Berlin - Jerman

APA YANG ENGKAU RINDUKAN DARI KOTA BERLIN

APA YANG ENGKAU RINDUKAN DARI KOTA BERLIN : BERJALAN KAKI

Apa yang paling kau rindukan dari kota Berlin? Temanku menjawab : berjalan kaki. Aku juga sepakat. Sebagai penyuka jalan kaki, aku jatuh cinta pada suasana jalan kaki di Berlin. Lenggak lenggok nyaman dengan tas di punggung. Ruas jalan untuk pejalan kaki lebih lebar dari jalan untuk kendaraan. Menyeberang jalan juga gampang (saya takut nyeberang di Jakarta, Surabaya dan Denpasar) karena lampu lalu lintas ada di setiap beberapa meter (repotnya buat pengendara mobil), dan pengendara mobil otomatis berhenti jika ada yanag menyeberang. Sanitasi lingkungan juga terjaga, bersih dan sangat bersih.

Dua tahun lalu saya berkeliling kota bersama seorang teman dan bayinya yang berusia setahunan. Jalan kaki, naik turun bis, kereta, jalan kaki lagi mulai jam 8 pagi hingga jam 5 sore sama sekali tak apa-apa buat si bayi apalagi kami berdua yang dewasa. Jalur pejalan bukan hanya ramah untuk orang dewasa umumnya tetapi juga untuk anak, bayi dan teman-teman yang berkeadaan khusus. Pengguna kursi roda, kereta-kereta bayi dengan leluasa berdampingan dengan pejalan kaki lainnya. Bersih, nyaman, taman kota tempat beristirahat, angkutan umum yang juga nyaman untuk semua kalangan. Di pusat-pusat perbelanjaan, restoran, taman disediakan tempat khusus untuk ibu menyusui, ruang ganti popok yang bersih dan kursi bayi. Kami berkeliling menikmati fasilitas umum dengan nyaman dan murah. #kapanindonesiabegini

Bulan Maret 2017 ini saya kembali berkeliling kota Berlin dengan seorang teman. Seperti teman dua tahun lalu dia agak memuji : “wah jarang-jarang lho ada perempuan dari Indonesia yang gak ngeluh jalan sejauh ini. Biasanya dikit dikit naik taxi”. “Tentu saja!” aku membatin sombong. I am a Mom with strong legs (he he he). Ya ia lah, lingkungannya asyik buat jalan-jalan, jadilah saya lupa pada capek.

Ke mana berjalan? Yuk ikuti saya dan teman saya mengunjungi beberapa tempat menarik di Kota Berlin.

Bagi orang yang pertama kali ke negara lain segala hal bisa nampak menarik. Pernah teman saya asal Jerman ketika pertama kali ke Indonesia memotret segala hal: kambing makan rumput di lapangan bola, orang menjemur pakaian di pagar, jamban, pedagang kaki lima dan hal-hal ‘biasa’. Katanya itu sangat menarik. Nah giliran saya ketika mengingjakan kaki di Jerman. Saya suka dengan bangku taman, saya terpana dengan kereta bawah tanah, melonjak kegiarangan melihat salju, bahkan penuh tanda Tanya tentang saluran air. Semua menarik. Ketika ditanya apa yang menarik di Berlin tak perlu berpikir saya menjawab jujur: semuanya. Makanya ketika diajak berjalan-jalan seputar Berlin saya tak berhenti tersenyum senang, kagum sampai mulut sulit ditutup.

Berlin adalah ibu kota Jerman, sebuah negara di Eropa Tengah. Selain sebagai kota besar, Berlin juga merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan Jerman. Pertama kali melihat Berlin dari udara aku mengucak-ngucak mata. Di luar dugaanku. Aku membayangkan Jakarta, Surabaya, Denpasar : padat, sumpek, sibuk. Tidak terlalu banyak pencakar langit, rapi, bersih. Langsung betah.

Meskipun saya suka segala hal termasuk mesin untuk membeli jajanan, mungkin anda tidak. Baiklah saya omong tempat yang ada di buku-buku atau media brosur wisata saja. Biar ke orang-orang he he he. Lagian setiap kali pulang dari Berlin orang-orang pada nanya : udah ke Branderburger Tor belum ? Tak ada yang nanya : di sana got nya gimana ?

Saya mulai dari kawasan kota lama Berlin. Di sana ada gereja tertua yang dikaitkan dengan sejarah lahirnya Berlin yakni Gereja St. Nicholas yang didirikan kira-kira tahun 1230. Gereja ini sudah dijadikan museum, tidak lagi dipakai sebagai tempat ibadah. Untuk masuk kita perlu membeli tiket dan diberikan seperangkat alat audio yang memperdengarkan penjelasan hal ikhwal gereja. Suasana khas tempat ibadah masih terasa meskipun gereja ini sudah menjadi museum. Aku suka interior gereja, tiang dan patung-patung malaikat. Juga bangku-bangku dan sudut-sudut doa. Tentu saja saya mengambil waktu sejenak dan berdoa. Di sekeliling gereja berwarna coklat kemerahan ini terdapat bangunan-bangunan bergaya dahulu.

Teman saya membawa saya juga ke gereja lain yang terpotong menaranya. Di bagian luar gereja terdapat bekas-bekas peluru perang. Konon gereja yang aku lupa namanya itu (lihat di foto dan cari sendiri namanya di google …. He he he ) menjadi salah satu bangunan yang sebagian besarnya masih selamat dari keruntuhan perang. Aku juga menyukai suasana tenteram di dalam gereja. Meskipun sudah jadi museum di dalam gereja tersedia lilin doa dan sekali lagi aku berkesempatan berdoa. Sayang di dalam gereja atak diperbolehkan memotret.

Tak jauh dari si gereja dengan menara terpotong terdapat kebun binatang (saying waktu aku ke sana masih tutup) dan pusat perbelanjaan. Yang menarik dari salah satu mall (kami masuk mall karena si bayi mesti diganti popoknya) adalah jam air raksa hijau dengan bola-bola yang menggambarkan jam, menit dan detik. Aku juga suka.

Saatnya ke Museum Island (museuminsel). Ini adalah nama kawasan di bagian utara sungai Spress kota Berlin. Di sana terdapat lima museum besar, anggun, mewah, artisik, pokoknya BAGUUUUSSS. Konon seorang arkeolog bernama Aloys Hirt yang menawarkan ide pembangunan museum itu dan ide cemerlang tersebut diwujudkan oleh seseorang bernama Schinkle pada tahun 1823 – 1830. Lima museum ini memuat ribuan koleksi seni dan arkeologi serta peninggalan budaya. Saat ini, museum ini dikelola oleh Yayasan Warisan Budaya Prusia yang berkantor cabang di Berlin. Karena waktu yang terbatas, saya hanya menikmati dari luar, itupun tak mengurangi decak kagum dari mulut saya. Kelima museum tertua di Jerman tersebut bernama :Altes Museum (Old Museum), Neues Museum (New Museum), Alte Nationalgalerie (Old National Gallery), Bode Museum, dan Pergamon Museum.

Reichstag/ gedung parlemen. Bayangkan kita berwisata (bukan berdemo) di kantor DPR senayan Jakarta). Yang ada di pikiran saya mungkin para penjaga yang akan bertanya : mau bertemu siapa Mbak ? Apa yang akan terjadi kalau saya menjawab : “sekedar jalan-jalan, Mas!” atau “mau selfi di air mancur Pak!” (semoga pikiran buruk saya salah, amin). Nah kalau kita datang ke kawasan gedung parlemen Jerman saya pastikan Anda senang. Letaknya di pusat kota Berlin (gedung DPR kan selalu jadi penanda sesuatu adalah   pusat kota, bukan ?). Halamannya luas dan orang-orang lalulalang di sana. Ada rombongan pelajar yang belajar sejarah, ada rombongan tur dari berbagai kota dan negara, ada nenek-nenek menenteng tas, tak sedikit orang berselfi ria (termasuk diriku), dan juga orang-orang berseragam formal mentereng kaku. Aku suka. Gedung keren bergaya renaisanss di depan mata menjadi hidup karenanya. Konon dana pembangunan Reichstag pada tahun 1894 diperoleh dari kemenangan Jerman atas perancis saat perang dulu. Perubahan dan perbaikan setelahnya dilakukan dengan mempertahankan bentuk dasar gedung. Beberapa musisi besar dunia pernah mengadakan konser di halaman Reichstag ini. (pernahkah   ada konser music di halaman gedung DPR Senayan?).

Saatnya berkemas ke Brandenburger Tor. Gerbang bersejarah lambing penyatuan berlin Barat dan berlin Timur ini ini terletak di Parizer Plat. Gerbang ini dibangun pada abad ke-18 sebagai gerbang masuk kota Brandenburg an der Havel, atau yang lebih dikenal sebagai kota Brandenburg. Selain memang cakep secara arsitektur keindahan Branderburger Tor ini menjadi hidup dan berkilau karena sejarah dan semangat yang disimbolkannya yakni lambang perdamaian setelah runtuhnya tembok berlin yang mengakhiri pembagian Jerman Barat dan jerman Timur. Di bagian atas gerbang terdapat ikon kereta kuda. Temanku bilang kereta kuda ini mengisahkan kepercayaan rakyat Jerman akan seorang dewi kemenangan bernama Victoria yang mengendarai kereta tersebut. Pada masa pemerintahan Napoleon Bonaparte, kereta Victoria ini sempat dibawa ke Perancis namun dikembalikan ke gerbang saat Perancis dikalahkan Jerman.

Omong tentang Jerman pasti mengingatkan kita pada kisah zaman Nazi. Ini dihayati sebagai sebuah kisah kepedihan. Monumen Holocaust Mahnmal dibangun untuk mengenang para korban kekejaman masa Nazi. Di tempat yang beratmosfir Kuburan ini (mungkin ) terdapat  2711 balok beton (symbol nisan/kuburan). Jutaan orang telah mengunjungi monument ini untuk berziarah, mendoakan para korban atau sekedar mengetahui sejarah pembantaian kaum Yahudi di Eropa. Berhubung saya mudah terbawa pada kisah-kisah sedih maka setelah berfoto saya segera mengajak si teman menyeberang jalan dan menikmati taman Tiengarden (hutan kota-nya berlin).

Mau lihat sisa-sia tembok Berlin?  Yuk ke tempat bernama Postdamer Platz. Selain foto-foto ambil waktu sejenak untuk baca-baca informasi mengenai sejarah tembok Berlin yang ada di sana. Tembok Berlin merupakan pembatas beton yang dibangun oleh pemerintahan Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) dahulu kala untuk memisahkan Berlin Barat dan Berlin timur. Tembok ini mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus 1961 yang dilengkapi dengan menara penjaga sepanjang sisi tembok yang diisi dengan ranjau anti kendaraan. Jerman Timur menyatakan tembok ini dibangun untuk melindungi warganya dari elemen fasis yang bisa memicu gerakan pemberontakan, sehingga pemerintah Jerman Timur bisa membentuk sistem komunis di Jerman Timur. Tembok ini menjadi saksi bisu banyaknya warga Jerman Timur yang temas karena nekad menyeberangi tembok karena tak tahan tak tahan dengan pemerintahan yang kejam. Tembok ini saat ini sudah diruntuhkan pada tahun 1990 saat Jerman bersatu dan sisa reruntuhannya menjadi landmark sejarah kota Berlin. Silahkan berfoto di salah satu dari tiga bagian tembok yang sering dikunjungi wisatawan yakni east side gallery, Berlin Wall memorial, dan Checkpoint Charlie yang merupakan spot lintasan Jerman Barat dan Timur.

Saya suka berfoto di depannya (dua kali ke sana tak sempat masuk). Bangunan ini sangat menawan, anggun, megah. Atapnya yang berbentuk kubah berwarna biru kehijauan (atau hijau kebiru-biruan), dengan sekujur bangunan bergaya renaisanss, terletak di tepi sungai. Betah berlama-lama saya duduk bulan lalu bersama teman di sebuah bangku taman persis depannya. Berliner Dom atau Katedral Berlin yang terletak di Mitte adalah bangunan gereja Kristen Protestan terbesar di Berlin. Pembangunannya yang dimulai tahun 1465 memakan waktu 440 tahun (selesai tahun 1905). Oya, mungkin penting diketahui : di halaman sering ada pengemis yang lewat dan memberikan sepotong kertas pada pengunjung sambil bertanya: Do you speak English ? Setelah mendapat penjelasan logis dari teman yang sudah lama di Jerman, saya dianjurkan langsung menggelengkan kepala. Begitu juga orang-orang yang datang dengan modus meminta mengisi lembaran survei. Mereka adalah para pengemis dan ‘penipu’ yang sering menjadi masalah bagi petugas keamanan setempat karena cukup lihai dan bandel.

Selain museum dan gedung-gedung, saya jatuh cinta pada Sungar Spree. Panjangnya 400 km mengairi wilayah Jerman dan republic Ceko. Saya hanya mengenal bagian sungai di sekitar museum island. Saya menikmati pemandangan sungai tanpa sampah dan kapal-kapal wisatawan yang hilir mudik. Nice.

Masih banyak tempat bersejarah dan menjadi tempat wisata popular di Berlin. Sekali lagi bagi saya yang baru dua kali ke Berlin, selain tempat popular yang menjadi landmark kota Berlin tersebut, masih banyak hal menarik. Pasar seni setiap sabtu di tepi sungai di depan Berliner Dom, kereta bawah tanah, salami, pabrik bir, toko bunga, jalan-jalan kota, kafe dan restaurant semuanya menarik. Terima kasih untuk perbedaan di setiap belahan bumi, membuat hidup berwarna.

Willkommen in Berlin !

“I still keep a suitcase in Berlin.” (Line from a 1957 song by Marlene Dietrich)

One thought on “APA YANG ENGKAU RINDUKAN DARI KOTA BERLIN

  1. Ka lil..bahagianya sdh bisa ke berlin..
    Lepas dari itu, dari cerita kak lila orang sana menghargai sekali pejalan kaki ya, kalau di indo, kita cenderung dianggap terlalu hemat, bikin susah diri, dan simbol ketakberpunyaan..
    Kita dan mereka di sana sangat berbeda ya standar of prosperity nya..
    Kalau saya sih cuek saja, lbh bnyak untung jalan kaki, sehat, murah, dan lbh byk yang dilihat hehehehe..
    Btw senang ka lil menulis lagi.. tetap semangat ya kak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *