Yoga teacher Training

MAMA LILA  SEKOLAH  YOGA DI UBUD (Bagian 1)

Datang juga harinya, setelah berhari-hari sebelum ini aku gugup.  Bingung juga bagaimana bisa berbelok sejauh ini. Aku memang doyan sekolah dan sejak kecil bercita-cita sekolah sangat tinggi. Bukan karena otakku brilian tetapi dari kecil aku menyukai atmosfir lembaga pendidikan.  Sebagian cita-citaku tercapai. Aku menyelesaikan S2 dengan nilai sangat baik. Masih ingin S-3 tetapi perjalanan hidup tidak selalu sesuai dengan rancangan kita. Banyak situasi yang tidak memungkinkan dan ditambah faktor rasa malas untuk belajar serius dalam waktu lama.

Aku masih merindukan suasana belajar formal namun lebih fungsional. Waktu yang tidak sampai angka tahun namun menghasilkan kompetensi tertentu. Pilihannya banyak: kursus keterampilan, kursus memasak, kecantikan, kursus menulis dan lain-lain. Namun, tanpa sengaja,  aku pun   berbelok ke sini.  Pelatihan bagi  calon guru yoga ( Yoga Teacher Training).  Bagaimana bisa ? Sisi mana yang paralel dengan Ilmu Komunikasi dan sosiologi yang saya pernah tekuni ? Entahlah. Saya juga bingung. Singkat cerita aku akan bergabung dengan 19 peserta lain dari berbagai negara mengikuti Pelatihan 200 jam (sebulan) bagi calon guru yoga di Akhasa Yoga Academy di Ubud.

Aku mengenal yoga beberapa tahun silam dan dua tahun terakhir semakin jatuh cinta. Aku belajar dari buku, video, akun medsos, dan dibantu seorang teman yang adalah fisioterapis.  Karena berbakat mengajar, aku doyan berbagi ilmu yang sedikit itu pada teman-temanku. Ide mengambil kursus yoga itu terjadi begitu saja. Ada iklan yoga lewat di akun medsos saya. Tidak biasanya saya membaca iklan namun kali ini saya coba menyimak lalu sepotong komen “thanks’ kataku. Respon ‘thanks’ ini berlanjut dengan tawaran Admin Akhasa Yoga Academy untuk mengikuti kursus yoga dan menjelaskan detailnya. Biayanya sangat mahal untuk ukuran saya. Saya ceritakan ke suami saya. Semakin di luar dugaan, suami mendorong untuk ikut. “Sesekali  ikut program belajar yang tidak biasa, biasanya ada harga ada mutu!” dorongnya sambil bercanda.  Konsekuensinya adalah mengambil tabungan, menghemat beberapa hal dan ‘ngutang’ di koperasi. ‘Pendidikan adalah investasi!’ hiburku. ‘I go for gold, not for silver, not for peanut!’ quote-ku untuk diri sendiri

Karena tidak biasa urusannya pun menjadi tidak biasa.  Biaya yang sangat mahal, US$2050 setelah diberi potongan 20 %  (kurs 15.000/1 US$ = Rp. 30.750.000) ,  plus penginapan, dan makan malam, transportasi dan lain-lain). Biaya ini untuk belajar 200 jam, termasuk makan pagi dan siang, bahan ajar dan fasilitas yoga. Masalah lain adalah waktu belajar 200 jam (kurang lebih sebulan, lebih dari jatah cuti tahunan seorang ANS yang jatah cuti tahunana maksimal 12 hari).  Dengan tidak terlalu serius saya menyurati pihak Akhasa Yoga dan menceritakan ‘halangan tersebut’. Pelan dan sederhana mereka mengajak saya mengurai soal asal ‘saya niat’. Baiklah. Saya menyukai yoga dan berpikir ini penting untuk kesehatan banyak orang di kemudian hari.  Secara resmi mereka menyurati Bupati agar mengizinkan saya belajar selama sebulan. Mereka menjelaskan detail program (yang jika dianalisa memang akan memberikan manfaat bagi banyak orang di kemudian hari dan sejalan dengan pekerjaan saya sebagai instruktur pendidikan nonformal). Saya mengantarkan surat itu kepada pihak-pihak terkait, hingga tingkat Bupati dan menjelaskan hal ikhwalnya dengan jujur.  Dengan sejumlah pertimbangan kinerja serta bersyarat kompensasi jam kerja saya pun mendapat ijin resmi. Horeeee…

Proses selanjutnya adalah surat menyurat dengan Tim Akhasa Yoga Academy. Mereka mengirimkan sejumlah materi pembelajaran: video, teks-teks, dan artikel yang harus saya pelajari. Semuanya dalam bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris saya masih seputar obrolan sehari-hari maka mau tak mau saya harus belajar bahasa formal. Sudah terlanjur bayar mahal, saya tak boleh kembali ke belakang.

Hari ini Jumad 26 Oktober 2016 berangkat dari rumah jam 4.30 pagi ke Labuan Bajo dan terbang ke Denpasar. Pihak penginapan menjemput dan membawaku ke Ubud. Aku membayar sewa sebulan di penginapan ‘Gusti Garden Guest House’ bertetangga dengan Prashanti Resort tempat sekolah Yogaku yang akan mulai esok.  Biaya penginapan ini 250/malam sehingga untuk 29 hari saya membayar Rp. 7.250.000. Termasuk mahal untuk keadaan saya, namun ini adalah harga standar penginapan di sekitar kawasan subak Sok Wayah Ubud, tidak ada yang lebih murah dari itu. Jika menginap di sekolah berarti biaya akan jauh lebih mahal.  Bagusnya warga terlihat kompak mengelola guest house dengan cara yang mirip. Sama-sama professional, harga relatif seragam dan lingkungan yang dijaga bersama.   (Andaikan di Labuan bajo, ada desa yang dididik seperti ini, mungkin kita tidak terlalu butuh hotel berbintang milik orang-orang kaya — mengelamun lagi!!)

Guest house bersambung dengan rumah keluarga pemilik. Beberapa orang asing menyewa beberapa kamar lain. Kamarnya bersih dilengkapi AC dan kamar mandi bathtub. Halamannya asri dilengkapi kolam renang. Lingkungannya bernuansa pedesaan, di tepi sawah. Tidak beda dengan sawah di Watu Alo, dekat Ruteng kota tempat tinggal saya. Sambil menulis ini mata saya menangkap barisan itik di pematang dipandu dari belakang oleh gembalanya. Fasilitas lain adalah kopi the di pagi hari.  Hem..

Hari sudah mulai sore dan aku merindukan anak-anaku, Oca, Iel dan bayi keponakan si Noel yang tinggal bersama kami. Kangen suami dan seisi rumah.  Meskipun sering bepergian, namun membayangkan sebulan penuh jauh dari rumah bikin rindu datang lebih awal. Saya menata kamar agar terasa hommy, versi saya tentunya. Menaruh buku doa, Alkitab dan salib kecil di meja samping tempat tidur. Berdoa syukur sejenak dan lanjut menata lagi. Pakaian ditaruh di lemari terbuka, bedak, lipstik dan kawan-kawannya di meja rias. Sarung songke khas kampungku kutaruh di tempat tidur, ampuh membuat perasaan semakin di rumah.

Setelah mandi aku hendak keluar tetapi kulihat seorang gadis berenang. Kami bertatapan dan saling menebar senyum. Awal komunikasi yang bagus. Kami ngobrol dan luar biasa: ia akan sekelas denganku esok. Alma gadis Israel-America berusia 22 tahun itu dalam sekejab menjadi teman ngobrol yang seru. Senang. Benar kata suamiku bahwa aku akan menemukan jalannya, dan pasti mendapatkan sejuta kejutan. Alma adalah yang kukenal pertama, lalu Nabaa dari Baghdad Iraq, Helika gadis Colombia yang tinggal di Israel, Jo  chinese yang tinggal di London dan yang lainnya.

Malam hari aku berdoa Rosario seperti biasa di Ruteng pada Bulan Oktober. Malam hari aku tidur dengan damai.

Hari Pertama sekolah Sabtu 27 Oktober 2018

Bangun pagi. Berusaha untuk malas-malasan, bagaimanapun ini adalah   me time. Yang panjang. Namun aneh juga. Saya seorang ibu yang biasa mengurus keluarga: mengecek anak dan urusan rumah. Ketika harus pergi dari rumah dibutuhkan upaya untuk melepaskan semua itu. Semua sudah terencana, suamiku ada di rumah, anak-anak akan aman. Saya sudah direstui bersenang-senag dan melimpahkan semua urusan itu ke suami dan seisi rumah. Namun bagaimana seorang ibu bisa bersenang-senang tanpa mendengar langsung keadaan anak-anak? Saya menelpon suami dan anak-anak, tanpa sadar menanyakan urusan remeh temeh yang bisa mereka urus.  Begitulah. Seorang ibu selalu mengeluh dengan banyaknya urusan rumah tangga namun ketika diberi waktu untuk bersenang-senang, kecederungan menginspeksi rumah masih terbawa.

Hari ini adalah hari penyambutan dan kegiatan dimulai tengah hari nanti. Pagi ini masih banyak waktu.  Pagi ini saya say hello dengan pemilik penginapan.  Memiliki banyak kamar penginapan di tepi sawah dengan beberapa karyawan. Beberapa tetangga rupanya punya usaha yang sama.

Saya menengok kanan kiri. Kampung ini milik bersama orang Bali dan para bule. Lihat saja, di setapak mondar mandir bule berbaur dengan petani. Tidak hanya di pusat kota, sampai di kampung pun Ubud sangat touristic. Di lorong jalan setapak ada kios es krim kelapa home made, toko souvenir dan resto. Seirama dengan itu petani tanpa terganggu berurusan dengan padi, kacang panjang dan itik. Harmoni. Begitulah.  Setelah ngopi dan sarapan   kompiang yang kubawa dari Ruteng, saya berjalan-jalan di sekitar penginapan, ada jalur kecil di tepi sawah. Saya juga menyaksikan pemilik rumah melakukan sembahyang dengan pakaian khas Bali.  Karena masih cukup   waktu, maka saya coba turun ke downtown.  Menyusur tepi jalan raya utama yang tidak lebar dan padat oleh kendaraan. Pemandangan yang menyenangkan melihat-lihat toko-toko souvenir khas daerah wisata, membaca-baca menu spa yangh berjejer sepanjang jalan dan memperhatikan orang-orang lewat. Ini semacam Indonesia rasa  Eropa/ Amrik. Selain karena banyaknya toko produk luar, juga terutama karena banyaknya orang asing yang lalulalang.

Pukul 13-18.00 acara “selamat Datang”

Kami disambut hangat oleh Tim Akhasa Yoga dan berkenalan dengan peserta lain. Ada dari Israel, Iraq, Colombia, Argentina, Spanyol, Belanda, Mauritius, China, Australia, Inggris, Colobia, Swiss. Mendadak bangga mengucapkan selamat datang di Indonesia. Saya satu-satunya peserta dari Indonesia.  Ruang kelas dibuaat seperti balai besar khas bali (terbuka), bertiang bambu dan atap ijuk. Ruang ini di-sett cantik dengan unsur dekorasi Bali dan India serta aroma dupa wangi yang memenuhi seluruh ruangan. Di tengah hall bunga-bunga ditata berbentuk hati dan tulisan NAMASTE. Kami duduk melingkar di atas bantal dan masing-masing mendapat paket buku materi yoga dan botol air isi ulang.

Masing-masing peserta dipersilahkan memperkenalkan diri dan berbagi cerita tetang mengapa tertarik mengikuti program YTT ini. Hal menarik lainnya adalah kami diajak ke Pura Dalem (pura desa) untuk mendapat berkat dari pendeta Hindu.  Staf Prashanti, seorang ibu muda membantu menyiapkan perangkat doa.

Pengalaman menarik.

Hari berikutnya kami memulai pelajaran dengan serius dan penuh waktu. Pukul 06.15 kami memasuki sekolah dalam  situasi hening karena pagi hari selalu dimulai dengan kegiatan meditasi yang dilanjutkan dengan asana (postur/pose/gerak) sebelum makan pagi. Materi berlanjut dengan hal ikhwal yoga, pernapasan dan hal lain terkait. Setelah makan siang  kelas dimulai lagi dengan materi pembersihan (purification/shatkarma) dan praktek gerak (asana) dan ditutup dengan meditasi. Begitu seterusnya. Pada hari ketiga ada tambahan kegiatan malam hari yakni menikmati Bhajans (musik lagu pujian berbahasa India). Latihan mengajar dimulai sejak Rabu).

Kegiatanya berjalan lancar. Peserta berbaur dan berinteraksi dengan penuh persahabatan. Hari jumad ada kegiatan sharing time, semacam evaluasi dan curhat kegiatan selama seminggu. Menyenangkan dan agak semosional. Kesimpulannya semua peserta menikmati. Saat giliran saya tiba-tiba merasa semangat nasionalis saya beranak pinak. Tanpa persiapan, dengan lancar saya berbicara sebagai orang Indonesia, bukan sebagai Lila. Saya menyampaikan terima kasih dan rasa bangga bahwa para bule itu mau datang ke Indonesia dan terkagum-kagum pada Indonesia. Saya katakan bahwa setiap kali mereka memuji masakan, kopi, dan alam Indonesia, meskipun saya cuma nguping tetapi saya merasa terbang ke langit. Wow sungguh aku cinta Indonesia.

Tentang makanan: anak saya bilang bahwa dia takut Mama Lila akan kurus karena sebulan tidak makan daging. Menu selama pelatihan memang bebas daging dan ikan. Produk hewani hanya telur dan sedikit susu untuk dicampur kopi.  Makanannya sangat enak dan bisa ditiru di rumah karena semua bahan ada. Hari selamat datang kami disuguhi aneka buah, kue dadar (isi kelapa), kue kacang dan jamu temulawak 9untuk yang terakhir catatan khususnya adalah ‘wow’ dan ‘hidup jamu’. Hari berikutnya sarapan pagi beraneka ragam: kacang merah dimasak seperti bubur lengket dan diberi sedikit gula aren, buah-buahan, the, kopi, santan kelapa (coconut milk) untuk dicampur dengan kopi (yang ini juga saya baru tahu ho ho ho – saying tak cocok di lidah saya ), telur orak arik pakai tomat dan bawang bombaii, dan aneka roti.  Untuk makan siang menunya adalah: nasi (porsi sedikit ), sayur gule nangka, tempe-tahu – bakwan goreng, aneka salad (selada keriting, wortel serut- salad buah), sawi. Minumannya: air kelapa muda. Sebagi satu-satunya orang Indonesia pegawai sekolah langsung akrab dengan saya. Ibu Made sang chef berbisik bahwa tidak ada makanan yang menggunakan pengawet dan penyedap buatan. Sedap-sedapannya menggunakan minyak kelapa kampung, aneka rempah dan masu. Lumayan menambah pengetahuan memasakku. Di hari lain menu sarapan paginya adalah pisang rebus, ganola (oat dan kacang mete disangrai, dicampur kismis dan madu), telur, bubur beras merah atau beras putih, roti dan buah. Untuk makan siang semua masih berbahan sayuran: terong, selada keriting, tomat, advokad, kangkung, wortel, bengkoang dan lain-lain.  Lauknya bakwan jagung, perkedel kentang dan tahu, tempe tahun dalam banyak jenis olahaan, jamur. Minumannya jamu temulawak, jus mint, air kelapa.

Saya mencatat semua detail di minggu pertama. Hari ini Sabtu libur, waktu dihabiskan untuk bersenang-senang.  Ada yang tur, ada yang berkeliling ubud, spa, belanja. Yang pasti kami tidak dianjurkan untuk membaca buku atau melakukan hal serius. Bagi saya saatnya untuk pesiar keliling ubud, berenang, spa dan bersenang-senang.

Esok Minggu sekolah lagi. Bagi saya pribadi itu berarti saya tidak bisa ke gereja. Jalan keluarnya adalah esok malam mengikuti misa bersama you tube. Thanks to technology.

Tunggu cerita selanjutnya minggu depan. I love yoga

2 thoughts on “MAMA LILA  SEKOLAH  YOGA DI UBUD (Bagian 1)

Leave a Reply to Lils Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *