Yoga Teacher Training,

MAMA LILA  SEKOLAH  YOGA DI UBUD (Bagian 2)

 

Belajar dari Lingkungan

Jadwal kegiatan hari Minggu sampai dengan Jumad setiap minggu dari pukul 6.30 pagi hingga 18.30 menjelang malam.  Sabtu libur.

Sebenarnya ada pilihan untuk memilih kelas YTT milik orang Indonesia  di Jakarta dengan sertifikat yang juga berafiliasi denga Aliansi Yoga Internasional. Kepada saya pernah disampaikan informasi lengkapnya. Materinya komplit, biaya belajar lebih murah untuk level yang sama dan yang pasti menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.  Lantas apa sebab memilih sekolah yang dikelola orang asing dan menggunakan bahasa Inggris pula ? Untuk yang terakhir sangat penting berhubung bahasa Inggris saya sangat pas-pas-an terbatas untuk gaya-gayaan status di media sosial, jauh dari kemampuan berbahasa formal apalagi ilmiah.

Pilihan pada satu studio yoga memiliki konsekuensi, kelebihan dan kekurangannya.  Alasan pertama saya enggan ke Jakarta adalah karena saya tidak mengenail baik hal ikhwal Jakarta, bagaimana ke sana ke mari –nya selalu membuat saya bingung. Saya pasti akan selalu butuh ditemani. Saya tidak tahu cara menggunakan fasilitas modern kota besar tanpa dibantu. Selain itu otak saya lebih dahulu bervisualisasi dengan macetnya jalan dari bandara ke  tujuan (bagian ini selalu mengerikan untuk saya yang terbiasa dengan kehidupan kota kecil).  Dari segi biaya memang ada selisih sekitar 10-an juta. Namun setelah dihitung lagi dengan tambahan biaya pesawat dan transportasi lain selisihnya menjadi lebih kecil. Memilih Bali karena saya akan lebih mudah mengurus diri secara mandiri karena cukup sering ke pulau ini. Selain itu tempat kegiatannya di desa (tengah sawah, tepi sungai) meskipun tidak jauh dari pusat kota Ubud akan sangat memudahkan adaptasi  saya yang ‘kampungan’. Lingkungan bersih dan artistik juga menjadi catatan terendiri.

Mengapa Akasha Yoga Academy (AYA)?  Ini soal akses informasi yang tanpa sengaja saya temukan dan langsung berkomunikasi.  Saya tidak menemukan penyelenggara YTT di Bali yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Ya sudah ambil resiko, anggap saja sekalian ikut kursus Bahasa Inggris.

Begitulah, aku harus maju terus. Dua minggu sudah berlalu dengan ritme nya. Tentang sekolah saya akan cerita setelah ini. Lebih dahulu soal sisi lain kehidupan di Subak Sok Wayah – Ubud – Kabupaten Gianyar – Bali ini.

Subak Sok Wayah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari pusat kota Ubud ini ini sangat touristic. Minggu lalu sudah saya ceritakan sebelumnya.  Kegiatan yoga sangat popular di sini. Ada beberapa studio yoga yang rutin menyelenggarakan YTT, Yoga Retreat, atau yoga yang sifatnya temporer (daily yoga).  Penyelenggarara YTT umumnya orang asing dengan penyelenggara dan peserta kebanyakan orang asing pula. Ada juga orang Bali yang membuka studio yoga untuk kegiatan  daily yoga. Tetangga sekolah saya, Pak Putu memiliki tempat belajar yoga. Jadi jika main ke Bali dan punya waktu terbatas namun ingin yoga, silahkan datang. Di tepi gang (hanya kendaraan roda dua yang bisa lewat di jalan Subak Sok Wayah) dipasang papan arah rumah pak Putu dan menu yoga beserta hari dan jamnya.

Tentang membaca trend pariwisata dan pasarnya, orang Bali memang jago –nya. Dengan banyaknya kegiatan yoga, lingkungan sekitar turut menyesuaikan. Di sepanjang kampung berderet warung yang menyediakan makanan vegetarian atau semi vegetarian. Tak perlu memberi tahu pemilik warung jika anda tidak ingin makan makanan berpengawet atau mengandung penyedap MSG . Semua tahu itu.  Makanan enak sehat (segar, organik, tanpa MSG, tanpa pengawet) sangat mudah ditemukan dengan harga berkisar Rp 25 ribu – Rp 50 ribu per porsi. Dari Ibu Made, Chef tempat saya sekolah, saya mendapat bocoran soal penyedap. Kita bisa menggunakan minyak kelapa kampung, susu atau madu dan beberapa bumbu alam tambahan untuk menyedapkan makanan.  Selain warung, itu toko souvenir, took produk perawatan tubuh organik dan spa sesuai  selera  orang yoga banyak tersedia di sini  .

Sepanjang dua minggu menghabiskan waktu siang malam di sini, saya merasakan sekali kenyamanan berkomunikasi dengan orang-orang sekitar, mulai dari pemilik dan pegawai guest house, pemilik warung, pekerja spa, Bapak Ibu Tani atau sesama pengguna jalan. Sopan, ramah dan penuh rasa hormat. Sekalipun untuk beberapa hal komunikasi ini terkait dengan manajemen pemasaran toh tetap wajib diacungi jempol (saya banyak kali mengalami pelayanan yang tidak menyenangkan di warung / toko/ bahkan hotel  padahal kan saya  membayar, bukan ngemis !!!). Kata-kata tolong (please), terima kasih (thanks) dan maaf (sorry) sepertinya sudah menjadi rumus bersama. Top!

Soal konsistensi pelayanan juga Bali juga hebat. Kamar guest house selalu rapi (dirapikan), fasilitas secara teratur dipastikan tersedia (tidak pake diingatin terus!).  Ruang spa sekalipun sederhana dipastikan selalu nyaman dengan beberapa dekorasi alami (bunga segar, lukisan dan aroma dupa).

Soal sanitasi, saya menggapnya sangat bersih (dibandingkan dengan kota saya yang jalan-jalan dan sungainya penuh dengan sampah plastik). Saluran air untuk sawah tidak bercampur dengan air buungan rumah tangga atau dari hotel/ usaha. Sungai-sungai bahkan di tengah kota juga bersih. Entah bagaimana caranya saya tidak tahu, tetapi pasti ada sistem besar yang mendidik dengan konsisten seluruh masyarakat untuk sadar lingkungan.

Sabtu lalu saya menghabiskan waktu jalan-jalan seputar kota. Sebetulnya teman-teman mengajak ke pantai tetapi bulan lalu saya sempat berlayar dari pantai ke pantai di Taman nasional Komodo, jadi kali ini saya memilih pengalaman lain. Bersama kerabat  yang datang berkunjung dari Denpasar, kami berjalan-jalan menikmati suasana kota. Kami tidak menonton tarian karena sudah cukup sering. Kami memilih ke pasar umum. Masuk ke pasar ibarat   memasuki pameran seni yang sangat menarik. Pasar yang bersih, nyaman (saya tidak pernah takut copet selama di Bali) membuat betah berlama-lama. Saya menikmati cara bapak dan ibu-ibu berbahasa Inggris dengan wisatawan asing. ‘Darling, plsi only twenty paip rupiash…..! terdengar sedap di telingaku. Tentu saja sebagai orang Indonesia yang terselip di atara orang asing saya memanfaat kan situasi dengan menawar lebih murah dengan taktik ngobrol dan bercanda. Pada akhirnya selalu berakhir dengan tawa dan rangkulan si ibu penjual, tentu saja dengan diskon yang lumayan. Begitulah, saudara sebangsa dan setanah air harus lebih saling mengasihi. Iya kan? sedappp.

Oya saya juga sempat ke spa (sanitary per aqua alias perawatan tubuh dengan air). Ini agenda wajib jika ke Bali. Untuk tujuan belajar  (selain untuk kenikmatan dan kebugaran) saya selalu mencoba spa Bali. Saya mencatat semua jenis pelayanan, harga dan tata ruang.  Beberapa brosur yang saya ambil dan dari papan menu spa spa itu menyediakan layanan hampir sama. Segala macam pijat tubuh, kaki, dan bahu, perawatan kecantikan wajah, rambut, telinga, lulur, perawatan  kuku termasuk seni cat kuku (nah yang terakhir ini saya doyan banget, kuku bergambar bunga jepun atau kembang sepatu) dan menu variasi  (paket). Harga berkisar 50 ribu hingga lebih dari 500 ribu tergantung jenis perawatan, produk yang dipakai serta fasilitas yang ada.

Hari libur sabtu 10 November saya isi bersama   seorang teman berjalan-jalan lebih jauh di kawasan Subak Sok wayah ini. Sawah dan villa yang saling berdampingan, pondok seni lukis dan panting, warung-warung vegetarian, kebun, spa dan studio yoga bertetangga. Ada sebuah restoran vegetarian sekaligus studio yoga yang terkenal, namanya Dragonfly alias capung.  Tempat itu ditata apik. Restorannya menyediakan banyak makanan enak dengan konsep sangat vegan.  Nasi goreng sayur dan sup kacang lentil, jus buah dan kopi adalah sarapan pagi kami di sana. Saya tertarik satu hal : sedotan jus menggunakan batang/ tangkai papaya muda (wow untuk ini).  Di sekita resto terdapat   kebun sayur organik dan Anda bisa belajar sesuatu dari sana jika mau. Tentang makanan dan barang-barang yang dijual di mini shop juga bisa kita mintai penjelasannya.

Kami juga menyempatkan diri ke Bali Buda, sebuah tempat terdiri dari toko market, tea corner dan restaurant vegetarian dengan konsep fair trade. Fair trade secara umum dimengerti sebagai bentuk sistem perdagangan yang membantu produsen (petani, perajin, nelayan, ) melalui sistem pembayaran adil, kondisi tempat yang layak, bantuan teknis (administrasi keuangan), program kesetaraan, transparansi, saling percaya dan menjaga lingkungan dan nilai-nilai lokal.  Saya menyukai toko ini, tidak besar namun ditata cantik. Bagian depan kasir dan rak segala macam roti.  Juga beberapa jenis obat-obatan herbal yang dikemas cantik.  Segala macam jamu, madu, minyak gosok dipajang di satu rak. Di rak lain segala macam produk perawatan tubuh seperti  pembersih wajah, segala macam krim dan  lotion juga ada. Ada juga tempat segala macam sereal cepat saji yang dibuat dari aneka biji-bijian lokal.  Bibit tanaman (sayuran dan bunga) juga ada. Di bagian belakang (lebih tinggi) terdapat beberapa rak. Di salah satu rak terdapat produk spa yang semuanya dari bahan herbal (minggu lalu saya lewat dan tertarik pada sebuah spa yang ditata mewah dan menggunakan semua bahan alam – namapak seperti bumbu dapur hasil karya ibu-ibu di Bali. Rupanya produk mereka – lah yang dijual di sini). Sabun batang dan cair, sampo, contioner (termasuk unntuk bayi dan anak-anak) dikemas dengan mewah.

Produk lain adalah segala macam mie dan pasta dari bahan lokal dengan pewarna dari segala macam sayur. Juga segala macam bumbu dapur, telur sertya keperluan memasak lainnya. Di rak dengan pendingin dijual segala macam sayuran dan buah segar, keju, yoghurt   dan sebagainya.  Harganya tidak jauh berbeda dengan produk di swalayan umum. Saya membeli sampo kelapa Rp 69.000, garam laut Rp 8.000,- (untuk latihan Jala Neti / pembersihan menggunakan air : seperti membersihkan tenggorokan, dan saluran hidung), Mi goreng berbahan bayam merah Rp 8.000  dan bibit sayur Rp 30.000.   Pihak toko tidak menggunakan plastik (kresek) sebagai tas bungkus melainkan tas yang terbuat dari koran bekas bersih. “Biar bisa bisa didaur ulang, jelas mereka!’. Top lagi!

Selain hal-hal menawan di atas, ada juga sisi lain yang tidak luput dari pengamatan saya. Para pekerja bangunan yang mondar mandir di gang Subak Sok Wayah. Kebanyakan mereka adalah perempuan. Mereka menjunjung batu bata, besi bangunan, semen ke tempat kerja. Saya sering melihat sejumlah perempuan mengaduk pasir semen dan membuat pagar. Mereka menaruh segala macam barang di atas kepala mereka. Ada perasaan tertentu yang berakhir dengan kesimpulan : begitulah hidup, setiap orang berjuang dengan cara dan peran masing-masing.

SEKOLAH MINGGU KE-2

Minggu kedua:   kegiatan pagi dan penutup sore hari adalah sadhana (kegiatan spiritual) yang terdiri dari asana (pose /postur tubuh) dan meditasi.  Materi berikut adalah pemahaman makna dan praktek setiap  pose/ postur secara detail (posture study). Pelajaran human body yang   cenderung medis mengambil porsi waktu yang cukup banyak. Pernapasan (Breath work) juga menjadi materi teori dan praktek yang dilakukan setiap hari. Di minggu kedua ini kami juga mendapat pelajaraan manajemen kelas serta praktek mengajar. Materi lain adalah subtle anatomy (Chakra), Yama Niyama, energy dari setiap postur, Bhagavad Gita dan yogic diet . Ada juga quiz tertulis, evaluasi (sharing circle) dan workshop: thai-Massage. Oya ada kegiatan opsional malam hari yakni pemahaman lebih mendalam tentang seksualitas dalam yoga.

Dinamika minggu kedua sangat memungkinkan hubungan antar peserta dan juga instruktur menjadi lebih dekat. Relasi formal minggu pertama mencair. Kami menjadi lebih akrab, semakin berbaur dengan obrolannya semakin menyentuh sisi pribadi. Saya semakin mempehatikan gaya masing-masing orang. Ternyata saya bukan satu-satunya peserta dengan kemampuan berbahasa Inggris pas-pasa-an,. Tidak semua bule pandai berbahasa Inggris. Teman-teman dari spanyol, dan Swiss sama-sama mengeluhkan daya serap yang berkurang karena si faktor bing. Bagusnya ada bahasa tubuh yang menjadi strategi. Peserta juga datang dari berbagai latar belakang. Yang punya klatar belakang medis (calon dokter, fisioterapis) tentu sangat mudah menangkap materi tentang human body. Gaya dan penampilan masing-masing orang menjadi daya tarik tersendiri untuk diamati diam-diam.

Pada sesi teori kami mendengarkan pelajaran dengan gaya masing-masing. Ada yang duduk di atas bantal, duduk di kursi, berdiri, dan tiduran juga boleh. Yang ditekankan adalah kesadaran untuk ada secara fisik dan mental, fokus pada kegiatan dan tidak melalukan hal-hal lain pada saat itu. Bolak-balik bertanya juga tak ada yang akan mencibir apalagi ditegur sekalipun yang ditanya sepele. Teman yang calon dokter selalu menambahkan penjelasan medis untuk materi Human Body.

Favorit saya dan saya kira semua peserta adalah Breath Work (pernapasan/ pranayama) dan Yoga tertawa.  Devdas, sang istruktur sangat menarik dan pandai membuat suasana yang sebelumnya sangat seius menjadi lebih santai nampun berkualitas. Latihan Pranayama (berbagai teknis napas dan penguncian energy) serta dorongan pemurnian pikiran sangat menarik siswa.

Minggu kedua ini saya bertugas membuka pintu studio dua tempat praktek mengajar. Studio ini ada di lantai dua rumah panggung (lantai 1 kamar tidur tamu), menghadap ke kebun, dan sungai. Ruangan dari papan ini sangat nyaman. Sehubungan dengan tugas ini saya selalu memilih masuk kelompok yang berkegiatan di ruangan ini.

Pada hari keempat kami dibagi dalam dua kelompok. Setiap peserta secara acak mengambil kertas kecil dengan tulisan tertentu. Kami ditugaskan untuk menjelaskan konsep kata yang tertulis dalam kertas dan mengaitkannya dengan kehidupan pribadi. Di situlah sisi manusiawi setiap peserta terekspresi secara terbuka dan emosional.  Saya mendapat tulisan ‘ahimsa’,.Kepada teman-teman yang duduk melingkar saya jelaskan apa itu ahimsa dan relevansinya dengan kehidupan pribadisaya. Teman-teman lain mendapat kata yang berbeda. Saat itu tereksposlah masalah pribadi dengan segala tangis. Pada akhir sesi terpetiklah pelajaran: everyone is fighting a battle we know nothing about. Teman-teman yang terlihat sangat hebat, pandai, seksi, teman yang periang dan teman yang memiliki lima anting di telinga dan dua di hidung, yang bertato di mana-mana ternyata bisa menangis tersedu-sedu. Manusia-manusia dari berbagai negara, bahasa, dengan latar belajkang masing-masing memiliki nasib yang sama : galau dengan hidup. Masalah keluarga, pencarian diri, penyakit, perjuangan bertahan hidup, pekerjaan, ketakutan yang tak terdefinisi, bully, kekerasan, dan sebagainya dialami semua orang.  Di saat itulah kami orang-orang yang tidak saling mengenal saling memeluk dan mengatakan:  I love you …. Ohhhh, mengharukan bukan?

Begitulah diary minggu kedua. Semoga suka dan menantikan tulisan saya tentang pengalaman di minggu ketiga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *