Kombak

KOMBAK

KOMBAK

Pangeran atau putri mana yang bernama kombak? Bukan, ia bukan pangeran atau puteri. Bukan juga nama sejenis roti isi atau pudding buah. Bukan juga nama tempat foto yang instagramable. Kombak itu sebutan bahasa Manggarai – Flores untuk bagian dari tanaman. (“ooooo …. kirain……” kutebak reaksimu).

Kombak. Pelepah bambu, barangkali terjemahan ini keliru tetapi kayaknya paling nyerempet untuk menggambarkan benda / kulit / kelopak yang mengelupas dari batang bambu, berbulu halus nan gatal. Sebentar , saya cek google dulu. Nah lho hampir benar. Dalam artikel Morfologi Tanaman Bambu (judulnya saja ilmiah, so kredibel-lah) disebutkan bahwa batang bambu diselimuti oleh daun-daun yang disebut PELEPAH BATANG yang akan gugur ketika sudah tua. Nah tinggal kita lengkapi saja namanya menjadi PELEPAH BATANG BAMBU. Sebagai penulis yang punya hak prerogatif, saya menetapkan panggilan kesayangan pelepah batang bambu dalam tulisan ini adalah KOMBAK .

Ketika kakak kami yang keren dan humoris @Gabriel Mahal mempublikasikan foto dan narasi si kombak di ef be kali lalu, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Rupanya ada jalinan jembatan bambu di antara kami. Bagaimana tidak saat itu saya sedang berdiri di jendela loteng (di samping teman saya @leonardusnyoman yang sedang membaca postingan kk Gabriel), ngoceh sambil nonton bambu kali di halaman belakang rumah tetangga. Saya mau menulis tentang bambu dan kombak. Mengapa kombak ? Karena saya mampunya menulis hal-hal biasa di hidupku sehari-hari, dan si kombak masuk dalam antrian panjang hal-hal biasa itu. Tiba giliranmu kombak….

Saya pernah baca beberapa kisah inspiratif anak-anak muda Indonesia yang memenangkan ajang ilmiah karena inovasinya mengolah kombak menjadi benda tulis menulis. Juga ada pengusaha yang membuat kipas dan aneka kerajinan tangan dari pembungkus bambu berwarna coklat itu.

Pada tahun 1980-an adalah masa sekolah dasar kami (saya masuk SDK St. Mikael Ruteng 1 tahun 1981 pada usia 6 tahun dan diterima oleh ibu guru baik hati bernama Mama Mar…. he he he out of focus lagi …). Selama 6 tahun berikutnya kami rombongan siswa/i SDK St. Mikael dari kampung Nekang melewati jalan yang sama: setapak di antara bambu-bambu berbatang besar-besar. Dengan demikian setiap hari (bahkan dua kali sehari – pergi dan pulang sekoilah) kami berkemungkinan menginjak, menyepak, menendang, menyentuh dan mengata-ngatai si kombak yang berbaring asyik menutupi setapak kami. Sesekali kami menusuknya dengan kayu dan dilambai-lambaikan seperti bendera. Kalau kepepet di hujan gerimis, si kombak akan menjadi penolong. Tak peduli bulu-bulu halusnya ia kami tempatkan sebagai mahkota di kepala, atau ditusuk dengan kayu dan dipegang sebagai payung.

Di komunitas bermain kampung, kombak mempunyai kisah yang lebih seru. Ia akan menjadi alat permainan ski di atas tanah debu di kemiringan atau tanah licin agak berlumpur. Betul ia adalah perangkat luncur ski kampung. Anak-anak pemberani akan meluncur di atasnya dan anak-anak yang kurang berani akan menjadi pemandu sorak. Perlombaan dimulai : beberapa anak duduk di atas kombaknya masing-masing dan siuuutttt meluncur tanpa ragu di tanah berlumpur atau tanah kering berdebu pada musim kemarau. Tidak ada orang tua yang marah-marah. Mungkin karena jarang terdengar ada anak cedera atau sakit setelah meluncur di kombak.

Waktu berlalu. Kombak masih membungkus bambu-bambu di Ruteng dan sekitarnya, namun perannya tidak sepenting dahulu. Tidak banyak anak yang menggunakannya sebagai papan seluncur. Di masa dewasa ada cerita pribadi yang terkenang bersama si kombak. Ceritanya begini . Mama saya dan teman guru SD nya (tanta) Ibu Mar mempunyai kebiasan rutin saat mereka masih sehat yakni ziarah ke tempat doa bukit Golo Curu. Mungkin itu satu dari sangat sedikit destinasi traveling mereka (hidup mereka berpindah dari sekolah – rumah – kebun belakang rumah – sekolah – rumah – begitu terus putarannya). Selain gereja untuk misa mingguan, tempat mereka berkunjung adalah Golo Curu. Piknik ke Golo Curu, liat pemandangan ke Golo Curu, olah raga ke Golo curu. Berdoa juga di Golo curu. Mereka berdua membawa anak-anak mereka (saya dan enu Nestin adalah yang sangat sering mengikuti (‘mendampingi’) mereka berdua. Sampai kami lulus kuliah dan akan menikahpun kami masih menemani dua ibu itu ke tempat favoritnya itu. Anehnya, meskipun sebenarnya tidak sangat berminat, kami berdua juga hampir tak mengeluh dan tidak bosan. Mungkin biasa saja, mungkin juga diam-diam di bawah sadar kami menikmtinya. Tiap kamis kami jalan salib dari kaki bukit sampai di puncak. Kaitannya dengan kombak?

Hari itu perasaan dan situasinya sedang tidak enak. Namanya ibu, situasi tidak enak cepat-cepat diurus dengan cara berdoa sekeras mungkin. Atas nama rasa solidaritas Tanta Ibu Guru Mar dan putrinya enu Nestin juga ikut berdoa untuk situasi itu. Kami berempat jalan salib. Saya berdoa dengan enggan tetapi juga tidak mengeluh. Langit mulai mendung. Perhentian ke-8 gerimis tepat di area dengan banyak bambu dan tentu saja banyak kombak. Saya semakin tidak berkonsentrasi, mengekor saja kata-kata doa tanpa rasa. Mata saya malah main-main ke kombak yang banyak bertebaran di situ. Hujan menjadi rintik. Tidak ada payung. Mereka bertiga masih berdoa dan jiwa saya sudah pergi entah ke mana. Saya memilih kombak dan memakainya di kepala. Jalan salib dilanjut. Sampai di perhentian ke 12 (mengenang Yesus wafat di salib) seharusnya lebih hening, lebih sedih, lebih kusuk dan berlutut., Saya memotong antrian ke depan. Tiba-tiba enu Nestin tertawa lalu diikuti kedua ibu yang biasanya sangat serius dan formal saat berdoa itu. Ada apa? ternyata karena kombak di kepala saya …. Ha ha ha ha …. Untung belum ada fotografer waktu itu. KOMBAK ……..

One thought on “KOMBAK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *