HARI KITA MENJADI IBU

Hari kita menjadi ibu bisa bermacam-macam artinya. Kebanyakan dari kita merasa menjadi ibu ketika hamil, saat melahirkan, menyusui dan selanjutnya mengasuh anak. Bagi sebagian orang menjadi ibu tidaklah berkaitan dengan kehamilan, melahirkan, atau menyusui dan membesarkan anak. Menjadi ibu kadang-kadang bermakna relasi, saat seseorang tersentuh hidupnya oleh orang (perempuan) lain yang memberikan  sentuhan kasih. Sebab kata ibu mewakili kasih tanpa tendensi.

Karena suatu sebab yang (pasti) direncanakan Tuhan, keluarga kami menjadi dekat dengan sebuah komunitas yang mengurus anak-anak dengan kebutuhan khusus : para penyandang cacad tubuh, mantan penderita kusta, anak-anak dengan retardasi mental, anak-anak yang ‘entah di mana’ orang tuanya dan anak-anak lain yang kehilangan perteduhan. Komunitas itu resminya bernama Rumah Sakit Rehabilitasi Penyandang Cacad St. Damian Cancar.

Adalah seorang bayi bernama Koko. Dia lahir dari seorang ibu yang selain cacad tubuh juga bisu tuli. Karena kesulitan membesarkannya, anak ini dititipkan di RS St. Damian. Kami sekeluarga sering mengunjungi dan membicarakan Koko. Si manis Koko selalu riang jika diajak berkomunikasi.

Selain beberapa biarawati yang mengurus rumah sakit, adalah seorang perempuan dewasa yang bertugas merawat Koko di rumah barunya itu. Koko tumbuh sehat tetapi dia kesulitan berjalan dan berbicara.  Ibu asuhnya dan juga saudara/i nya di komunitas itu (umumnya penyandang cacad fisik) sangat menyayangi Koko dan memperlakukannya secara istimewa layaknya saudara bungsu dalam sebuah keluarga. Koko rutin diterapi, diajak berenang, dicandai, dipeluk, dinasehati  dan dibimbing. Koko sekarang beranjak remaja, sudah bisa berlari ke sana kemari. Ekspresinya menunjukkan bahwa   ia merasa  dicintai meskipun tidak bisa mengungkapkannya secara verbal. Jika ditanya tentang ibunya, si Koko akan menunjuk wanita yang merawatnya siang dan malam di komunitas itu. Wanita yang tidak pernah hamil, melahirkan, dan menyusui namun sanggup memberikan kasih seorang ibu bagi jiwa raga Koko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *