BARANGKALI KARENA AKU TELAH MENYUSUI MEREKA

Tentu saja aku punya banyak cerita tentang kedua anak kandungku, Rosmaria dan Yehezkiel. Namun aku tak mungkin mengesampingkan kisah anak-anak lain yang masuk dalam kehidupanku, anak-anak yang tidak kulahirkan namun melekat erat pada hidupku. Bukan anak tiri, sebab aku hanya menikah sekali dengan pria single. Salah satu cerita itu adalah tentang anak-anak se-susu dengan anak-anakku.

Seperti tahun-tahun yang berlalu, setiap liburan sekolah rumahku sangat berisik dengan suara anak-anakku. Aku dan suamiku bagai kakek dan nenek yang dikunjungi cucu-cucunya yang datang berlibur. Dengan atau tanpa restuku tetap saja setiap liburan anak-anak itu berkerumun di rumahku. Empat atau lima dari luar kota, dan dengan kedatangan mereka para keponakan dan sepupu kecil yang sekota denganku pasti akan merapat. Bayangkan ada delapan sampai dengan dua belas anak berjejal di rumahku. Kantor suamiku yang berada di loteng pun tak mungkin lepas dari efek-efeknya. Sekalipun sesekali kesal dan marah, aku dan suamiku serta tante-tante di rumah tak ada yang tega mengusir mereka. Senyum, seringai dan kelucuan mereka selalu sanggup meluluhkan emosi kami orang dewasa.

Bukan hanya di rumah anak-anak itu nempel terus. Mereka kerap mengikuti aku ke mana-mana, karena kuminta maupun karena mereka merengek: ke kampus, ke pasar, ke kebun, salon, arisan, ke hajatan tetangga, ke lapangan olah raga, apalagi ke pantai. Pada suamiku mereka lebih mudah membujuk sehingga mendapatkan jajanan, mainan atau ‘nebeng’ jika ada pertemuan dengan klien (tamu-tamu kami). Anak-anakku hapal jadwal tetapku, hari-hari aku mengajar, siapa sahabatku, makanan  kesukaan, penyakitku, giliran arisan hingga gosip yang aku obrolan dengan teman-temanku.

Dua kakak beradik yang hampir pasti berada di rumahku setiap liburan adalah Gabriela dan Paula. Aku dan ibu mereka adalah saudara sepupu. Si Gabriela usianya sebelas bulan lebih tua dari putri sulungku. Pada saat kami menikah bayi Gabriela tertidur nyenyak terbungkus baju pengantin satinku. Hubunganku dengan si bayi Gabriela bertambah erat saat aku hamil. Dia penghibur penting saat aku si calon ibu tergoda untuk mengeluh karena lelah mual dan muntah. Jika aku lelah karena sepanjang hari mabuk kehamilan, sepupuku akan membawa Gabriela ke rumahku bahkan menginap.Dia pembawa semangat dan kegembiraan.

Saat kelahiran putriku yang lebih cepat dua minggu dari perkiraan, si Gabriela tetap ada di dekatku, menempel di dadaku. Saat itu Air Susu Ibu (ASI)-ku sangat berlimpah dan bagus kualitasnya. Aku harus membuang sebagian apabila putriku kenyang. Mata si Gabriela akan memandangku sepanjang aku menyusui anakku sendiri dan pada saat menampung ASI yang masih mengucur untuk dibuang. Ibu si Gabriela sendiri ASI-nya sangat sedikit sehingga Gabriela harus ditopang susu formula, susu dari ibu sapi. Tatapannya yang terus menempel itulah yang meyakinkan aku dan ibunya dan dimulailah : aku menjadi ibunya yang sungguhan. Aku menyusui Gabriela secara teratur setiap kali putriku selesai. Aku menyusui dua bayi selama setahun. Bayi-bayi itu senang dan tentu saja menjadi sehat dan tubuhku lebih enteng dan cepat kembali seksi (he he he).

Usia Gabriela dua puluh sembilan bulan saat  (telah disapih) ia mendapatkan adik baru yang manis (dia tetap manis hingga kini) yang diberi nama Paula. Waktu itu aku masih menyusui putriku (hingga dua tahun) dan ASI –ku masih melimpah. Pagi-pagi aku ke klinik mengunjungi Paula dan Ibunya. Bayi Paula cantik sekali. Bayi itu seharusnya sudah disusui, sayangnya ASI ibunya belum juga keluar (pada kelahiran kakaknya ASI ibunya baru keluar setelah hari keempat). Dan benar saja, aku bisa menobatkan diri sebagai pengunjung paling spesial. Bayi Paula menempel di dadaku dan aku menyusuinya.  Begitulah, hari pertama akulah ibunya. Meskipun hanya sekali itu dia kususui, rupanya jiwaku juga turut mengalir di dalam dirinya.

Putri kandungku, Gabriel dan Paula para putri susu-ku bertumbuh besar bersama dengan gambaran masing-masing. Gabriela gadis tomboy, jauh dari kesan feminine, agak jorok, kadang-kadang berkelahi dan suka kagum pada binatang liar. Paula, si nona cantik dan sangat cerewet. Pada usianya yang hampir sepuluh tahun anak itu sudah pandai mengurus dapur: memasak dan beres-beres tanpa intervensi orang dewasa. Putriku sendiri mewarisi sifat kasual ayahnya. Bertalenta namun tak suka tampil, malas menyisir rambut namun suka mendandani Paula.

Bersama para sepupu mereka yang lain, Gabriela, Paula dan Rosmaria membentuk paduan suara. Rosmaria dan Michele adalah pemain music (mereka dua memainkan organ dengan sangat indah), Gabriela berperan sebagi solis tunggal, Paula dan Lala selaku penyanyi dan penata gaya ditambah anggota lain yakni putraku Yehezkiel dan sepupunya Jose, Claudia dan Marisa.

Aku menulis ini siang hari di ruang keluarga tepat di depan kamar anak-anak. Ya kali ini aku menjadi polisi, kukurung mereka di kamar agar tidur siang (semalam mereka tidur larut karena mengunjungi pameran). Sejam sudah tetapi bisik-bisik dari dalam kamar masih terdengar.

“Mengapa belum tidur ?” terpaksa pintu kubuka

“Tidak bisa tidur !” serentak mereka menjawab.

“Kami takut Mama Lila pergi olah raga di estekip sendiri, tidak ajak kami!” Rosmaria menjelaskan, dan yang lain mengiyakan. Memandangku dalam-dalam seperti memohon belas kasihan.

“Ya Tuhan!” gumanku dalam hati.

Ya ya… barangkali karena aku telah menyusui mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *