Catatan : Berpergian seperti ini memang mahal, namun jika kita memiliki goal tertentu makan biaya bisa ditekan dengan perencanaan yang matang. Kami berniat membantu membentukt pandang khusus anak mengenai keanekaragaman Indonesia, semangat cinta lingkungan, kemanusiaan dengan melihat dan mengalami langsung.

Tips lainnya :

  • Bicarakan rencana ini pada anak minimal setahun sebelumnya. Sesuaikan seluruh jadwal dan kemungkina-kemungkinannya;
  • Beri kewajiban pada naka untuk menabung jika ada keinginan khusus seperti main in time zone, membeli oleh-oleh atau hal lain yang diinginkannya;
  • Beri pengertian pada angota keluarga tentang penghematan di rumah: makanan, jajan, les tambahan diganti dengan belajar gratis dengan anggota keluarga;
  • Korbankan belanja besar lainnya sehingga tabungan cukup.
  • Pinjam di koperasi
  • Yang harus selalu ada : obat-obatan untuk pertolongan pertama termasuk minyak gosok dan lotion anti nyamuk camilan sehat tahan lama, cadangan air minum untuk di jalan, buku / pinsil mewarnai, mainan yang bisa dimainkan beberapa orang, buku cerita, buku catatan, selimut ringan, daftar nomor telepon penting.
  • Jika membawa calon gadis remaja tanggung, siapkan cadangan pembalut untuk menjaga kemungkinan ybs mendapatkan haid pertama di jalan;
  • Di perjalanan : Sejauh mungkin menghindari minuman bersoda, mi instant dan jajanan yang berkemungkinan membuat sakit
  • Buat ringkasan perjalanan yang wajib dibaca sebelum bepergian.

Foto gallery

5 thoughts on “MELOMPAT DARI PULAU KE PULAU (Aku Cinta Indonesia)

  1. Ka lila, cerita liburannya seru….. kl blh usul, disetiap ceritanta disertakan gambar shg yg baca bs ikut menikmati gambarnya dab berimajinasi dg ceritanya lbg konkrit, mis cerita di kapal menyebrang betcsmpur dg ayam gambarannya kayak apa?sekadar usul dr penikmat cerita welakaweng

  2. …terimakasih ceritanya enu Lila, spt cerita ini ya indah nian rasanya seakan ikut dalam perjalanan ini, sakit perut dll dari ruteng ke labuan bajo kalau saya, di bahong sudah mulai mual dan seterusnya…bahkan saya pernah naik sepeda motor utk menghindari mabuk akan tetapi tetap saja mabuk, di lembor tdk ilang karena biasanya saya tdk ikut makan(kebiasan berhenti makan di lembor menurut saya tidak baik karena bukan waktunya makan hehehe)…. jadilah selalu tdk dpt menikmati perjalanan, semoga cerita ini jadi inspirasi bagi banyak orang, tidak ada kata terlambat sebab zona waktu orang berbeda2 kapan saja pasti bisa utk liburan bersama keluarga, harus ada prinsip dalam hidup jangan sibuk mengurusi pemberian Tuhan kepada orang lain akan tetapi ikut senang melihat orang senang dan seterusnya dan jangan lupa berdoa berharap dan berjuang agar bisa spt orang lain bahkan lebih, tentu dlm hal kesempatan sama spt Obama pensiun presiden umur 55 dan donal bebek jadi presiden umur 70, yaahh…enu Lila luar biasa cerita ini suatu saat bisa jagi buku cerita yg mahal, karena bisa dibaca tuntas dengan titik komanya karena saking indah…salam makin sukses pengusaha muda manggarai…teruslah jaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *