JALAN KAKI : MURAH DAN MENYENANGKAN

JALAN KAKI : MURAH DAN MENYENANGKAN

JALAN KAKI : MURAH DAN MENYENANGKAN

                   Saya sering memuji diri sendiri.  Referensinya adalah pujian dari orang lain atau reka-reka saya sendiri saja.  Terdengar sombong (teman saya bilang saya memang agak sombong karena suka pamer. Mo bilang apa ?) Eitttss, sebenarnya  kalimat teman saya masih ada komanya lho, dan di belakang koma ada kalimat ‘tetapi cerita pamer nan sombongmu asyik didengar lho !” He he he  Percaya atau tidak, saya harap Anda percaya.  Begitulah, meskipun di-rem, saya tak  cukup mampu mengendalikan kebiasaan bercerita dengan menyelipkan pujian bagi diriku sendiri.  Namanya juga manusia …………….

Salah satu contoh  ‘pamer nan sombong’ itu adalah saya selalu bercerita tentang pengalaman saya berjalan kaki ke mana-mana. “I am Mom with strong legs !” Ungkapku sombong di sosmed.

Niatku memang pamer dan  agak menyombongkan diri. Implisit dan eksplisit aku umumkan bahwa aku  sering dan cukup kuat jalan kaki lintas alam, keliling danau Rana Mese, dari ujung kota ke sisi sebelahnya, dari dermaga menyusur garis pantai panjang bolak balik dan seterusnya. Aku juga menggarisbawahi pujian seorang teman sewaktu kami di Eropa bahwa  saya termasuk sedikit teman Indonesia nya yang  tidak “sebentar-bentar naik taxi, sebentar sebentar numpang bis!.

Sampai sekarang aku tidak (belum)  merasa bersalah dengan caraku memuji kekuatan kaki dan tubuhku. Setelah direfleksi lebih dalam aku memang tidak menemukan alasan untuk merasa bersalah. Kekeliruanku  adalah aku tidak melengkapi ceritanya. Cerita sering tidak komplit.  Misalnya : seharusnya aku menyambung kalimat : “….. setelah tiga setengah jam melangkah dari Denge hingga Wae Rebo, aku terserang demam, kata warga setempat itu karena aku seorang pemula yang berkeringat sangat banyak!”  Cerita lain yang harus kusempurnakan  adalah : “berkaki naik Gunung Ranaka itu hebat, MESKIPUN  lebih dari seminggu setelahnya urat-urat kakiku kaku dan sakit !”.

Begitulah. Aku tidak sehebat kerabat sahabat yang jago naik gunung atau jalan dari kampung ke kampung. Pinggangku juga tidak cukup tangguh menopang tubuh di jalan mendaki. Aku bukan altit yang santai saja berkaki di bawah matahari selama berjam-jam. Jalan salib Semana Santa di Larantuka saja aku sering duduk berhenti karena lelah sementara temanku santai sampai finish (dan dia tak pernah pamer bahwa ia seorang yang kuat). Kisah lain adalah bahwa  tidak jarang saya duduk di tengah jalan  setelah mendaki sebuah tanjakan, dan butuh waktu lebih dari lima belas menit bagi saya untuk bangun dan berjalan lagi.

Baiklah sebetulnya pamer-sombong ini bermula dari rasa bangga dan penghargaanku pada perubahan yang terjadi pada diriku sendiri.  Pada masa lalu aku seorang yang lemah, sakit-sakitan, cengeng dan segala macam kerapuhan fisik. Kena hujan rintik-rintik saya pasti flu, salah makan: sakit lambung, naik kendaraan : mabuk semaput.  Jangan bilang berolah raga: tubuhku akan langsung ngilu duluan dan kakiku capek duluan.  Aku kerap jatuh dalam kesedihan karena irama perasaan yang naik turun.  Di sisi lain pikiranku suka bertualang ke mana-mana ke tempat yang tertulis dalam buku-buku yang saya baca. Saya gemar membaca kisah tentang tempat-tempat yang indah di dunia yang konon banyak yang letaknya tak jauh dari rumah kita. Bagaimana menjadikan itu kenyataan barang sedikit ?

Di suatu titik aku merasa perlu untuk berubah. Tubuhku harus fit karena aku seorang ibu sekaligus istri komplit dengan hak dan kewajibannya. Lebih dari itu karena aku seorang pribadi, penentu utama apakah aku hidup bahagia atau tidak. Entah seberapa lama aku diberi kesempatan bernapas,  aku ingin menghabiskannya dengan perasaan hidup. I want to live my life. Sudah cukup lama aku hidup formal untuk aturan-aturan yang sudah ada, menjalani dengan rasa bosan dan sakit.  Tentu saja hidup dalam aturan yang ada itu bukan hal yang buruk, tetapi bagaimanapun kita membutuhkan perasaan sungguh hidup.  Aku sudah cukup kenyang mengeluhkan banyak hal.

Caranya ?  Tentu saja tidak sesingkat dan seenak membaca tulisan ini.  Melepaskan rasa malas dan aneka sampah emosional itu sangat menyakitkan dan panjang. Aku bahkan tidak tahu dari mana aku harus mulai. Yang kutahu adalah  bahwa aku harus berubah.

Sebuah tulisan mengatakan bahwa manusia harus  belajar menikmati apa yang tersedia. Jika yang ada hanya lemon, buatlah sirup lemon. Happy with simple pleasure.  Kedengaran klise. Kata-kata ‘menikmati matahari pagi yang hangat’ dan ‘tertawa mencelupkan kaki di lumpur’ tidak lebih dari puisi samar-samar.  Bagaimanapun aku  harus berubah. Is there anyone can help me ?

Keadaan semakin memaksa dan seseorang memberiku energi.  Kami mulai berjalan-jalan dalam kota. Hanya menikmati, tidak untuk berbelanja di supermarket, tidak singgah  di pasar loak atau berhenti naik ojek.  Bosan dan pusing (tak perlu dibahas), kita lanjut.  Jalan-jalan berikutnya saya mual dan terkentut-kentut di jalan agak menanjak.  Bagaimanapun aku mesti lebih baik ! Aku akan mencoba lagi. Dipadu dengan beberapa upaya lain matahari sudah mulai terasa hangat di tengkuk, dan berkeringat itu membanggakan.  Kami lalu memilih rute yang lebih panjang.

Pertama kali mengelilingi danau di hutan bukanlah cerita bagus. Di pertengahan rute saya mulai meringis hampir menangis. Kakiku sakit, lintah menempel di sekujur betis, kepalaku oleng dan perutku bergemuruh. Aku merasa tak bertenaga. Perasaan sedihku muncul kembali, sakit lambungku tidak hilang dengan berjalan di antara daun-aun ini!  Lebih parah aku tidak bisa menikmati pemandangan indah di depanku. Konsentrasiku ada pada tubuh yang ringkih. Aku tidak peduli dengan burung cantik yang baru saja lewat di dahan depan mataku.

Kami berhenti dan duduk di akar kayu besar. Memandang danau dari sisi lain pada waktu itu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku duduk dan menangis sejadi-jadinya. Suamiku melucu coba menghiburku tetapi tidak bermanfaat. Aku semakin sesunggukan.  Dia duduk tidak menyalahkanku. “tidak apa-apa, semua akan berjalan baik !” Ia mengucapkan kata-kata yang sama (selamanya pikirku waktu itu).  Sama seperti  waktu berjalan ke biara adorasi, aku menangis lama sekali. Rasanya waktu sangat lama memusuhiku. Setiap usaha berjalanku sia-sia. Lama duduk di atas akar besar itu. Aku meneguk air dari botol. Suamiku mengambil kamera dan mulai memotretku. Aku tak berselera tapi tak tega juga mengingat upaya suamiku. Aku mulai meringis jengkel campur geli waktu dia berceloteh cerita jorok yang bikin muntah. Mulai tertawa dan akhirnya tertawa terbahak-bahak untuk sebuah lelucon.  Kami berpelukan dan melanjutkan berjalan. Bedanya ada yang terangkat dari bahuku. Ringan dan daun-daun mulai menarik hati.

Aktivitas berjalan-jalan dilanjutkan.  Masih menangis dan meringis sesekali.  Rutenya diulang-ulang di setapak yang sama tetapi rasanya mulai ringan.  Danau itu sudah kukelilingi berkali-kali dan frekuensi dan intensitas lelahku menurun dan bermetamorfosis menjadi kesenangan. Aku tak ngeri lagi dengan lintah (kata suamiku: anggap saja kita bawah oleh-oleh snack dari kota; nanti kenyang dia lepas sendiri). Selama di hutan itu tak ada ular (sampai kapanpun aku tak bersedia berdekatan dengan makhluk itu), itu akan menjadi tempat nongkrong yang asyik.  Aku tidak pusing lagi. Minum banyak air tidak membuat perutku mual.

Semakin berani, semakin jauh. Variasinya pun semakin banyak. Pergi, diam atau bercerita, duduk membaca buku dan memotret. Mendengarkan burung dan membawa teman. Mencari jenis tanaman tertentu atau sekedar melunturkan lemak.  Alam juga menjadi tempat yang baik untuk membicarakan dan mengakhiri pertengkaran dengan adil.

Kami mulai mengambil jalur tak biasa. Melewati jalan-jalan kecil (asal ada bekas kaki manusia), masuk ke lembah melewati kebun dan sawah orang dan mencari perkiraan jalur menuju jalan utama atau kampung terdekat. Foto-foto semakin banyak. Tidak selalu nyaman. Kadang-kadang kami kehujanan, dan basah. Langit tidak selalu biru dan foto-foto tidak terlalu dramatis. Tapi kami akan mengulang jalur yang sama. Bagaimanapun satu hari tidak akan pernah terduplikasi.

(Kesimpulan sementara bahwa kita tidak wajib berada dalam kondisi siap untuk memulai sesuatu dan dibutuhkan energi untuk ‘menjalani saja’ sebelum kita mengerti. Perlahan namun pasti keindahan akan menampakan diri ketika kita mulai tersenyum).

Dua tahun terakhir kami mulai sering mengajak teman atau teman minta diajak untuk berjalan-jalan lintas alam bersama. Itu menyenangkan. Semua teman merasakan hal yang sama : senang. Sepengalamanku belum ada  teman yang menangis sesunggukan di tengah hutan seperti aku dahulu.

Selain mendapatkan manfaat kesehatan, kebugaran dan keriangan, kami mendapatkan banyak hal lain dari berjalan-jalan. Bertemu banyak orang dan menjadi teman, pengetahuan tentang  berbagai tanaman dan kehidupan di komunitas lainnya. Foto-foto bertambah banyak dan catatan harian bertambah panjang.

Waktu itu kami berjalan kaki dari  kampung Langgo (bagian timur kota Ruteng), melewati kebun dan persawahan yang sangat indah. Aku melonjak-lonjak melihat mata air dan kebun selada air rimbun yang terakhir kulihat tahun 1980-an saat masih duduk di sekolah dasar.  Batang-batang besar pohon bambu di sisi sawah. Tanaman pandan berduri (re’a) sebagai bahan baku tikar dan keranjang  tradisional, tanaman rambat vanili yang melingkat di pohon-pohon kopi, dan kolam pemandian di sudut sunyi.  Bertemu beberapa perempuan dan Bapak-Bapak pemilik sawah. Awalnya mereka heran namun kemudian menjadi teman ngobrol yang asyik.  Aku memungut beberapa bunga kering untuk dijadikan hiasan natal (saat itu pertengahan Desember). Kami berjalan terus, diam dan kadang mengomentari sesuatu, foto dan difoto, duduk dan saling menatap. Syukur dan bersyukur.  Cukup jauh dan bingung berada di mana. Kebingungan yang menyenangkan. Jalan keluarnya mudah saja, menemukan saluran air, mengikutinya dan tiba di jalan raya dekat kampung Timung. Tinggal menunggu bemo atau ojek lewat.

Kali lain kami berjalan kaki dari jembatan Wae Reno ke arah kampung Londang.  Sekali lagi lewat persawahan dan beberapa kebun sayur. Kami bertemu dengan beberapa petani cabe dan terung yang  terletak dekat sawah.  Kebun cabe itu terawatt baik, begitu juga terung. Para petani itu mengeluhkan sulitnya menjual hasil bumi mereka.  Mereka berharap ada sistem perdagangan yang membantu mereka.

Sering juga  kami berjalan kaki bergerombol. Kadang-kadang di danau Rana Mese, di Sondeng menuju Pela, dari Langgo melewati persawahan di  sebelah utara Bandar udara Frans Sales Lega dan berakhir di danau Mbeong Ledas. Jalan bersama teman-teman selalu  seru. Ramai bersorak dan berfoto.

Kami sudah melewati banyak setapak sawah, pasar, kebun kopi, pinggiran hutan, lembah dan sisi air terjun. Anak-anak kami sering ikut serta untuk beberapa rute terdekat. Mungkin karena situasi berbeda, mereka memulai dengan santai dan tidak menangis.

Banyak hal yang berubah meskipun banyak hal yang  masih harus diperjuangkan. Berlimpah manfaat. Tubuh mulai terlatih dan sehat. Pikiran negatif perlahan dan berkala. Sama kerasnya dengan itu saya terlatih untuk mengendalikan diri: tidak semua barang yang disebut orang sebagai makanan wajib dimasukan ke mulut.  Bersyukur bahwa kita memiliki banyak makanan yang enak dan sehat.

Saya masih merespon situasi dengan  menangis dan mudah mellow, namun selalu ada langkah-langkah maju.  Tubuh terasa lebih nyaman dan hal-hal sederhana menjadi kenikmatan.  Perasaan bersyukur terlatih  secara teratur termasuk pada saat-saat sulit. Berjalan-jalan memudahkan kami memikirkan alasan untuk berterima kasih.  Berjalan-jalan itu tidak mahal dan memberikan berlimpah ruah kebaikan. Begitulah.

 

Ketika matahari bersinar,  hangatnya memeluk tubuh

Itu awal keistimewaan

Pabila yang ada buah lemon, mari kita membuat  jus lemon

Selalu ada kemewahan dalam keserhanaan.

Lalu kita berjalan-jalan

Berhenti sejenak melihat kupu-kupu di atas bunga liar berwarna ungu

Tarik napas dalam merebut aroma daun-daun

Lalu hembuskan segala resah

 

Ketika engkau menyukai alam

Engkau akan melihat keindahan di mana-mana.

Semoga jalan-jalanmu memberikan damai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *