Melintas Benua, Menara Eifel, Paris

BERDUA; MELINTAS BENUA

BERDUA : MELINTAS BENUA

Suamiku sudah bepergian ke luar negeri sejak kami belum menikah. Setelah menikah hampir setiap tahun suamiku pergi ke Eropa. Banyak cerita tentang negara-negara dan kota-kota yang pernah dikunjungi. Tidak ada tempat yang lebih baik atau lebih buruk, semuanya menarik justru karena perbedaan-perbedaan yang nampak darinya. Suami saya tidak terlalu pandai bercerita namun saya sering memancing dengan bertanya hal-hal ‘sepele’; kursi tamannya gimana ? Kepala ikan cod rasanya seperti apa ? Saluran air di sana ada sampahnya ka ? Bla bla bla. Mujur suamiku suka fotografi dan foto-fotonya membantu bayangan kami tentang tempat yang diceritakannya.

Beberapa kali suami mengajak dan membujuk saya untuk ikut ke Eropa. Tentu saja saya memimpikannya, tetapi selalu ada penghalang. Uang bisa diupayakan dengan berhemat atau ngutang di koperasi. Waktu kerja bisa diatur cutinya. Masalahnya teryata ada dalam diri saya sendiri. Dualisme yang berlawanan. Sejak kecil saya suka sekali membaca segala hal tentang dunia luar tentang alam, budaya dan cara hidup yang berwarna-warni. Buku-buku petualangan, segala macam dongeng, tontonan siaran-siaran budaya dan sejenisnya menjadi makanan kesukaan saya. Saya bermimpi bisa ke desa dengan buah rasberi liar di pegunungan eropa, minum coklat panas dan kue coklat, daging asap, menyentuh salju, topi bulu di Tiongkok, dan bahkan bermimpi pergi ke danau Rana Mese yang berjarak 16 km dari tempat tinggal. Di sisi lain saya punya ketakutan yang besar untuk keluar dari rumah dan lingkungan aman nyaman. Saya takut mabuk naik mobil, saya gemetar jika naik pesawat, perasaan melo jika kehujanan di tempat asing, gampang masuk angin, mabuk, pusing, merasa aneh di tengah orang banyak dan tidak kuatir kehabisan uang. Tidak ada keberanian untuk melawan dan tidak ada rasa percaya diri bahwa saya akan pulih dari penyakit kuatir itu. Ketika sudah menjadi ibu, hayalan tentang tempat lain menjadi-jadi bersamaan dengan rasa cemas yang kian besar untuk meninggalkan anak-anak. Karena urusan pekerjaan beberapa kali saya keluar kota dan pulau, tetapi rasanya tidak seperti bepergian yang kuhayalkan. Saya tidak menikmatinya, pikiran dan perasaan ada di rumah dan selalu ingin pulang. Dua puluh empat jam aku memikirkan anak-anak sekalipun sudah dipastikan mereka aman dan berada dalam asuhan orang yang tepat.

Secara halus keahlian berpetualang suamiku mulai berpengaruh padaku. Belum pulih dari sakit, saya masih cengeng dan rapuh; suamiku secara rutin mengajakku ke pantai, hutan, danau atau jalan-jalan di pinggir kota. Saya secara rutin juga mengeluh capek, pusing, mual, sedih, dan merasa tidak bisa gembira. Suamiku cuek saja dengan keluhan dan ulang-ualng berkata : “tidak apa, apa, nanti juga ilang”. Latihan bepergian pun dibudayakan. Jika mabuk, saya boleh turun dari mobil jalan-jalan, lompat, lari, mengajak berdiskusi tentang pohon ara langka atau bambu . Hal itu berulang tak terhitung sampai saya pelan-pelan melupakan mabuk saya. Anak-anak ikut diangkut sehingga saya lebih tenang mandi di laut tanpa rasa bersalah. Pertama kali keluar bersama anak, saya membawa nyaris seluruh isi dapur. Sejalan dengan pengetahuan berjalan dan seni berpikni, barang-barang bawaan mulai dikurangi.

Penyakit lainku adalah takut ketinggian, takut naik pesawat (padahal saya naik pesawat pertama kali kelas dua SMA, saat pesawat masih langka). Ketika sirene berbunyi, tanganku mulai berkeringat, bolak-balik melihat langit. Pesawat take off saya mencengkram kuat kursi dan sepanjang jalan tak berhenti berdoa. Goncang sedikit jantung saya melompat-lompat. Parahnya anak perempuanku tertular penyakit itu setahun terakhir dan saya jadi kerepotan. Tak bosan suamiku memberi keyakinan   betapa tak bermanfaatnya rasa cemas. Buku-buku terapi terbang say abaca, toh penyakit itu lama sekali hilangnya. Bagaimanapun karena satu dua urusan saya harus naik pesawat. Saya harus berlatih dan saya harus mengembalikan perasaan anak perempuan saya yang ikut-ikutan takut terbang sejak satu tahun terakhir.

Singkat cerita kita kembali ke soal melintas negara berdua. Maret 2015 setengah gugup aku sepakat ikut ke Eropa. Suamiku ada urusan pekerjaan dan saya akan membantu. Satu hal yang meyakinkan diri saya untuk ikut adalah: ziarah ke Gua Maria Lourdes, Perancis. Sebagai penikmat tradisi katolik tradisional, kisah Lourdes telah melekat di hatiku sejak aku kecil dan itu penting artinya bagiku. Seperti saudara/i muslim yang akan umroh atau naik haji, aku yakinkan diri bahwa ini adalah kewajibanku selagi aku bisa. “Apapun terjadi, terjadilah !” begitu doaku. Jadilah aku berangkat bersama suamiku setelah berdoa selama setahun-an berturut-turut.

Pesawat Qatar nampak dari jendela ruang tunggu. Aku mulai gugup dan ingat anak. Kehilangan selera makan. Hampir menangis saat petugas check in bilang kami akan duduk terpisah. Mana mungkin ? (untung bisa ditukar). Dua jam-an setelah keluar dari wilayah Indonesia aku menangis. Baju suamiku sampai basah karena air mataku. Aku rindu anakku, apa sih yang mau saya cari ? aku menyalahkan diriku. Makan tak enak, air mata tak berhenti mengalir. Beberapa jam kemudian, ternyata si cemas bosan sendiri. Saya mulai nonton film, menikmati lagu, minum jus dan baca-baca. Kemajuan, tetapi masih tersiksa. Sampai di Doha, agak pusing saya mulai menyesuaikan diri dengan hiruk pikuk tengah malam. Kasian suamiku kalau aku terusan cengeng begini.

Karena transit lebih dari 7 jam maka kami akan diinapkan di hotel. Lumayan bisa lihat sedikit kota Doha di luar airport. Front officernya bernama mas Joko dari Jawa Timur (Indonesia he he) . Melihat paspor kami, ia mendekat dan langsung bergosip layaknya seolah kami adalah teman lamanya. Ia bergosip tentang orang Indonesia yang dibodohin orang Arab, dan Orang Arab yang dibodohin orang Amrik. Lucu juga, lumayan mengobati pusingku. Sebagai hotel transit, bangunan itu termasuk mewah. Kamar tidur dan ruang tamunya hangat dan empuk. Produk mandi dan toiletries nya komplit, termasuk keperluan nge-teh dan ngopi. Pagi-pagi pukul tiga waktu Doha (kira-kira pukul dua siang wita) kami skype dengan anak-anak di rumah. Seluruh perasaan tak enakku langsung hilang sejak chatting dan melihat muka lucu Oca dan Iel. Bukannya bilang kangen mama, mereka malah minta laptop diarahkan ke seluruh ruangan dan jendela. Thank you technology.

Akhirnya perutku bernyanyi. Aku lapar dan di pesawat aku lahap semua makanan yang ternyata enak. Jus apel bergelas-gelas, makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup, snack. Nonton film, music, cerita-cerita, dan bagai mujizat, aku santai di pesawat. Sesekali berdiri, senam ringan dan jalan-jalan. Tak bisa tidur memang tapi bisa asyik sampai di Berlin. Berhubung ini kali pertama keluar negeri maka semangat norak ku tak terkendali. Bukannya malu, Suamiku malah senang: pertanda aku senang katanya. (Berbahagialah aku punya suami sedemikian he he). Pak Lubiger teman baik suamiku menjemput .

Sore pertama di Berlin kami berfoto ria di Brandenburger Tor . Gerbang Brandernburger atau Brandenburger Tor ini merupakan simbol pintu yang dahulu membatasi Jerman barat dan Jerman timur . Bagi penyuka jalan kaki area ini merupakan pilihan yang nyaman, aman dan cakep tentunya

Keesokan harinya : Saya suka semua hal pagi ini mulai dari saluran air, roti gandum, salami, susu, cereal, kiwi, kereta api, jalan kaki, orang-orang dan semuanya. Bagus saya termasuk pejalan kaki yang kuat. Jalan kaki di Berlin benar-benar menyenangkan. Dua hari saya ikut ke tempat kerja suami. Satu hari saya off karena ada teman dan bayinya yang bersedia menemani saya berkeliling kota. Kami ke museum island, taman kota, miniatur/ taman miniatur kuburan yahudi, berkeliling kota naik bis, ke mall, ke beberapa gereja tua dan sekitar kebun binatang. Sedikit iri; di Indonesia sulit sekali berkeliling sepanjang hari bersama bayi tanpa repot. Di sini semua fasilitas ibu-anak dan kaum berkebutuhan khusus tersedia di mana-mana. Pantas saja semangat traveling mereka tinggi karena sejak bayi sudah sering diajak pergi tanpa kerepotan. Saya kagum dengan semua itu dan tak henti-hentinya bersyukur. Bertiga kami naik kereta dari hotel menuju Pulau Museum (museum island / museuminsel). Berbeda dengan pulau biasanya yang berada di tengah/ di atas lautan maka Pulau Museum di Berlin adalah kawasan yang dikitari oleh sungai Spree. Pulau unik ini sengaja dibangun sebagai tempat perlindungan seni dan sains. Museuminsel memiliki karya seni berusia 6.000 tahun lamanya. Sebagai situs budaya dan arsitektural, UNESCO menetapkan Museuminsel sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1999. Lima museum penghuni pulau ini adalah Altes Museum, Neues Museum, Alte Nationalgalerie, Bode Museum, dan Pergamon Museum. Artefak-artefak yang dimiliki museum ini sebagian besar merupakan koleksi Kerajaan Prussia

8 Maret 2015 usai pameran: kami diundang dan dijemput keluarga Pak Roland ke Dresden (keluarga mereka pernah mengunjungi kami di Flores). Dresden adalah ibukota negara bagian Saxony, di Jerman bagian timur, berbatasan dengan Prague, Ceko. Waktu tempuh berkendara dari Berlin ke Dresden kurang lebih dua jam. On the way there saya senang bukan main melewati jalan yang bagus, ladang dan desa, hingga kota yang cakep. Seperti seorang anak kecil mulut saya ternganga karena ini dan itu dan juga bertanya macam-macam. Siang itu kami langsung naik ke gunung (istilah mereka) supaya saya bisa menyentuh salju (salju di kota sudah mencair). Tentu saja aku senang… sangat senang. Pedesaan Eropa (timur) dengan hutan homogen, pohon-pohon pinus dengan salju yang masih nampak. Kota-kota kecil dengan rumah-rumah seperti dalam buku-buku cerita, torang-orang lewat (tidak banyak), gereja-gereja kecil, mobil listrik, sungai dan semuanya menarik hatiku. Yang paling membuatku seperti berada di negeri impianku adalah ketika kami sampai di kota Altenberg Berhenti dan sungguhan: aku menyentuh, mencium dan menjilat salju ha ha ha. Benar aku menjilat salju. Oooo ternyata persis es serut. “ooooo ini toh namanya salju!’ Norak – norak nikmat. Toh yang liat cuman suamiku dan temannya yang malah ikutan senang .

Karena lapar kami masuk restaurant bercat cerah ceria lengkap dengan lukisan bunga liar, aneka buah beri, dan di halamannya patung gadis si tudung merah dan serigala. Aku senyum terus, senyum kesenangan. Coklat panas dan cake coklat di warung gaya eropa. Ada pasangan-pasangan manula ngobrol di warung itu. Setelah kenyang dan foto-foto kami ke tempat orang main ski. Ada keluarga dengan anak-anak mereka, ada juga o mom dan opa-opa. Cantik sekali.

Balik ke kota, kami langsung ke kompleks pusat bangunan bersejarah. Di pusat kota Dresden terdapat gereja protestan Frauenkirche, museum seni albertinum, Zwinger (istana Dresden), Gruenes Gewoelbe (kubah hijau-museum harta karun), gedung opera, galeri, dan katedraal yang indah. Saya sempat berdoa dan bahkan menerima komuni di Katedral Dresden yang saat itu sedang ada misa. Malamnya makan di rumah Bapak Ibu Lubiger yang baik hati. Selain sebagai karyawan perusahan obat terkemuka di dunia, Pak Lubiger adalah seorang fotografer profesional dan istrinya seorang guru TK. Anak mereka memiliki toko studio foto. Itu sebabnya foto-foto saya selalu bagus he he he. Keesokan paginya kami berdua bersama keluarga itu plus adik Nyonya Lubiger yang kebetulan berkunjung pergi ke sekolah tempat Bu Lubiger. Karena saya menyukai dunia anak, tentu saja itu mengasyikan bagiku.

Sungai Elbe, kastil, toko susu, toko bunga dan pedesaan.
Dresden sungguh kota yang cantik. Dibelah oleh sungai Elbe sepanjang 20 km, dikitari lereng, dan bangunan indah di sekitar sungai sungguh memikat mata, pikiran dan hati. Pak Roland dan adik iparnya mengantar kami ke kastil yang indah. Setelah itu kami ke Bastei National Park yanga dalah surga bapi penyuka panjat tebing dan hiking. Bastei adalah sebuah pegunungan batu  karang yang berada di ketinggian 194 m, terletak di sungai di Elbe Sandstone Mountains Jerman, daerah dekat Rathen. Bastei berada dalam  Saxon Switzerland National Park, dan merupakan land mark taman nasional ini. Saya sendiri agak ngeri berjalan di jembatan yang menghubungkan batu-batu yang menjulang tinggi ini, namun sangat menikmati pemandangan sekitar terutama sungai Elbe yang menghubungkan beberapa negara. Kadang-kadang lucu kalau saya ditinggal berdua dengan adik Bu Lubiger. Beliau tak bisa berbahasa Inggris dan saya Pulang ke kota dan kami dinner bersama di salah satu restaurant kota Dresden, tepat di sisi jembatan sungai Elbe. Manis .

Keesokan harinya kami terbang ke Dusseldorf dan Paris. Kami dijemput teman (yang kenalnya di FB) dan naik kereta. Rasanya agak berbeda dengan Berlin, beberapa kali ada pengemis di dalam kereta dan meskipun sangat sedikit terlihat juga sampah di luar sana. Langsung Menuju kompleks menara Eiffel karena katanya Paris adalah Eiffel. Kami melewati jalan-jalan ternama kota dengan gedung-gedung klasik megah. Malam hari kami makan di kaki lima dan suamiku kembali ke menara untuk foto Eiffel dan kota Paris malam hari. Saya di hotel aja tak sabar menanti datangnya esok. Sedikit tentang menara Eiffel, untuk ukuran kota besar ini, eiffel sebenatnya hanya sebuah bangunan yang disusun dari 18.083 keping besi diundak-undak untuk mengenang seabad revolusi Perancis. Mengapa sedemikian popular? Mungkin aroma cinta dan romantisme yang dihembuskan dan yang disimbolkannya. Menara ini menjadi semacam ikon keanggunan Paris baik bangunan fisik, maupun gaya hidup serta sudut pandang masyarakatnya. Pada malam hari menara yang terletak di Taman Champ de Mars Paris ini terlihat cantik dengan lampu-lampu yang ditata sedemikian rupa. Keindahan kota Paris juga bisa dinikmati dari atas menara.

Pagi yang dinanti pun datang. Terbang sejam Paris- Lourdes tak terasa. Kami tiba di kota kecil di bawah gunung Pyrenee dan saya bersemangat sekali. Usai sarapan kami berjalan kaki ke Grotto, tempat ibadah Katolik dengan Gua Maria dan sumber air suci yang terkenal itu. Tak mungkin tersesat karena kota ini kecil, dengan jalan-jalan yang tidak bisa dibilang lebar. Masuk ke kawasan Gereja dan Gua, air mataku mulai mengalir. Bunda Maria kami sudah sampai. Separuh hari kami berdoa dan berkeliling di sana. Menikmati doa di sana. Aku mengingat setiap langkah, setiap yang terlihat dan dirasakan di sana. Aku selalu terkenang dan terharu setiap mengingatnta. (detail pengalaman spiritual kukisahkan tersendiri) .

Pada hari yang sama kami berkesempatan ke kastil, bekas benteng dan rumah bangsawan di bukit yang telah menjadi museum. Dari sana kami mendapatkan gambar yang bagus kompleks grotto dan kota Lourdes. Kami juga mendapatkan cerita tentang kehidupan warga kota ini dari abad kea bad. Terekam rapi sekali. Puas berkeliling, dengan santai kami berjalan kaki ke gereja kota dan sempat berdoa di sana.

Hari kedua di Lourdes : kami kembali ke Grotto dan menjalankan semua ritual ibadah kami. Hatiku tenteram, terharu, bersyukur dan semua-mua yang baik. Seperti mimpi:misi ziarah tercapai. Aku mencariNya dan Ia memberikan lebih dari yang kuharapkan. Lonceng lagu Ave Maria yang berdentang setiap 15 menit bikin hati merindu. Sampai malam kami menikmati suasana doa di kompleks Grotto.

Esoknya kami balik ke kota Paris, dan berkesempatan berjalan-jalan bersama teman (orang Perancis yang pernah lama tinggal di Flores). Bagaikan pemain sinetron, aku berlenggak lenggok tak lelah di tepian sungai Seine. Paris yang megah dan anggun. Seperti kebanyakan pengunjung kami mengunjungi tempat-tempat poluler berikut ini :

  • Arch de Triomphe, sebuah gapura, gerbang yang dibangun tahun 1806 untuk mengenang kemenangan Napoleon. Letaknya di bundaran Place Charles de Gaulle di ujung jalan Champs- Elysees Arch de Triomphe dihiasi aneka patung dan relief yang menggambarkan perang Napoleon. Kita bisa naik di atasnya dan melihat jalan-jalan di Paris di sekitar tempat itu;
  • Alun-alun kota yang keren Place Della Concorde, katanya berbentuk oktagonal , terletak antara Tuileries Garden dan Champ Elysee. Alun-alun luas ini dihiasi berbagai karya seni dan dikelilingi sejumlah bangunan penting.
  • Museum Louvre (mesee du Louvre) merupakan museum terkenal dan terbesar di dunia bekas istana kerajaan Perancis. Lebih dari delapan juta orang mengunjungi museum ini setiap tahun (mungkin kami tidak termasuk karena cuma keliling-keliling di halamannya). Ada 380 ribu item yang dipamerkan di museum ini termasuk lukisan monalisa karya Leonardo da Vinci. Pintu utama memasuki museum adalah piramida kaca yang dikenal dengan sebutan Louvre Pyramid dengan disain modern yang kontras dengan bangunan museum yang klasik. Di bawah piramida kaca ini dibuat lagi piramida terbalik (inverted pyramid) sebagai bayangan piramida Louvre.
  • Notre Dame de Paris atau Katedral Notre Dame Paris merupakan gereja yang paling terkenal di Paris. Saya memuja bangunan bergaya gothic ini pada setiap detailnya. Ukiran-ukiran sempurna di setiap dindingnya : kisah orang-orang kudus, para malaikant dan isi kitab suci dilukis dan diukir. Interior gereja sangat indah. Yang paling saya sukai adalah bahwa orang-orang masih berdoa di dalamnya. Saat kami berkunjung, sedang ada kebaktian di sana. Orang-orang duduk mengikuti misa dan para turis berkeliling dengan tenang di sekitar tempat duduk. Saya malah melihat banyak turis berpakaian seperti orang-orang Timur Tengah. Sebagai orang Katolik saya sempatkan diri mengambil waktu, menyalakan lilin dan berdoa di sini. (berkali-kali terima kasih ya Tuhan). Di belakang katedral terdapat taman indah yang pada saat itu ramai dikunjungi warga bersama keluarga mereka.
  • Sungai Seine dan gembok cinta. Kami sangat menikmati jalan-jalan di tepi sungai di bawah jembatan indah ini sambil ngobrol memandang kapal-kapal turis melewati sungai ini. Ada juga pedagang-pedagang kaki lima, pengamen dan orang-orang hilir mudik. Betaah. Ada yang menarik lagi,yakni gembok warna-warni bergambar love dan bertuliskan nama orang berderet rapi pada dinding jembatan. Gembok cinta warna warni ini menggambarkan kesetian sepasang kekasih yang hatinya terkunci untuk orang lain, hanya untuk pasangannya. Ceileee. Teman bertanya apakah saya mau memasang gembok cinta di situ ? saya jawab: gembok cintanya sudah dipasang di katedral Ruteng belasan tahun lalu ha ha ha
  • Gereja tua, air mancur kota, dan lorong-lorong. Bagian ini juga saya suka. Kami ke sebuah gereja yang sudah sangat tua. Pada saat itu ada upacara misah arwah. Kami turut berdoa sejenak. Saya juga tak bosan berjalan di lorong-lorong. Semuanya bersih, rapid an artistik. Sempat membeli semacam kue terang bulan rasa keju sebagai camilan.

 

Ternyata pergi jauh itu menakjubkan. Saya hampir lupa dengan kuatir dan cemas. Namun tak bisa disangkal aku rindu rumah dan terutama anak-anakku. Kali ini, waktu berdua di benua eropa sudah selesai . Mimpiku ke Lourdes menjadi nyata bahkan Tuhan memberikan lebih dari impianku.

Tentang berdua : ada di tempat yang jauh dari rumah berdua bersama suami mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemesraan. Kami berdua sebagai sepasang kekasih, sebagai adik dan kakak, sebagai sahabat menjadi semakin dekat satu sama lain. Kami tetap membicarakan anak-anak dan keluarga. Kami berkesempatan mencurahkan diri secara pribadi, jujur dan tulus. Kami bertengkar lalu berbaikan.

6 thoughts on “BERDUA; MELINTAS BENUA

  1. Keren abis….sangat inspiratip cerita dan pengalaman ini bikin kita ikut bermimpi, semoga suatu saat nanti kalau tidak bisa ikut minum coklat panas di eropa atau ikut misa di katedral notre dame paris atau ke lourdes paling tidak komodo pulau rinca dan sano nggoang,sebab yg terdekat saja belum semua bisa di datangi selain sulit mendapat pinjaman di koperasi atau menunggu tabungan menggunung saya juga suka mabuk kecuali nyetir sendiri dan paling takut naik pesawat karena takut kalau2 pesawatnya jatuh meskipun akhirnya naik pesawat juga….salam sejahtera dan terimakasih ceritanya membuat tidur jadi bermimpi indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *