december di Ruteng

DESEMBER &  PERJUMPAAN  DENGAN INNER CHILD –KU.

The new year stands before us, like a chapter in a book waiting to be written; we can help write that story by setting goals

(melody Beattie)

Saya membuka dengan kisah tahun lalu.

Saat itu saya dan semua orang sedang berada di hari terakhir tahun Masehi 2017. Seperti kebanyakan orang lain di pulau ini saya juga terbawa romantika emosional: berkumpul bersama keluarga, mencium aroma perayaan di mana-mana dan juga keinginan untuk hening sejenak. Bukan, bukan berhenti atau menghentikan waktu (siapa bisa menghentikan waktu?). Bukan juga berhenti berpikir apalagi berhenti merasa. Hening adalah menikmati diri sendiri, memberi ruang bagi titik terdalam dan paling rahasia untuk berbicara. Senang, bersyukur, marah, marah besar, kecewa, bosan, capek, meluap-luap semuanya dibiarkan terungkap. Itu lebih baik karena agak jarang si inner child dibiarkan bicara tanpa diinterupsi.  Saya sendiri punya banyak cadar dan kelambu yang menutup dan memerangkap si inner child– ku. Kesibukan, hobi terburu-buru untuk hal remeh temeh, kemarahan, pesta, bosan, kerja, cemas, keinginan untuk terus menyenangkan orang lain, prestis, takut kehilangan dan seterusnya semakin memenjarakan inti kemanusiaanku sendiri. Tidak ada waktu berbincang-bincang dengan diri sendiri. Sesekali sih saya berusaha menyempatkan diri seperti pengakuan menjelang natal, paskah atau persiapan untuk ziarah. Pernah juga pertemuan dengan si diri pribadi inner child dibantu oleh hypnotheraphist dan dokter jiwa (= dengan biaya yg tidak murah). Momen lain adalah saat berdoa. Namun doa dengan menghadirkan inner child butuh waktu yang lebih lama dan butuh situasi khusus untuk itu. Karena tak terbiasa, meditasi bukanlah suatu yang mudah untuk saya. Kesimpulannya adalah pertemuan dengan inner child itu cukup mewah.

Hari terakhir di tahun 2017, tepat di hari Minggu. Seharusnya kami ke gereja, baik gereja mingguan maupun misa ibadat akhir tahun. Kami malah berada di sini di hotel tepi laut menikmati senja yang dramatis. Suami saya mengurus pekerjaan sebentar dan memberikan waktu berkualitas secara istimewa untuk saya dan anak-anak. Baiklah saya coba sangat tenang dan berbicara dengan inner child –ku dengan cara seperti yang diajarkan si Bapak hypnotherapist dan Bapak pengakuanku. Aku harus tenang dan menerima semua situasi termasuk hal tak nyaman yang selalu berulang. Biarkan saja semua itu. Aku tidak mengumpat, aku berusaha memandang baik. Dan meskipun sebentar, it works. Aku masuk ke hadiratNya dengan rasa sangat lega dan penuh syukur. Terlepas semua.  Matahari itu bagai penggiring doa. Ada keributan dan perayaan di sekitar namun hati tetap bisa tenteram. Doa yang indah.

Inner child, siapakah gerangan?  Harafiahnya adalah si anak kecil di bagian dalam diri. Penjelasan lebih jauhnya adalah anak di dalam diri kita yang terlahir baik adanya, suci dan jujur. Ia adalah sisi ilahi dari diri pribadi. Si inner child adalah inti diri sejati seseorang. Seharusnya dia bahagia, dan bersih. Ia yang memegang kunci pusat diri manusia. Sayang pemilik raga kerap mengabaikan keberadaan si inner child, tidak diijinkan berperan sebagaimana seharusnya (sebagai pembeda yang sebaiknya dilakukan dan yang semestinya dihindari). Beberapa orang menyebutnya suara hati atau hati nurani. Manusia membiarkan sampah-sampah emosional memenuhi ruang hati sampai gelap, padat dan kumuh. Tidak heran ia sendiri kemudian sakit, menderita karena emosi negatif yang tak terkendali dan sebagainya. Sampah-sampah itu harus dibersihkan dan kita harus berbicara dengan inner child sebab dialah yang memegang kunci ruang hati itu. Berbicaralah dengan diri kita yang masih kanak-kanak itu. Belailah keningnya. Minta maaflah dan mintalah ijin ia membukakan pintu itu. Ruang itu harus dibersihkan. File-file negatif harus dibuang, sampah-sampah dikeluarkan, jendela-jendela dibuka, aroma kebaikan harus menggantikan bau busuk yang membuat si manusia menderita. Atas ijin inner child kita akan mengangkut semua sampah itu untuk dihancurkan oleh energi ilahi yang akan mendaurnya menjadi sesuatu yang baik.

Itu gambaran umum penjelasan si ahli jiwa tentang diri dan inner child.

Apa hubungannya dengan Desember?

Pemilahan waktu sebenarnya buatan manusia untuk memudahkan hidupnya, seperti menentukan tema-tema dalam menikmati hidup. Itu bukan sesuatu yang buruk. Bagus jika setiap bulan, dan setiap waktu kita bisa bertemu dengan inner child kita. Kadang-kadang kita butuh situasi kondisi alias si tema bulanan. Desember bagi saya  mengandung tema permenungan sekaligus pesta pora masal. Bulan Desember adalah bulan pesta di seluruh dunia. Ada thanks giving di beberapa benua, penti (thanks giving ala kampung kami), natal dan tahun baru. Semua orang akan mengakhiri episode waktu satu tahun; berpesta merayakan hasil kerjanya, perjumpaan dengan orang-oranh terkasih, menikmati suasana alam yang berbeda. Bersyukur dengan cara yang khusus, merenung dengan cara yang khusus namun masal hampir di seluruh dunia.

Eropa dan Amerika merayakan musim dingin dengan macam-macam festival, thanksgiving, hallowen, dan natal. Dalam konteks budaya massa festival-festival itu menjadi tema produk budaya massa di seluruh dunia.

Kami menganut tradisi katolik yang bercampur dengan agama asli Manggarai suku kami di Flores. So warna pesta di bulan Desember kami beragam. Gaya Eropa Amerika pada dekorasi natal, ibadat dan aksi-aksi kemanusiaan gaya katolik ditmbah dengan ritual kampung sesuai adat suku kami. Semua terkait ritual, pesta, dan doa; menurut tradisi katolik bercampur doa adat dan cara mengungkapkan wish bentukan budaya pop media massa.

Kembali ke perihal inner child; Berhubung Desember adalah bulan permenungan maka kami pun mengikuti irama itu. Dalam komunitas keluarga sebagai orang Manggarai di Flores kami wajib mengikuti acara khusus berterima kasih pada leluhur yang mewariskan segala kebaikan sekaligus mendoakan keselamatan mereka. Kami mengadakan upacara penghargaan pada alam yang meberi kami ibu pertiwi yang subur. Upacara itu juga dimaksudkan untuk secara resmi melupakan duka dan kegagalan masa lalu dan melanjutkan hidup dengan damai. Sebagai warga gereja Katolik Roma kami juga mengikuti ibadat doa untuk maksud yang sama. Setelah itu kami berpesta. Lalu kapan bercakap-cakap dengan inner child? Itulah, khusus untuk saya sendiri dari tahun ke tahun percakapan itu jarang berlangsung mesra. Kalau ada hanya sepintas sebagai selingan atau jika ada sisa waktu. Saya kembali diingatkan tentang hal itu saat sesi  terapi self healing (kali kedua – saya juga mengikuti terapi yang sama sebelumnya  saat saya didiagnosa terkena penyakit kecemasan panic attact). Berbicara dengan inner child itu penting. Dan sangat penting kita melakukan pembersihan file-file negatif dari ruang pribadi manusiawi kita.

Desember: mungkin pola romantismenya bisa kita buat variasi baru. Pesta pora bolehlah, namun itu dilakukan setelah ada waktu khusus kita dengan diri sendiri. Bisa dibantu oleh psikolog atau terapis atau sahabat terpercaya, bisa juga dilakukan secara mandiri. Doa rutin dan kyusuk dengan memakai tata cara meditasi akan sangat membantu. Di antara doa itu cobalah hening dan pelan-pelan bicara dengan si diri kecil itu. Awalnya sangat berat bahkan bingung harus mulai dari mana. Itu berarti lapisan pelindung diri kecil itu terlalu tebal dan file-file yang tidak penting itu terlalu banyak.

Aku mulai menangis membaca daftar file-file lama itu. Masih enggan dibuang. File pertama: Marah dan benci pada sebuah situasi situasi, kesal bertahun-tahun dengan si A, peristiwa silam yang berlalu begitu saja bahkan berulang tanpa permintaan maaf.  Aku minta ijin pada si diri kecil dan akhirnya file itu ku-delete tanpa sisa termasuk di ruang recycle bin. File berikutnya menjadi lebih mudah dan bahkan sangat mudah di-delete. File-file itu terlihat terbang ke angkasa dan dibakar oleh api abadi tanpa meninggalkan bekas.

Entah bagaimana aku merasa lebih baik bahkan semakin baik. Kemarahanku  dibakar dan berubah menjadi rasa tenang. Aku berpikir tentang 364 hari yang berlalu dengan penuh rasa syukur; bukan untuk disesali atau menyombongkan diri.

Tahun ini 2018 dan Desember datang lagi.

Ruteng berkabut dan hujan deras mengawalinya.  Dingin. Aku tidak perlu lagi berupaya keras mengeluarkan umpatan  karena basah kuyup dan kerepotan oleh berbagai urusan. Desember di Ruteng seyogyanya begitu. Air adalah berkah apalagi saat turun pada saatnya. Dingin, sakit dan repot hanyalah signal ketidaksiapan kita.

Beberapa hari lalu saya baru tiba di rumah setelah sebulan mengikuti program Yoga Teacher Training 200 jam di Ubud Bali. Itu pengalaman penting untuk saya tahun ini. Saya telah mengambil keputusan berani dan bahkan saya masih belum percaya bahwa saya telah melakukannya. Lebih dari sekedar mendapat sertifikat bergengsi sebagai instruktur yoga, saya mendapatkan beberapa bekal untuk merealisasikan rasa cinta pada diri pribadi, si inner child-ku melalui yoga. Aku berlatih melakukan pose-pose olah tubuh tertentu, belajar sadhana / praktek spiritual (termasuk meditasi, hening, dan bernapas dengan sadar), mempelajari beberapa prinsip dasar hidup (mencintai diri, orang lain, alam dan tentu saja mencintai Sang Sumber Cinta itu). Teknisnya ada pada cara hidup sehat: makanan, bersih tubuh ragawi, pikiran dan hati, kecantikan, seksualitas, olah raga dan pelepasan (keihklasan).

Mengapa aku harus mencintai tubuhku? Mengapa aku terlalu repot dengan urusan tubuh fana ini? Apakah aku tidak akan terperangkap menjadi sosok egois dan narsis?  Saat itulah tubuhku dengan lantang menjawab: KARENA AKU ADALAH BAIT ALLAH DAN ENGKAU HANYA PUNYA SATU, LILA!

Mengasihi diri tidak sama dengan menjadi egois. Merawat kesehatan fisik, makan makanan sehat, berolah raga, berkoneksi rutin dengan alam akan membuatmu lebih siap untuk mencintai orang lain.  Ketika pikiran kita tenang, jiwa kita tenteram, akan banyak manfaat yang turut dirasakan orang-orang sekitar kita; atau paling sedikit mengurangi beban bagi orang-orang terdekat.

Tubuh hidup karena ada napas. Tanpa napas, ia adalah sepotong daging, bangkai. Napas itu adalah energy ilahi yang membuat kita hidup, membuat organ-organ tubuh secara sempurna menjalankan fungsinya masing. Bernapas dengan sadar akan membantu kita masuk dan berbicara akrab dengan diri pribadi kita.

Desember-ku. Masih berkabut, dingin, hujan dan kopi panas. Kali ini tidak ada jagung lokal di tungku api (di pasaran hanya ada jagung hasil modifikasi tehnologi modern). Talas dan ubi-ubian juga tidak mudah didapat. Kami sekeluarga lebih banyak menengok  computer dan HP ketimbang duduk mengelilingi tungku api. Tidak rutin kami berdoa bersama. Tantangan besar untuk memberi waktu berelasi mesra dengan anggota keluarga. Diam-diam saya bersyukur jika listrik mati senja hingga malam hari. Dalam gerutuan, seisi rumah pasti saling mendekat dan bercerita hal remeh temeh dengan penuh keakraban. Selain itu, aka nada banyak waktu untuk berdoa dengan hikmad.

Bagaimana pun listrik mati tidak bisa terus menerus diandalkan untuk merajut kebersamaan dengan seisi rumah atau berdoa. Harus ada program yang teratur dan wajib sebagaimana halnya wajib makan dan minum. Paling mudah adalah mengikuti saja program keagamaan dengan motivasi yang lebih pribadi dan lebih tulus.  Pekan-pekan adventus dalam tradisi gereja dihayati lebih dalam. Kami membuat daftar kegiatan-kegiatan yang baik. Menanam banyak bunga, berbagi rejeki, menceritakan kisah kelahiran Yesus dan kisah-kisah malaikat pada anak-anakku. Pengakuan dosa dan ibadat termasuk meditasi adalah bentuk lain dari percakapan dengan inner child. Tidak perlu terlalu diperdebatkan secara teoritis, toh kami sudah mendapat pelajaran agama yang membahas hal ini selama puluhan tahun. Biasanya debat hanya menjadi dalih untuk menutupi kemalasan mental.   Pekan ketiga seisi rumah mulai sibuk-sibuk: membersihkan rumah dan halaman, juga membuat banyak kue kering biarpun rasanya tidak pernah lebih enak dari tahun-tahun kemarin. (Oya, tahun ini ada tambahan membuat kacang telur meskipun ia akan habis sebelum natal tiba). Membongkar gudang dan mencari ornamen-ornamen natal dan memajangnya sambil mendengarkan lagu-lagu natal. Ketika liburan dimulai, para keponakan mulai berdatangan. Hemat waktu, tenaga dan biaya kami membawa rombongan itu ke danau dan berjalan-jalan di sana. Secara halus pendidikan lingkungan hidup akan kami ajarkan.  Anak-anak dan para keponakan pasti   akan menciptakan tradisinya sendiri. Pergi dari rumah kerabat yang satu ke rumah kerabat yang lain dan mereka akan kaya. Itulah yoga kami :     Jnana-yoga (yoga of wisdom: bahwa cinta tanpa diskriminasi adalah prinsip), bakti yoga (yoga of devotion: doa, pujian, devosi pada Tuhan), karma yoga (yoga dalam perbuatan: iman tanpa perbuatan adalah hampa), dan hatha yoga (penyatuan fisik dan pikiran: olah tubuh, bernapas dengan baik) . perjumpaan dengan inner-child lambat lain akan menyatu dalam kehidupan sehari-hari yang dihayati sebagai spiritualitas.

Desember-ku

Hidup masih berlanjut dengan banyak perjuangan. Perjumpaan dengan inner child dengan macam-macam upaya teknisnya tidak akan meniadakan persoalan-persoalan klasik seperti konflik dan relasoi yang buruk, masalah keuangan dan pekerjaan, masalah rumah tangga, penyakit dan hal-hal lain. Namun reaksi menghadapi masalah itu bisa diperbaiki  sehingga tidak sampai sangat menyakitkan apalagi menyakitkan dalam waktu yang lama.

Desember-ku

Hujan terdengar merdu, dank abut terasa sedap. Aku masih mencari tahu di mana mendapatkan jagung lokal dan gaplek untuk tungku apiku.

December di Ruteng, Matahari terbenamPenuh cinta

Lila – 1 Desember 2018.

2 thoughts on “DESEMBER &  PERJUMPAAN  DENGAN INNER CHILD –KU.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *