Dresden

DRESDEN DI TEPI SUNGAI ELBE

DRESDEN DI TEPI SUNGAI ELBE

Sebagai tour organizer kami memiliki banyak klien dari berbagai daerah dan negara. Banyak di antara klien itu di kemudian hari bermetamorfosis menjadi teman, sahabat bahkan berinteraksi seperti keluarga. Salah satunya adalah keluarga @Lubiger, pak Roland Lubiger dan Ibu Elke Lubiger. Keluarga ini dulunya adalah klien yang kemudian menjadi teman baik keluarga kami terutama suami saya. Suami saya menjadi sahabat berpetualang Pak Lubiger di berbagai tempat. Relasi ini berkembang ke anak, menantu dan cucu mereka dan juga berjaring ke teman-temannya. Teman-teman Pak Roland menjadi teman-teman kami dan banyak kenalan kami kemudian berteman dengan Pak Roland. Keluarga Lubiger termasuk anak menantunya pernah ke Indonesia termasuk ke Flores bahkan ke rumah kami.

Suamiku bertemu Pak Lubiger hampir setiap tahun, frekuensi ini termasuk sering untuk ukuran orang dengan tempat tinggal berbeda benua. Untuk urusan pekerjaan suamiku sering ke Berlin dan selalu extend waktu tinggal untuk berpetualang dengan Pak Roland yang sengaja datang dari kota di luar Berlin. Kadang-kadang mereka merencanakan waktu khusus untuk melakukan kegiatan kegemaran mereka yakni fotografi. Tahun lalu mereka berdua ditambah beberapa teman berburu aurora di Lofoten Norwegia. Mereka juga pergi ke sejumlah kota di Eropa. Jika keluarga itu ke Indonesia dipastikan pemandunya adalah suamiku. Mereka berkeliling Flores, Sumatra dan Kalimantan. Begitulah.

Banyak kali keluarga Lubiger bertanya pada suami saya kapan saya berkunjung ke kota mereka. Karena berbagai alasan takut pergi jauh saya menganggap itu mustahil (lihat cerita sebelumnya) sampai akhirnya mujizat itu terjadi. Aku ke Berlin pada Maret 2015.

Hari terakhir urusan kerja di kota Berlin, Pak Roland menjemput kami. Sebagai pendatang baru di dunia lain berulang-ulang saya katakan saya takjub sampai tak sanggup menyembunyikan ekspresi kampungan saya. Jalan raya yang sangat bagus, terowongan, toko, tanah pertanian, padang, rumah-rumah pedesaan, rumput-rumput dan bunga yang mulai nampak menyambut musim semi. Dua jam lebih sedikit waktu tempuh Berlin – Dresden yang berjarak kurang lebih 200 km (kalau di Flores jarak segitu akan memakan waktu sepanjang hari).

Dresden nampak cantik, barangkali senang menyambut kami. Kami melewatinya saja karena langsung ke pegunungan Altenberg untuk melihat salju (salju di kota sudah cair). Cerita tentang pegunungan Altenberg.

Turun dari pegunungan kami langsung ke pusat kota. Bu Lubiger menelpon bahwa malam hari kami harus sudah sampai di rumahnya untuk makan malam. Waktu harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Suamiku yang beberapa kali ke sini bersama Pak Lubiger menceritakan banyak hal padaku seputar kota Dreseden

Dresden adalah ibu kota negara bagian Sachsen, Jerman. Secara geografis letak kota Dresden berada di sisi timur Jerman, berbatasan dengan kota Prague (Ceko Slovakia) yang terkenal karena keelokannya dan juga negara Polandia. Konon kota berwajah elok ini didirikan pada tahun 1206 oleh bangsa Slavia.

Kata orang dan kata pikiran perasaan saya, Dresden adalah kota sejarah yang wajib dikunjungi jika ke Jerman. Ia cantik karena alamnya memang indah (saat kami di sana sudah akhir musim dingin dan mulai menyambut musim semi) dipadu dengan bangunan-bangunan indah dan tata kota yang rapi. Dari sisi alam, sungai Elbe yang membelah kota menjadi ikon Dresden termasuk negara-negara lain yang dilalui sungai Elbe. Di tepi sungai terdapat tebing-tebing yang secara alamiah indah lalu disentuh dengan penataan dan teknologi menjadi tambah keren.

Kami langsung ke pusat kota. Ada bagian kota yang dipenuhi bangunan-bangunan tua dan terawat yang disebut kota tua (Altstadt). Saya beruntung bisa mengunjungi beberapa tempat yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi.

Frauenkirche (Church of Our Lady) ; merupakan salah satu gereja Protestan di kota Dresden. Ceritanya gereja bergaya barok yang sudah ada sejak abad ke-11 ini adalah gereja katolik yang dipersembahkan untuk Bunda Maria. Pada masa reformasi gereja ini menjadi milik kaum Lutheran. Pada abad ke-17 dan 18 gereja ini rusak dan dibangun kembali yang lebih megah dengan nama yang sama. Di mata saya gereja ini menarik di semua detailnya. Yang sangat menonjol adalah kubah gereja yang indah dengan tinggi 100 meter yang disebut sebagai Steinerne Glocke (lonceng batu). Kubah Frauchenkirche yang beratnya kurang lebih 12.000 ton dan tidak disanggah di bagian dalam ini sangat kokoh. Pada masa perang pada tahun seribu tujuratusan gereja ini berulang-ulang menjadi sasaran tembak namun tidak hancur. Lebih dari 200 tahun sudah gereja ini tetap utuh dengan kubah yang stabil, elegan menjadi kekhasan kota Dresden.

Selain bangunan gerejanya, saya juga tertarik dengan halaman / lapangan di depan sekitar gereja. Lapangannya luas (kayaknya tadi kami parkir di ‘kolong’ lapangan he he he) dan dipakai untuk pasar rakyat terutama pada masa-masa istimewa seperti menjelang natal. Ada patung Martin Luther di depan gereja. Di bagian belakang terdapat pusat sejarah bernama Bruehl’s Terrace. Pemandangan dari sini sangat indah dank has negara empat musim Saya suka memandang sungai Elbe dan jembatannya dari teras batu yang ditumbuhi pohon-pohon yang masih membeku karena musim dingin. Saya juga suka kios-kios pedagang souvenir di sekitar tempat itu, termasuk sarana transportasi yang kebetulan lewat. Banyak vitamin untuk mata.

Bertetangga dengan Frauenkirche terdapat gereja katolik dan juga pertokoan. Kami masuk ke dalam gereja katolik yang terbuat dari batu berwarna kuning kehitaman yang bernama Katolische Horkirche. Kami masuk dan ternyata ada misa (hari itu Minggu) dan bukan kepalang saya gembira. Sebagai turis biasa (bukan khusus ziarah), kejutan suasana doa itu ‘sesuatu’ banget. Meskipun tidak mengikuti dari awal saya tetap khusyuk menikmati misa dan komuni. Suami saya dan Pak Roland berdiri di belakang di antara turis-turis lain. Mereka malah memotret saya beribadah dan menerima komuni.

Kembali ke halaman gereja, kami menikmati suasana sore. Karya-karya seni di sekitar, orang-orang yang lewat dan tentu saja pemandangan sungai Elbe dan kastil di seberangnya. Dari situ kami bergegas ke Augustusbruecke (jembatan Agustus di ssalah satu bagian sungai Elbe). Pak Roland dan suamiku sibuk naik ke bagian atas tiang jembatan untuk foto. Saya agak ngeri melihat tingkah mereka makanya saya bersibuk diri menikmati suasana di bawah sana. Banyak orang menikmati sunset di tepi sungai. Meski ramai, seperti halnya Berlin tidak ada selembar sampah (apalagi sampah non organik) yang terlintas di mata saya. Bersih dan tenang. Kembali hati melonjak-lonjak bersyukur sambil mencubit tangan : apakah aku sedang bermimpi ?

Sebenarnya masih banyak bangunan dan tempat lain yang kami nikmati pesonanya sore itu. Karena ‘apa apa nampak bagus’ saya kehilangan fokus terhadap setiap informasi tentang tempat-tempat tersebut. Saya hanya sanggup merekam informasi dua ikon Frauchen Kirche dan Horfkirche tadi. Lainnya tersimpan di hati saya. Lain kali saya akan tanya termasuk beberapa museum seni, toko-toko makanan unik, dan gereja dengan kubah yang berwarna hijau.

Maunya lama-lama tetapi matahari sudah pulang kandang. Pak Roland mengantar kami ke hotel tempat kami menginap. Dengan ikhlas beliau menunggu kami mandi (padahal kami sudah menawarkan bisa pergi sendiri ke rumahnya – ini ketiga kalinya suami saya ke kota ini; namun beliau bersikeras menunggu).

Serasa berkunjung ke rumah saudara di perantauan. Ibu Elke dan adiknya Ibu Birgitt yang kebetulan berkunjung ke rumah mereka, menyambut kami dengan ramah dan bersemangat. Ini pertama kali saya masuk ke apartemen keluarga di Eropa. Saya suka. Tentu saja berbeda sekali dengan cara kita tinggal di Indonesia (perbedaan selalu menarik). Apartemen ini ukuran standar (meskipun kecil dibandingkan kebanyakan rumah-rumah kita di Indonesia). Ada dua kamar tidur, satu ruang kerja, dapur, dan ruang keluarga (sekaligus ruang makan) yang memiliki teras di luarnya. Kami makan dengan gembira dan penuh keakraban. Bu Elke menyiapkan roladen (daging gulung, di Indonesia kita sebut rolade) komplit dengan saosnya, kentang, dan tentu saja wine. Terima kasih Bu Elke. Usai makan kami merencanakan trip untuk esoknya.

Kembali ke hotel. Kami beristirahat karena esok akan berpetualang lagi. Pagi hari saya sempat menikmati suasana sekitar hotel. Membandingkan layanan hotel di berbagai tempat itu menyenangkan. Di seberang jalan depan hotel terdapat bangunan-bangunan bergaya antic. Saya piker itu museum atau semacam pusat budaya. Taunya itu adalah kantor-kantor pemerintah termasuk kantor untuk layanan air (macam PAM di Indonesia). Sarapan paginya khas Jerman: roti dengan macam-macam daging asap dan salad. Banyak-banyak makan salami (daging asap) selagi di Jerman. Pak Roland datang bersama adik iparnya Ibu Birgitt. Ibu Elke tak ikut karena harus bekerja.

Pak Roland membawa kami ke took pertanian organic. Tidak pernah masuk dalam daftar ‘tempat wajib kunjung’ di Eropa tetapi sangat asyuik untuk saya. Di sana dijual aneka bunga warna-warni. Saya mendekat, mencium dan menyentuh : ohhh ternyata bunga asli, bukan plastic ! Saya membeli beberapa bibit bunga siapa tahu hidup di Ruteng karena hawanya tak terlalu bebbeda. Di bagian belakang toko terdapat ruang khusus tanaman tropis seperti kaktus, dan beberapa tanaman yang ada di Indonesia namun saya lupa/tak tahu namanya. Bagaimana mungkin ? Rupanya mereka mendesain ruangan dengan suhu tropis. Pertanyaan kalau orang membeli tanaman tersebut dan membawa pulang apakah mereka memanipulasi juga suhu rumahnya untuk menghidupkan si tanaman ? Pertanyaan tak terungkap sehingga sampai sekarang saya tak mendapat jawaban.

Kami akan ke luar kota namun sebelumnya kami mampir ke sekolah anak usia dini (PAUD nama Indonesia –nya) tempat Elke bekerja menjadi gurunya. Ini kejutan manius juga karena pekerjaan saya di Indonesia terkait dengan pelatihan untuk pendidik PAUD – lumayan nambah pengalaman). Suasananya seperti kebanyakan lembaga pendidikan anak. Kami masuk ke ruang-ruangnya termasuk sentra / pusat minat pendidikan (dapur, kantin, sentra rumah tangga, ruang tidur, dan beberapa ruang lainnya).

Kami lalu menuju kastil di desa Pillnitz persis berhadapan dengan salah bendungan air sungai Elbe. Namanya Schloss Pillnitz (Pillnitz Castle) atau istana Pillnitz yang mulai dibangun tahun 1722. Istana yang berwarna agak oreinj ini sangat cantik artistik baik bangunan maupun tamannya. Istana keren ini terdiri dari tiga bagian utama . Istana pertama berhalamankan sungai Elbe sehingga disebut wasser palais (istana di tepi sungai). Istana kedua letaknya di atas bukit sehingga disebut Bergpalais, dan yang ketiga idi sisi timur stana baru atau Neues Palais. Istana ini juga memiliki museum seni dan kapela yang indah.

Halamannya sangat luas dan indah. Jalan-jalan di sebagian kawasan halaman istana terasa romantic. Waktu itu bunga-bunga musim semi baik liar maupun yang ditanam memberikan kecerian tersendiri. Meskipun masih kering beku, saya juga suka melihat kebun anggur. Katanya Pillnitz Castle juga merupakan situs yang terkait dengan produksi anggur di Dresden.

Saya berlari dan duduk di bangku di bawah pohon persis di tepi sungai lalu mengikuti Pak Roland menjelajahi bagian kastil yang menghadap ke sungai. Pohon-pohon anggur masih membeku tetapi cukup bagus untuk berfoto. Kastil itu keren sekali. Sebenarnya bukan hanya kastil yang menarik perhatian saya. Perjalanan dari kota ke kastil tak kalah bikin mata tak berkedip. Jalanan bersih dengan pohon-pohon khas sepacam pinus di tepinya. Selain itu saya sangat tertarik dengan rumah-rumah bergaya tradisional (pasti cara kerjanya tetap modern) di tempat-tempat yang kami lewati. Untuk mengingat saya minta difoto di salah satu rumah.

Puas berfoto dengan segala macam gaya di istana, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bastei yang sangat terkenal di Jerman. Nama resminya adalah Saxon Switzerland National Park, terletak di Rathen (sebelah tenggara kota Dresden. Penampakan alamnya adalah tebing-tebing menjulang tinggi (seperti menhir alam yang sangat tinggi) dan sangat banyak, gua-gua, batu-batu jarum diselingi aneka pohon. Formasi-formasi batu-batu alam menjulang tinggi (ada yang lebih dari 300 meter tingginya) di atas permukaan laut di taman nasional ini dibentuk oleh erosi air jutaan tahun lalu. Antar beberapa batu dibuatkan jembatan penghubung dan kiyta bisa melaluinya dan mendapatkan informasi di beberapa titik tentang sejarah manusia pada abad-abad sebelumnya yang menggunakan tempat ini sebagai persembunyian atau jalan menuju tempat lain. Melewati beberapa bagian jembatan kaki saya alam semua. Ngeri melihat jurang di bawah sana. Ternyata Birgitt juga demikian, karenanya kami berdua hanya bersedia difoto di bagian yang tidak terlalu terjal dan tidak mau naik ke jembatan tertinggi di sisi lain. Di bawah sana di dasar ngarai terdapat semacam stadion mini tempat orang mengadakan kegiatan berkesenian semacam teater. Ngeri juga melihat para pendaki batu hanya memakai tali dan duduk santai di atas batu (jurang sekelilingnya). Bagaimanapun tempat ini memang sangat impresif, mengesankan. Saya suka melihat sungai Elbe dari kejauhan termasuk kappa-kapal yang melintasinya serta lading-ladang di pesisirnya.

Sedikit flashback, dari istana ke taman nasional kami melewati pedesaan, ladang dan tempat-tempat yang masih tertutup salju. Kami berhenti banyak kali untuk berfoto. Teori terbukti bahwa perjalanan itu bukan hanya soal sampai di tujuan tetapi menikmati perjalanan ke sana.

Cukup lama kami di Bastei. Sore hari kami kembali, beristirahat sejenak untuk malam nanti makan bersama. Singkat kata malam pun tiba. Kami berdua kembali berkumpul bersama Bapak Ibu Lubiger , dan juga Birgitt (adik Bu Lubiger yang sedang berkunjung) di restaurant yang sangat berdekatan dengan jembatan Agustus di sungai Elbe (dua hari lalu kami ngeceng di sana). Saya menyantap wurst atau sosis khas Jerman yang dihidangkan dengan salad (kol), bawang bombai dan keju. Malam itu sekalian kami pamit dan berterima kasih pada keluarga baik hati ini. Esok pagi kami harus terbang ke Paris dengan singgah di Dusseldorf.

Sampai jumpa lagi Dresden. Auf wiedersehen

Catatan : beberapa foto di galeri yang terkait kisah ini (foto-foto berdua saya dan suami) adalah milik @Rolandlubiger (www.Lubiger-Weltsichten.de/ ) yang telah diberikan pada kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *