Graduation, Sekolah Yoga

MAMA LILA  SEKOLAH  YOGA DI UBUD (Bagian 3)

Minggu ke-3

Manajemen kelas  masih rapi dan konsisten. Pagi hari (pukul 06.15) selalu dimulai dengan sadhana (kegiatan spiritual – asana/postur tubuh dan meditasi). Sore menjelang malam (Pkl 18.00-18.30) juga ditutup dengan sadhana. Setelah sadhana baru sarapan pagi : bisa memilih roti komplit dengan selai stroberi, jajan bali (ketan merah/putih diberi parutan kelapa), aneka buah, bubur kacang, kadang-kadang tersedia talas dan labu kuning. Kopi, teh, gula pasir, gula aren dan  santan kelapa. Santan kelapa difungsikan seperti susu, dicampur kopi bagi mereka yang suka. Lidah saya sih belum suka kopi hitam saya dinodai santan kelapa. Sebagian besar bule suka, nyatanya santan kelapa di ceret kaca selalu tandas. (selera memang soal kebiasaan ya??)

Pada minggu ketiga,  materi  selain sadhana  adalah tata cara mengajar dan latihan memperbaiki pose, pernapasan, pembersihan tubuh dan pikiran, yoga sutra Patanjali, beberapa materi filsafat/psikologi, tubuh dan ujian praktek tata kelas dan mengajar. Pernah ada sesi yoga tertawa dan mantra yang sangat menyenangkan. Ada juga kesempatan konsultasi pribadi pada saat jam istirahat makan siang. Pada malam hari, sesekali diadakan kegiatan yang sifatnya opsional (yang mau boleh ikut, yang tidak tertarik tidak mesti hadir) yakni ‘bhajan’ (musik puja-puji berbahasa India) dan diskusi mengenai seksualitas dan konsep kecantikan.

Pada minggu ketiga hujan turun hampir setiap hari, kadang disertai angina kencang. Secara pribadi suasana seperti itu sering menciptakan perasaan sentimental tertentu, apalagi jauh dari rumah. Rupanya para instruktur membaca perasaan itu. Jika hujan mulai turun atau angin berhembus dengan gaya ‘rock and roll’ mereka mulai mengalihkan sudut pandang atau menetralkan dengan kata-kata : ‘alam sedang bernyanyi merdu’, ‘angin itu semacam variasi mantra alam’, atau ‘terima kasih untuk hujan yang memberikan kehidupan’  atau ‘bersama hujan mari kita menyerap energy semesta’. Terdengar seperti puisi tetapi ampuh untuk  mengubah perasaan mellow dan sentimental  menjadi perasaan yang  romantis.

Bagaimanapun kami telah mengerahkan energi fisik dan mental selama dua minggu dalam  rangkaian program yang padat. Tiga hari pertama di  minggu ketiga kelelahan mental  dan fisik semakin terlihat. Ada saja  yang menangis, sakit dan berwajah pucat.  Saya juga sudah mulai rindu dengan keluarga di rumah. Saya  memperhatikan teman-teman saya yang hebat-hebat itu.  Para bule juga ternyata  bisa menangis tersedu-sedu (nb: ternyata bule juga manusia he he he !)  bahkan untuk soal-soal semacam tidak digubris pacar, kangen mama, keseleo leher, bosan hingga soal-soal berat semacam kerusuhan di negara asaldiceraikan tiba-tiba, masalah dengan orang tua dan sebagainya. Rupanya dinamika  seperti  itu   dibiarkan terekspos secara  natural. Pada saat seperti itulah relasi antar kami semakin karib. Orang-orang dari berbagai negara dan latar belakang  yang sebelumnya memandang asing satu sama lain berbaur sebagai keluarga. Saling menguatkan, mendukung, memeluk dan menghibur. Bercanda dan tertawa terbahak-bahak, menangis bersama dan tidak sungkan  menceritakan hal-hal pribadi. Pemandangan  dan perasaan yang luar biasa mengharukan.

Banyak hal bisa dijadikan pelajaran dari setiap manusia unik itu. Saya mencatat beberapa hal soal ketenangan, kerendahan hati, mendengarkan, memuji dengan tulus termasuk saling menolong. Teman saya yang periang menceritakan bagaimana ekonomi di negaranya tidak stabil dan trauma setelah perang teluk, bagaimana para perempuan bekerja sangat keras untuk keluarga dan lingkungannya. Dia bilang dia belajar yoga karena ingin dirinya kuat dari dalam. Saya  jadi menitikan air mata.  Teman yang lain berbagi cerita tentang musim-musim di negaranya, makanan khas, yoga di daerah asalnya dan hal-hal lain. Mereka bertanya pada saya tentang rata-rata pendapatan kelas menengah di Indonesia, tentang Pulau Flores, Bali, Orang Utan, bahkan tentang gempa dan tsunami yang melanda Indonesia.

Selain soal relasi, saya suka sekali menyimak cara teman-teman saya  mengungkapkan pendapat dan sudut pandang yang berbeda-beda (mungkin pada saat yang sama mereka juga menyimak saya !). Kebanyakan mengungkapkan pendapat, pertanyaan dan perasaan secara lugas dan tanpa banyak basa-basi. Teman dari Eropa selalu memuji penggunaan bahan-bahan alam di Bali. Mereka  terkagum-kagum antara lain pada bungkus makanan dari daun pisang sementara  sobat saya  dari Iraq  bingung dan bertanya mengapa tukang warung memakai daun pisang sebagai wadah makanan.  ‘Apakah mereka tidak memikirkan bakteri ?  tanyanya bingung.

Ada seorang teman yang selalu mondar-mandir selama pelajaran teori, tetapi dia sepertinya menyimak semua hal dan bertanya banyak sekali. (Kami memang boleh berpose apa saja selama materi teoritis : berbaring, telungkup, duduk di lantai, duduk di kursi, berdiri atau menaikan kaki. Yang penting hadir secara fisik dan mental dengan pikiran terfokus pada materi).  Si teman tidak pernah kekurangan energi bertanya dan menyimak bahkan pada jam-jam siang dengan angina sepoi-sepoi dan  sebagian warga kelas memesan kopi.

Teman lain adalah seorang  pria dengan anting lima buah di salah satu kuping dan tato di sekujur tubuh. Dia hobinya latihan gerakan akrobatik sehabis makan bahkan mengumumkan kesediaan mengajari gerakan-gerakan semacam headstand, handstand dan segala macam gerakan jungkir balik lainnya pada jam istirahat. Setelah dikenal lebih dekat si pemakai anting dan tatto itu manis perangainya. Dengan logat Inggris yang sangat kental, dia selalu mendengar dengan sabar jika kita berbicara padanya, membantu gerakan dengan pendekatan yang lembut dan ramah. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras dan juga vegetarian. Nah lho !!!????

Ada seorang perempuan cantik, sangat percaya diri dengan gerakan yoga layaknya seorang profesional. Awalnya saya menghindar dari dia, semacam perasan grogi dan tidak bisa mengimbangi omongannya yang tegas dan sempurna. Sayang setiap diundi saya selalu sekelompok dengan dia. Tidak ada pilihan lain, harus ada cara bersahabat dengannya. Di suatu waktu saya mengetahui bahwa si cantik itu seorang bintang film dan penata rias artis di negaranya. Di waktu yang lain secara alamiah kami berpelukan dan saling berbagi bunga (untuk menghias studio). Manis bukan ? Dia yang hebat itu sempat menangis keras karena suatu persoalan rumah tangga, namun setelah itu dia berusaha keras fokus kembali pada kegiatan. Pelajaran tentang menempatkan persoalan secara proporsional.

Teman yang lain seorang mantan guru balet yang sempat cedera dan memilih belajar yoga. Ibu separuh baya dengan bahasa Inggris belepotan seperti saya itu itu sangat tenang dan keibuan. Tubuh semampainya indah dan saat kami berjoget bersama, nampak sekali ayunan tubuh si ibu enak dilihat.

Saya juga sering semeja makan dan ngobrol dengan seorang ibu berusia 53 tahun yang adalah seorang atlit lari. Senang mendengar cerita kompetisi lari yang diikutinya setiap tahun. Doaku mudah-mudahan dalam usia seperti dia nanti saya pun sebugar beliau. Teman-temanku yang lain juga membawa ceritanya masing-masing.

Selain sebagai seorang pribadi Lila, saya juga sering menampilkan diri sebagai wakil Indonesia, menjelaskan daerah ini dan itu, makanan ini dan itu dan tentang kondisi politik negara kita kita. (Wah serasa jadi putri wisata he he he). Saya menjadi semakin nasionalis berada di antara orang-orang asing itu.  Kalau dipikir-pikir sepatutnya saya bangga karena Indonesia memang negara yang kaya dan damai.  Kata teman-teman saya, menjadi vegetarian di negaranya cukup sulit karena  bahan makanan vegetarian  sangat mahal. Di Indonesia mudah sekali mendapatkan segala macam buah, sayuran dan biji-bijian dengan harga terjangkau. Kelapa, pisang, tomat, advokat, sawi, bayam, nangka, aneka jenis beras dan kacang-kacangan, bengkuang dan segala macam sayuran lainnya.  Teman saya mengangguk-angguk kagum waktu saya bilang saya punya pohon kopi dan pisang di halaman. Kita juga punya banyak hutan, pantai, dan budaya  yang tidak dimiliki  bangsa lain.  Hal lain adalah bahwa Indonesia negara yang damai. Betul ada segolongan orang yang doyan menciptakan konflik tetapi sebagian bangsa Indonesia berjuang keras mencintai damai dalam kebinekaannya. Suatu kali  ada kejadian, seorang teman (dari sebuah  negara yang selalu dikabarkan berkonflik dengan tetangganya)  menangis karena ada kabar terjadi kerusuhan besar di dekat kota tempat tinggalnya. Ia mengkuatirkan keluarganya. Ketika situasi lebih tenang saya bertanya-tanya soal itu. Inti jawabannya bahwa tidak ada perang atau konflik yang memberikan keuntungan bagi siapapun.    Selalu ada luka, dan trauma. Warga biasa berjuang sendiri menumbuhkan optimisme, kekuatan bertahan dan bergembira   di tengah situasi yang kerap diwarnai konflik.   Di lubuk hati saya berterima kasih untuk Indonesia yang damai.

Kembali ke kelas: ujian tata kelola studio yoga dan praktek mengajar (sesi ketiga  dimulai). Secara bergilir kami menjadi instruktur dan sebagai siswa. Penilaian diberikan oleh teman-teman kelompok yang menjadi siswa dan juga seorang supervisor/instruktur. Tidak ada item yang luput dari penilaian: tata kelas (ruang, dekorasi), pembukaan-penutup, asana/gerak tubuh (cara memberi istruksi, dan contoh) , intonasi suara, pendekatan pada siswa dan sebagainya dinilai secara detail. Kami pulang satu setengah jam lebih awal untuk mempersiapkan diri termasuk membaca untuk ujian final tertulis . Saya mendapat giliran terakhir di kelompok dan jatuh pada minggu keempat. Lumayan lama deg deg an namun ada waktu untuk belajar dari teman-teman.

Untuk mengurangi ketegangan di suatu malam saya menyempatkan diri menyaksikan pertunjukan tari Kecak dan Ramayana di Pura Dalem (pura desa) yang hanya berselang beberapa rumah dengan penginapan saya. Tiket masuk Rp 80.000,- sama untuk turis asing dan domestik.  Penonton yang kebanyakan orang asing bisa memilih tempat duduk yang dibuat bertingkat-tingkat atau pada kursi yang langsung menyentuh tanah. Beberapa ibu berkeliling menjajakan minuman dan makanan ringan  dengan bahasa Inggris  logat Bali. Suasana Pura memberi  kesan sendiri pada pertunjukan tari yang luar biasa menarik itu. Kecak itu  tepatnya disebut sendratari, semacam  seni peran yang melibatkan tujuh puluh pria dan seorang  perempuan cantik (Shinta).  Tidak ada alat musik yang mengiringi tarian. Tari menjadi hidup oleh paduan suara para pria yang duduk melingkar dengan balutan sarung kotak-kota hitam putih. Mereka  berulang-ulang menyerukan suku kata ‘cak cak cak’ dengan variasi gerakan tubuh dan tangan. Tari kecak yang sering dipertunjukan dalam upacara keagamaan diciptakan oleh Wayan Limbak dan dipopulerkan pada tahun 1930 dibantu oleh oleh  Walter Spies, pelukis asal Jerman.  Begitulah. Saya cukup puas sempat menyaksikan tari kecak di pura. Pihak pura memberikan kertas ulasan cerita  memudahkan saya memahami arti tarian kecak malam itu.

Pada minggu ketiga ini saya berkesempatan bertemu seorang kawan, tepatnya mantan  klien perusahaan suami saya yang bermetamorfosis menjadi teman. Beliau  seorang pengelola sekaligus instruktur yoga di sebuah studio yoga Ayurveda di Ubud. Pada pagi sabtu (libur) kami sarapan bersama sambil bercerita tentang keadaan, pekerjaan dan hal-hal sehari-hari. Saya lalu bertanya banyak tentang  yoga termasuk  hal-hal yang perlu disaring. Ibu Novi, demikian nama teman kami itu  secara sederhana, santai namun berisi memberikan penerangan yang bikin saya sangat lega. Kesimpulannya : kita selalu punya sistem saring di dalam diri untuk memilih hal-hal yang berguna dan sesuai konteks kehidupan kita. Tidak wajib mengadopsi seluruh ajaran yoga, pun tidak wajib mengetahui semua pengetahuan itu.  Kita memilih bagian yang paling kita butuhkan, sifatnya fungsional dan bukan kompetisi. Kami berkeliling naik motor ke beberapa tempat di sekitar Ubud termasuk pasar  umum. Berbelanja dengan sesame perempuan itu sangat mengasyikan. Membeli sepasang anting saja menghabiskan waktu hampir sejam. Apa yang kami lakukan ? yaaa ngobrol dengan si ibu penjual. Coba ini itu sambil tertawa-tawa.  Penjual kopi lewat, kami minum kopi dulu. Benar-benar asyik.

 

Minggu ke-4

Penuh harapan namun menegangkan. Sebentar lagi selesai tapi masih ada ujian teori dan praktek.  Sadhana masih dijalankan pagi dan sore. Pada minggu keempat ini juga diprogramkan retreat – silence days selama dua setengah hari. Selama hari-hari itu kami tidak boleh berbicara satu sama lain dan  dianjurkan untuk tidak menggunakan alat komunikasi. Hadir dengan tenang,  makan dengan diam, di kelas mendengarkan tanpa bersuara (komentar, pendapat dan pertanyaan ditulis di atas kertas). Meditasi lebih panjang dari biasanya. Pihak academy menyediakan makan malam dua hari dengan maksud kami tidak perlu ke mana-mana setelah pulang ke penginapan. Saya sendiri belum pernah diam selama itu. Pada saat evaluasi (sharing time) tiga orang dengan jujur mengatakan tidak menyukai program hening itu, sementara lainnya menikmati meskipun lelah duduk dalam waktu lama. Saya sendiri tidak sungguh patuh   mengikuti program itu. Malam hari saya masih berbicara dengan suami dan anak-anak saya di telepon meskipun tidak lama. Saya juga berbicara dengan salah satu teman yang sepenginapan dengan saya dan saat itu sedang sakit. Bagaimanapun saya menikmati waktu hening di sekolah yang  cukup lama  itu. Silence days diakhiri dengan bhajan ().

Tanggal 22 November giliran saya mengajar. Pada saat akhir saya memilih tidak memikirkannya lagi meskipun saya masih tegang. Lima teman sebelumnya tampil sangat memukau. Bagusnya teman-teman mengingatkan bahwa kami tidak sedang bertanding. Kami harus mengumpulkan pelajaran dari setiap penampilan untuk kekayaan bersama (itu hebatnya yoga). Perasaan juga lebih tenteram karena kami sudah lebih akrab satu sama lain dibanding pada saat praktek sebelumnya. Yang bikin saya tambah bersemangat adalah bahwa sore ini saya akan kedatangan tamu istimewa: suami tercinta  mengunjungiku. Siapa yang tidak bahagia coba ? Maka praktek mengajar dijalankan dengan semangat. Studio dua ditata dengan manis. Mendapat inspirasi dari peserta sebelumnya, saya membersihkan studio, menaruh kuntum-kuntuk bunga  jepun (kamboja) tiga warna dan kembang sepatu di beberapa tempat termasuk di atas bantal yoga masing-masing peserta. Bunga-bunga itu saya kumpulkan sejak pagi di guest house dan dari sekitar sekolah. Atas bantuan saran karyawan guest house, bunga-bunga itu saya letakan di mangkuk berisi air biar tetap segar saat digunakan.

Saya mulai mengajar dengan gaya agak mekanis, mengikuti hafalan yg sudah saya latih. Dalam perjalanan segalanya mengalir begitu saja, Saya menikmatinya dan berbicara seolah-olah saya sudah melatihnya sebelumnya. Bahkan kelas berakhir dengan sangat mengharukan.  Kami berpelukan dan menyeka air mata masing-masing. Mengesampingkan rasa bangga, saya merasa sangat  bersyukur  mengalami semua itu. Done… !

23 November, jumad, hari terakhir YTT. Suamiku ada dan kuperkenalkan pada teman-teman dan instruktur. Pagi hari kami masih wajib mengikuti ujian tertulis dan praktek asana dan tata cara mengoreksi siswa. Setelah itu ada semacam materi pembekalan  bertajuk ‘responsibility in teaching yoga’. Kami dibekali catatan memulai mengajar yoga beserta tanggung jawab yang menyertainya. Sebelum makan siang diadakan upacara  white fire, semacam ritus refleksi bersama mengelilingi api putih yang kami nyalahkan secara bergantian. Tamu tidak diijinkan ikut, belakangan saya baru tahu acara ini melibatkan ekspresi emosional (tangis-tangisan) so tak enak lah ditonton tamu. Suami saya dan seorang keluarga peserta lainnya baru hadir saat graduation pukul 14.30.

Dari karyawan dapur baru saya tahu jika  saat graduation  tradisi tak tertulisnya adalah bahwa peserta tampil agak dress up, berpakaian keren dan tidak berpakaian olah raga. Apa yang harus kupakai ? Semua bajuku seputar kostum yoga. Suamiku berbaik hati mengajakku ke pusat kota setelah makan. Hujan deras maka kami kesulitan berkeliling. Mau tak mau saya bersedia merabah kocek agak dalam untuk membeli selembar blus di sebuah took batik bermerk terkenal.  Cantik, tapi pada situasi normal saya pasti tidak bersedia jika harganya seperti itu. Tak apalah, kan wisuda

Graduation ceremony berjalan sederhana namun asyik. Hall tempat yoga didandani dengan tulisan ‘Fully Love You’ memakai beberapa jenis bunga segar. Ada lilin cantik dan dupa wangi. Empat  orang instruktur bergantian berpidato singkat. Lalu kami dipanggil satu per satu, diberi sertifikat, dikalungkan rangkaian bunga jepun, tak ketinggalan beberapa hadiah (buku puisi dan biji rudraksa yang biasa dirangkai untuk kalung namaste). Salah seorang peserta juga mengucapkan pidato terima kasih atas nama peserta. Setelah itu kami berjoged ria, perpelukan dan berfoto-foto hingga puas. Malam hari kami makan di sebuah restoran bernuansa yoga di pusat kota. Hariyang sangat menyenangkan.  Oya, teman saya yang artis itu pulang lebih awal karena urusan visa di Malasya. Saat dia melambaikan tangan tiba-tiba aku merasa sangat meyayanginya. ‘Semoga perjalanannya menyenangkan dan masalah rumah tangganya akan terselesaikan dengan damai !’doaku diam-diam (kemarin kami berjalan bergandengan saat bertemu di pusat kota).

Setelah pelukan perpisahan dengan teman-teman, kami mengambil arah masing-masing. Ada yang langsung pulang ke negaranya malam itu juga, ada yang tinggal beberapa hari di Bali dan Indonesia da nada yang masih bertualang ke negara lain. Saya mendapat bonus  graduation yang asyik: mengikuti suamiku bekerja. Bekerja di  bidang bisnis pariwisata memungkinkan  suamiku berkawan dengan banyak pemilik atau pengelola   travel agency dan hotel. Saling membantu, saling berbagi informasi  dan saling memberikan diskon. Kali ini   The Elysian Boutique  di Seminyak Bali menjadi tempat kerjanya.  Tiga hari di sana lumayan mengendurkan saraf.  Villa ini  sangat sangat hijau, cantikdan mewah. Tempat impian  untuk berfoto dan berleha-leha. Saya menghabiskan waktu dengan membaca buku, berfoto-foto di setiap sudut, menulis, berenang dan berbincang-bincang dengan pegawai hotel yang ramah.  Sarapan pagi di restoran yang menyatu dengan dapur persis di samping kolam renang yang cantik membuat betah.  Suamiku sibuk dengan urusan kerjanya dengan rekan bisnis yang juga bekerja untuk villa ini. Selain itu ia juga berkeliling dan belajar dari tim kebun mengenai  tanaman-tanaman yang ada di kompleks villa

Meskipun sangat menyukai petualangan ini, bagi saya kebahagiaan terpenting adanya di rumah. Aku rindu anak-anakku. Kami pun pulang dengan damai dengan perjalanan yang dirahmati Tuhan. Home sweet home. Terima kasih Tuhan