Salju di Altenberg

JATUH CINTA PADA ALTENBERG : SEPERTI MASUK KE BUKU DONGENG

JATUH CINTA PADA ALTENBERG : SEPERTI MASUK KE BUKU DONGENG

Pada tahun 1981 kelas satu esde saya sudah pintar membaca dan sejak itu saya melahap hampir semua buku sampai mataku rusak (baca di gelap, kolong tempat tidur, dan sambil tiduran). Sampai sekarang pun membaca menjadi ritual favorit setiap hari di mana pun. Saya sangat menikmati segala macam dongeng. Seorang teman pernah meminjamkan buku cerita terjemahan bergambar sangat bagus. Saya menikmati mulai dari cover, kata pengantar hingga titik terakhir. Gambar-gambar di dalam buku bahkan saya foto kopi dan ditempel di dinding dapur. Buku itu aslinya berbahasa Inggris namun diterjemahkan dengan luwes ke dalam bahasa Indonesia. Setiap untaian kata dan gambar sangat konek dengan selera saya. Ada narasi dalam kata pengantar buku yang saya sukai : Ada seorang anak kecil tinggal dengan neneknya. Setiap hari sang nenek harus pergi ke ladang dan berjualan di pasar. Jika bosan atau mengantuk si anak kecil akan duduk dan bersandar di kursi tua sang nenek dan berkata : kursi nenekku, ceritakan sebuah dongeng untukku. Sang kursi pun akan bercerita dan ceritanya ada di setiap lembar buku. Kosakata-kosakata seperti ‘bunga lonceng biru dan bunga mentega, salju dan coklat hangat, macam-macam beri dan rumah hangat dari batu’ terdengar sangat pedesaan yang damai dan makmur. Jika diceritakan lagi pada anak-anak pada masa mana pun saya jamin mereka akan menyukainya.

Surga rupanya menengok selera semua orang termasuk selera dongeng saya. Suatu kesempatan tanpa diduga Tuhan mengirim seseorang membawa saya ke dunia dongeng yang ada di buku cerita saya dulu.

Altenberg nama kota itu. Dari Berlin teman dari Dresden mengajak kami ke kotanya. Sesampai di kota indah itu (ceritanya menyusul) kami melewatinya saja karena saya akan dibawa ke tempat lain yang saljunya belum mencair (saya belum pernah melihat salju). Kami akan naik ke Altenberg. Saya ikut saja, dan saya menikmatinya. Saya nyaris melompat melihat rumah-rumah tradisional dana pohon-pohon pinus. Si teman kami juga bercerita bahwa kawasan itu merupakan kawasan perkemahan dan liburan.

Turun dari mobil semua memandangku senang aku aku tak terlihat cape malah melompat berlari menggenggam salju dan menciumnya. Horeeee aku melihat salju. Biar pun rasanya seperti es serut yang banyak di Indonesia tetapi namanya salju. Semakin seperti di buku dongeng itu. Ada sebuah restaurant yang warna dan bentuknya mewakili gambaran di buku cerita terjemahan itu. Warna kuning cerah dengan bentuk yang unik luar dalamnya. Di halaman ada patung yang bercerita tentang gadis bertudung merah yang mengunjungi nenek dan dibuntuti serigala (kalian tau kan kisah red riding hood? kalau tak tau nanti Mama Lila ceritakan.

Benar kata para traveler di blog perjalanannya: altenberg adalah magnet karena keunikannya. Di sana sini terdapat rumah-rumah cantik bernuansa renaissance. Katanya ada banyak rumah perisirahatan dan perkemahan musim panas. Waktu kami di sana bulan Maret daun-daun hijau dan bunga musim semi mulai nampak meskipun belum banyak. Di mata saya yang belum pernah ke eropa sebelumnya perbedaan suasana dengan negara saya itu benar-benar menakjubkan. Tidak ada tempat yang lebih baik baik atau lebih buruk. Setiap tempat memiliki keunikannya.

Bersih dan sangat bersih. Tidak ada selembar sampah. Pembuangan memiliki sistem yang rapi. Untuk hal ini harus diakui kita jauh tertinggal dari mereka. Kami lalu mampir masuk resto bernuansa klasik tradisional dengan system kerja modern itu Saya jatuh cinta dengan interiornya. Serasa ada di buku cerita. Jendela dengan pot-pot bunga kastuba, dinding dan langit-langit yang bergambar orang desa, bunga lonceng biru, bunga lili dan macam-macam beri. Meja kursinya keren, ada beberapa dekorasi patung-patung tokoh seperti pinokio, patung orang mirip pria dalam filmanak-anak ‘nutcracker’. Tak percaya? Silahkan lihat foto-foto ku he he he. Di dekat kacir terdapat dekorasi beberapa jenis ceret kuno berbagai ukuran. Saya jadi ingat perabotan nenek jaman kami masih kecil. Beberapa pasang orang tua duduk di meja kursi menikmati kopi dan kue-kue khas. Toiletnya ada di ruang bawah (tak kusangka bangunan yang kelihatan mungil dari luar ini memiliki ruang tak terduga. Orang jerman memang efisien). Suami dan teman kami Pak Roland (dua-duanya fotografer) menangkap perasaanku dan memotretku berulang-ulang sampai-sampai beberapa pengunjung lain memandang heran. Pak Roland bahkan meminta nona kasir berfoto denganku.

Aku memesan coklat panas dan kue coklat yang namanya schwarzwalder kircchtorte dengan saos beri asli. Kue ini mirip blackforest yang saya kenal di Indonesia hanya saus atau krim coklat dan beri nya lebih segar dan tebal. Rasanya sangat lezat apalagi saya mulai lapar. Seperti biasa dua lelakai pelindung ku itu minum bir. Orang Jerman minum bir seperti kita minum teh atau es jeruk. Oya selain cake coklat seperti yang kami makan, ada juga menu lain khas daerah ini. Ada daging rusa, sosis khas Jerman (wurst) yang disajikan bersama roti dan keju, roti berbentuk pita (bretzel) dan macam-macam olahan ayam dan babi. Aku memotet buku menunya karena tampilannya yang juga seperti buku dongeng.

Setelah foto-foto di dalam dan luar resto kami naik lagi ke tempat lebih tinggi melihat orang main ski. Jalan-jalan dan terjerembab di salju itu sesuatu banget. Kami tidak ikut main tetapi sempat berkomunikasi dengan Bapak-Bapak yang abis main ski. Senang rasanya melihat pohon-pohon cemara yang hijau di antara timbunan salju, keluarga dengan anak-anak mereka yang main seluncur. Jadi kangen anak.

Cukup lama kami di Altenberg. Kami harus kembali ke Dresden untuk melihat kota dan makan malam di rumah Pak Roland. Jadi menyesal kenapa hanya tiga hari di Dresden dan sekitarnya. Bagaimanapun aku bersyukur, aku pernah masuk ke buku dongeng.

Catatan : beberapa foto di galeri yang terkait kisah ini adalah milik @Rolandlubiger (www.Lubiger-Weltsichten.de/ ) yang telah diberikan pada kami.

 

4 thoughts on “JATUH CINTA PADA ALTENBERG : SEPERTI MASUK KE BUKU DONGENG

  1. Negerinya seperti dalam kisah gretel dan hans ya k lil..
    ka lila dan k leo seperti kedua tokoh itu yang berkelana ke negeri kue kue, membawa oleh oleh berupa ambar dan cerita..
    Terimakasih sdh berbgi kisah..
    Semangat berpwtualang k lil…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *