KEHIDUPAN DAN CINTA DARI PAYUDARAKU

Cara Tuhan mengadakan sesuatu hanya bisa ditiru sedikit, dan tidak ada manusia yang bisa menduplikasinya. Tidak ada buatan manusia seistimewa ciptaan Tuhan sekalipun ciptaan yang keberadaannya  dianggap remeh oleh manusia di sekitarnya.

Salah satu ciptaan Tuhan adalah  payudara. Sekarang ini  kemajuan teknologi sudah ikut campur dalam hal eksistensi payudara perempuan yang masing-masing diberi sepasang. Payudara bisa dibuat lebih indah, lebih montok, lebih seksi dan lebih menggoda. Payudara memang  bagian dari keindahan. Tidak heran selalu ada upaya untuk menjaga dan meningkatkan daya pikat si payudara.

Intervensi teknologi dalam memperindah payudara itu sebenarnya soal lain.  Catatanku ini tidak hendak bicara  soal cara meningkatkan daya goda payudara. Saya hendak mencatat kisahku tentang payudaraku sendiri, dari sudut pandangku sendiri.

Aku memulainya dengan memberi label ‘istimewa’ pada payudaraku. Istimewanya bukan karena payudaraku jumlahnya lebih dari dua atau berbeda dengan perempuan lainnya. Aku seorang perempuan, dianugerahi sepasang payudara. Cukup indah apalagi saat aku remaja, payudara itu menjadi kesayangan dan kebanggaaku. Saat aku menjadi seorang ibu dalam arti hamil dan memiliki anak cerita tentang payudara ini berubah perspektif.

Aku hamil dan melahirkan. Payudaraku berubah bentuk dan fungsii sejalan dengan peristiwa itu. Fungsi seksual payudara berubah dramatis ke fungsi cinta dan kehidupan bagi kedua anak kandung dan anak-anak lain. Cerita lebih lanjutnya kuurutkan   begini :

  • Asi – ku melimpah ruah dan mulai berproduksi sejak aku hamil. Bayiku yang lahir dengan berat badan di bawah 3 kg bertumbuh pesat dan sehat;
  • Sebelum aku menyadari sangat banyak dan bagusnya asi ku aku selalu ketakutan karena bayiku selalu muntah setiap kali usai disusui. Ternyata tanpa dihisap pun asi –ku mengalir deras;
  • Sebelum aku, sepupuku lebih dahulu hamil dan melahirkan. Meskipun berusaha dengan segala cara, Asinya sangat sedikit dan anaknya selalu menangis lapar. Karena bayi sepupuku adalah penghiburku saat aku mabuk hamil, maka usai menyusui anakku sendiri bayi sepupuku pun kususui. Si bayi sepupu itu senang dan akupun senang karena payudaraku terasa lebih enteng;
  • Dalam perjalanan aku menyusui dua orang bayi. Bayiku sendiri (lebih dahulu) dan lebihnya buat bayi sepupuku. Mereka berdua kususui bersamaan sampai usia anakku sendiri dua tahun saat disapih. Kedua anak itu sekarang sudah besar dan sangat dekat satu sama lain dan juga denganku, ibu susu mereka;
  • Saat bayiku panas atau sakit lainnya Asi adalah penolong utama yang terbaik dan juga paling efisien. Bayiku selalu cepat pulih dan aku tak pernah repot malam hari . Tinggal dibersihkan dan disuapkan ke mulut bayiku;
  • Belum setahun aku menyusui anakku dan anak sepupuku, aku mengalami hal lain. Menemani seorang teman yang baru melahirkan namun karena suatu hal harus dirawat segera di rumah sakit. Bayi yang sehat itu turut dibawa. Karena sibuk mengurusi si ibu, kerabat teman saya lupa menyediakan susu formula dan perangkatnya di rumah sakit. Si bayi menangis kelaparan dan ibunya belum bisa menyusuinya. Hari sudah gelap dan cuaca tak terlalu bagus. Tanpa pikir panjang dan dorongan hati yang iklas aku menawarkan diri menyusui si manusia mungil. Anak itu menjadi tenang, senang dan aku merasa bahwa aku mendapatkan seorang anak lagi karena payudaraku. Anak itu sudah besar dan jika bertemu memanggilku ‘Mama Lila’
  • Peristiwa lain yang berdekatan adalah saat aku menyusui anak kedua sepupuku (yang anak pertamanya kususui). Asi ibunya baru keluar setelah hari keempat, maka Asi pertama yang direguk bayi itu adalah asi-ku. Meskipun hanya sekali Asi itu mengikat kami. Hari ini saat aku menuliskan kembali kisah ini, anak itu sedang berada di rumahku, menghjabiskan dua minggu liburan   bersama kami ;
  • Selisih usia kedua anakku adalah 5 tahun. Cukup jauh tetapi ternyata tidak banyak berpengaruh pada produksi Asi –ku: tetap banyak dan kualitasnya tetap super (terlihat dari warnanya yang kekuningan bagai asi pertama yang mengandung kolostrum).
  • Pada kelahiran kedua kali ini aku tetap ibu yang menyusui bayinya sendiri sekaligus pendonor asi. Sayang memang jika tidak didonorkan karena setelah bayiku kenyang, asi tetap memancar deras dari payudaraku sehingga harus dipompa dan dibuang. Di kehidupan orang lain, seorang sepupu laki-lakiku baru saja memiliki bayi. Si istri sendiri sudah berupaya namun asi –nya sama sekali tidak keluar. Si anak diberi susu formula meskipun orang tuanya rindu  memberikannya asi sebagai yang terbaik. Setiap pagi sepupu lelakiku mebawa botol susu untung menampung Asi yang  sebenarnya hendak kubuang usai menyusui anakku. Dua botol Asi dari payudaraku  akhirnya memberi kehidupan bagi keponakanku. Sekarang anak lelaki sepupuku yang kususui (meskipun melalui botol) bertumbuh sebaya anak keduaku. Ayahnya telah meninggal namun mereka, ia dan ibunya tetap berhubungan dengan kami;
  • Cerita  mengenai berbagi Asi (berbagi payuidara) masih berlanjut. Aku hamil kedua bersamaan dengan kakakku yang hamil anak ketiga. Usia kelahiran kami berbeda tiga hari. Karena aku tinggal sekota dengan orang tuaku maka kami pun turut menjadi tuan rumah bagi mereka saat mereka berkunjung. Saat itu bayi lelaki kakakku sangat senang jika saya menyusuinya usai menyusui anakku sendiri karena asi-ku jauh lebih banyak dari Asi mamanya.
  • Terakhir tentang anak susu –ku, yakni bayi sepupuku yang lain lagi. Anak itu sedang kurang fit  dan ibunya tidak sehat (asi-nya juga sangat sedikit). Dengan sangat ikhlas kususui dia hingga kenyang. Dia kembali girang dan Nampak sehat. Sekarang anak itu bertumbuh besar dan sehat, bersekolah di taman kanak-kanak (kurang lebih setahun di bawah usia anak lelakiku).

Kesimpulannya aku mempunyai  anak, yang kususui dengan penuh cintta : Oca dan Iel (anak kandungku), Tara dan Paula (anak sepupuku), Aurel (anak temanku), Jo (Anak kakak kandungku) dan Viseli (anak sepupu jauhku). Mereka sudah besar dan aku tidak menyusui mereka lagi, namun kehidupan dari payudaraku telah mengalir dalam diri mereka. Ada ikatan cinta antara kami semua, antara aku dan mereka, antara anak-anakku dengan mereka. Hampir setiap liburan diundang atau tidak, aku siap atau tidak bagai mesin otomatis mereka akan datang ke rumahku, tidur bersamaku, mengikutiu aku dan suamiku ke mana kami pergi , bertengkar merebut sesuatu dan mereka semua memanggilku “MAMA LILA”. Ya aku memang ibu banyak orang  berkat payudaraku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *